Setelah tujuh tahun naik terus sejak 2017, perputaran dana judi online (judol) di Indonesia mencatat titik balik historis pada 2025. Perputaran Dana Judol Turun hingga Rp286,84 Triliun di tahun itu, turun sekitar 20 persen dari rekor Rp359,81 triliun pada 2024.
Inti artikel
- Setelah tujuh tahun naik terus sejak 2017, perputaran dana judi online (judol) di Indonesia mencatat titik balik historis pada 2025
- Perputaran Dana Judol Turun hingga Rp286,84 Triliun di tahun itu, turun sekitar 20 persen dari rekor Rp359,81 triliun pada 2024
- Pelaku beradaptasi lewat QRIS dominan, nominal kecil, dan merchant fiktif
Pelaku beradaptasi lewat QRIS dominan, nominal kecil, dan merchant fiktif. Namun penindakan ikut menguat: 5.762 rekening dihentikan sementara dan ratusan miliar aset dirampas. Optimaise News merangkum alur lengkap dari tren historis hingga capaian penegakan hukum.
Titik Balik 2025: Perputaran Anjlok setelah Rekor 2024
Sejak 2017 yang hanya Rp2,01 triliun, aliran dana judol naik stabil tiap tahun. Puncaknya tercapai di 2024. Tahun 2025 menjadi kali pertama penurunan tercatat.
PPATK Sebut Perputaran Dana Judol Turun 20 Persen sebagai momen bersejarah. Data kuartal I 2026 masih menunjukkan sisa aliran Rp40,3 triliun dengan deposit Rp10,59 triliun. Sintesis timeline 2017 hingga awal 2026 memperlihatkan puncak, koreksi, dan sisa dana yang belum habis.
| Periode | Perputaran Dana | Deposit |
|---|---|---|
| 2017 | Rp2,01 triliun | – |
| 2024 | Rp359,81 triliun | Rp51,3 triliun |
| 2025 | Rp286,84 triliun | Rp36,01 triliun |
| Kuartal I 2026 | Rp40,3 triliun | Rp10,59 triliun |
Deposit Susut Lebih Tajam, Pola Transaksi Makin Pecah-Pecah

Nilai deposit turun lebih dalam secara proporsional dibanding total perputaran. Dari Rp51,3 triliun di 2024, deposit 2025 tinggal Rp36,01 triliun. Penurunan ini hampir 30 persen, lebih tajam dari koreksi perputaran yang 20 persen.
Transaksi pecah-pecah jadi pola baru. Nominal kecil tersebar ke banyak rekening agar sulit dilacak. Tekanan di sisi setoran ini jadi sinyal bahwa akses masuk dana semakin sempit, meski perputaran masih ratusan triliun.
QRIS Kuasai 78,5 Persen Frekuensi, Transfer Bank Tersisa Seperlima

QRIS menguasai 78,5 persen frekuensi deposit sepanjang 2025. Total 305,35 juta transaksi senilai Rp19,35 triliun. Transfer bank dan dompet elektronik hanya 21,5 persen frekuensi (83,79 juta transaksi) namun bernilai hampir sebanding, Rp16,67 triliun.
Kontras frekuensi versus nominal ini membuat deteksi makin rumit. Banyak transaksi kecil lewat QRIS menyembunyikan aliran besar yang tetap mengalir lewat bank. Optimaise News menyoroti proporsi ini agar pembaca paham mengapa total dana turun tapi pengawasan tetap berat.
Modus Samaran: Perusahaan Cangkang hingga Merchant UMKM Fiktif
Pelaku memakai perusahaan cangkang, merchant UMKM digital fiktif, dan aggregator untuk menyamarkan sumber dana. Pola many-to-one dan one-to-many plus nominee dipakai agar pengendali dana sulit dilacak.
Layanan nonbank juga disalahgunakan sebagai peta risiko publik. Payment gateway, remitansi, valas, fintech lending, dan voucher digital sering dimanfaatkan. Tanda waspada bagi awam: merchant QRIS baru tanpa usaha nyata atau tawaran pinjam rekening.
Jangan pernah meminjamkan identitas atau rekening. Risiko pidana ikut menempel ke pemilik asli.
5.762 Rekening Dihentikan, Ratusan Miliar Aset Dirampas Negara
Semester I 2026 saja PPATK menghentikan sementara 5.762 rekening dengan dana Rp1,07 triliun. Sebanyak 51 laporan hasil analisis diserahkan ke Bareskrim. Dari situ lahir 27 laporan polisi.
Nilai yang diblokir mencapai Rp255,76 miliar. Yang disita Rp142,02 miliar. Yang dirampas negara Rp588,61 miliar. Angka ini membuktikan penindakan sudah menyentuh aset, bukan sekadar pembekuan rekening.
Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menandai penurunan 2025 sebagai momen bersejarah. Kolaborasi kementerian dan aparat terus digencarkan agar sisa aliran di 2026 bisa ditekan lebih dalam.







