Probolinggo, Optimaise News – Menko PMK Pratikno pada Selasa (11/8/2026) menegaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk padamkan kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, belum bisa dijalankan. Kendalanya tegas: awan yang memadai belum tersedia, sementara water bombing BNPB terus digencarkan dan titik api sudah menyusut drastis.
Inti artikel
- Kendalanya tegas: awan yang memadai belum tersedia, sementara water bombing BNPB terus digencarkan dan titik api sudah menyusut drastis
- Pratikno blak-blakan saat dihubungi wartawan
- “Ya problemnya di Bromo OMC sementara ini enggak bisa jalan karena memang tidak ada awan,” katanya
Dalam rangkuman Optimaise News, Menko PMK Ungkap Kendala Modifikasi Cuaca untuk Padamkan Kebakaran Bromo berangkat dari kunjungan lapangan ke Probolinggo, rapat koordinasi dengan Sekda Pemprov Jatim, bupati, dan Danrem, serta target pusat agar api segera padam. Prediksi BMKG-BNPB menyebut peluang awan baru sekitar empat hari ke depan.
Tanpa awan cukup, operasi modifikasi cuaca Bromo belukan jalan
Pratikno blak-blakan saat dihubungi wartawan. “Ya problemnya di Bromo OMC sementara ini enggak bisa jalan karena memang tidak ada awan,” katanya. OMC butuh benih hujan pada massa awan yang cukup; tanpa itu, penyemaian tidak efektif.
Pemerintah tetap memantau titik api agar kobaran tidak meluas lagi. Status OMC ditahan dulu, bukan dibatalkan permanen. Fokus sementara di udara lewat water bombing dan di darat lewat satgas gabungan.
Ramalan empat hari: peluang hujan buatan mulai terbuka
Berdasarkan prediksi cuaca yang disampaikan Pratikno, awan diperkirakan mulai muncul di kawasan Bromo dalam empat hari ke depan. “Kita perkirakan kalau sesuai dengan ramalan empat hari lagi ada awan untuk bisa OMC. OMC kita jalankan sejauh ada awan yang memadai,” ujarnya.
Sinkronisasi timeline menjadi kunci. Water bombing jalan sekarang, OMC menyusul jika syarat awan terpenuhi. Tujuannya memastikan kebakaran Bromo segera padam Menko PMK dengan lapisan basah di area rawan, bukan hanya padamkan lidah api yang sudah terlihat.
Titik api tersisa dua, BNPB andalkan water bombing
Saat puncak, terekam puluhan titik. Pratikno menyebut, “Memang ada 36 titik kebakaran, paling puncaknya yang lalu ini tadi masih ada dua titik api.” Versi kunjungan di Probolinggo menyebut perjalanan dari sekitar 34 titik ke sisa dua yang masih harus dipadamkan.
BNPB mengerahkan water bombing untuk membantu pemadaman di medan terjal yang sulit dijangkau satgas darat. Pemerintah pusat terus memantau agar sisa kobaran tidak menjalar. Luas terdampak di laporan terkait sempat disebut nyaris 900 hektare, sehingga sisa dua titik tetap direspons serius.
Kawasan wisata TNBTS ditutup total sejak 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB lewat surat edaran Balai Besar. Pintu Cemorolawang (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Jemplang dan Coban Trisula (Malang), serta Senduro (Lumajang) ditutup. Wisatawan yang sudah beli tiket daring bisa reschedule atau refund lewat formulir pengelola.
Peran daerah dan koordinasi multi-wilayah karhutla
Pratikno mengingatkan Presiden Prabowo memberi perhatian serius agar api padam secepat mungkin. Seluruh unsur diminta kerja keras. Energi nasional, kata dia, tersebar karena update bencana harian di Sumatera, Kalimantan, plus banjir di Aceh dan Sumatera Barat.
Ia minta pemerintah daerah bersama TNI dan Polri memperkuat kapasitas penanganan kebakaran di wilayah masing-masing. Pusat tetap mendukung, tetapi daerah harus bergerak cepat di lapangan, mengatur pos pengisian air dan bahan bakar, serta berinovasi metode yang lebih efisien.
Optimaise News mencatat dari keterangan narasumber bahwa apresiasi juga disampaikan kepada Sekda, bupati, Danrem, Kapolres, dan BNPB yang sudah digelar di lokasi. Monitor agar api tidak meluas sambil menunggu kondisi awan menjadi bagian dari disiplin operasional harian.
Pantauan El Nino dan antisipasi kekeringan lanjutan
Pratikno mengingatkan El Nino masih berlanjut minimal 1,5 bulan lagi dan kekeringan belum mencapai puncak. Risiko karhutla di area rawan lain bisa naik. Pemadaman saja tidak cukup: lahan rawan perlu dibasahi, masyarakat dan wisatawan diajak berhati-hati dengan api.
Mitigasi mencakup perbaikan infrastruktur seperti pipa air yang rusak, pemulihan kebutuhan dasar warga, dan dorongan aktivitas ekonomi setempat. Kerangka utuh hari ini: OMC tertunda tanpa awan, dua titik tersisa, water bombing aktif, wisata ditutup, Pemda-TNI-Polri diperkuat, dan El Nino dipantau agar titik baru tidak muncul sambil menunggu jendela empat hari untuk hujan buatan.







