Surabaya, Optimaise News – Seorang pria bernama N berusia 29 tahun, warga Sumenep Madura yang bekerja di sebuah klinik, ternyata nekat mencuri tujuh kursi besi milik Pemkot Surabaya dari taman dan trotoar dengan meminjam ambulans operasional. Kegiatan pencurian dilakukan sebanyak tujuh kali berturut-turut dan tiga di antaranya langsung berhasil dijual ke pengepul seharga Rp500 ribu per unit. Dari keseluruhan curian tersebut, empat kursi besi ditemukan dan disita bersama satu unit mobil ambulans oleh Satpol PP Surabaya yang kemudian ditelusuri hingga polsek setempat langsung menangkap pelaku. Kasus ini menunjukkan betapa berbahayanya penggunaan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi.
Inti artikel
- Kasus ini menunjukkan betapa berbahayanya penggunaan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi
- Pada tahun ini saja, masih tersisa puluhan kursi besi yang hilang sejak tahun 2016 sejak pengadaan di taman-taman kota
- N pelaku terpaksa meminjam ambulans untuk mengangkut kursi besi curian karena dirasa lebih mudah dan cepat dibandingkan membongkar sendiri
Nilai kerugian yang ditimbulkan cukup besar karena satu unit kursi besi asli bernilai Rp3 juta, sehingga total kerugian Pemkot Surabaya mencapai sekitar Rp60 juta. Pada tahun ini saja, masih tersisa puluhan kursi besi yang hilang sejak tahun 2016 sejak pengadaan di taman-taman kota. Pelaku bahkan meminta bantuan tukang becak serta petugas kebersihan masing-masing Rp20 ribu untuk membantu mengangkat kursi besi saat pencurian.
Fakta Pencurian Kursi Besi Pemkot Surabaya
N pelaku terpaksa meminjam ambulans untuk mengangkut kursi besi curian karena dirasa lebih mudah dan cepat dibandingkan membongkar sendiri. Ia memanfaatkan barang bukti tersebut dalam bentuk satu unit mobil ambulans operasional milik Pemkot. Proses pencurian dilakukan secara berulang hingga akhirnya terdeteksi ketika pengepul diketahui bertransaksi dan penangkapan langsung dilakukan Satpol PP Surabaya. Kasus ini jadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap pemakaian aset umum di daerah seperti Surabaya.
Reaksi Publik terhadap Kebocoran Kursi dan Ambulans
Video yang beredar luas di media sosial menggambarkan seorang pria mengenakan rompi hijau dan topi hitam yang sedang menjelaskan asal kursi besi serta ambulans tersebut. Masyarakat banyak yang terguncang karena melihat betapa mudahnya akses tidak sah terhadap barang publik. Dampaknya tidak hanya dari sisi kerugian material Rp60 juta saja, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap pengelolaan taman dan trotoar oleh Pemkot Surabaya. Beberapa warga setempat bahkan menyoroti pentingnya sistem pengawasan yang lebih baik di wilayah-wilayah strategis.
Hukuman Pidana yang Dihadapi Pelaku
Pelaku diduga terancam hukuman pidana penjara maksimal lima tahun sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Meski begitu, proses penangkapan sudah berjalan baik karena barang bukti berupa empat kursi besi hasil curian serta satu ambulans langsung disita oleh petugas. Hal ini memberikan kepastian hukum bagi Pemkot Surabaya untuk mengajukan tuntutan terhadap pelaku. Dari perspektif pemberantasan pencurian aset publik, kasus seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana elemen-elemen lokal seperti pengepul dan pengangkut bisa ikut terjebak dalam rantai kejahatan yang lebih luas.
Dampak Jangka Panjang bagi Pemkot Surabaya
Antara lain, puluhan kursi yang masih hilang dari 2016 hingga sekarang ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pengadaan barang publik sering kali luput dari perhatian. Pemkot Surabaya kini harus mempertimbangkan perbaikan infrastruktur taman dan trotoar agar tidak lagi menjadi target mudah seperti kursi besi yang sudah kuno. Pelaku pencurian ini juga menjadi contoh bagaimana petugas kebersihan dan tukang becak dapat dimanfaatkan oleh pihak nakal untuk membantu mengangkut barang curian dengan biaya murah masing-masing Rp20 ribu saja. Optimaise News melihat kasus ini sebagai sinyal penting untuk memperkuat kebijakan anti-pencurian aset daerah secara nasional.
Secara keseluruhan, kasus pegawai klinik ini mengingatkan bahwa segala bentuk penyimpangan terhadap barang milik pemerintah bisa berujung pada kerugian yang sangat nyata. Pemkot Surabaya melalui Satpol PP terus berupaya mengejar pelaku dengan telusur yang ketat terhadap tempat pengepul. Publik diharapkan semakin waspada agar kasus serupa tidak berulang dan asset publik lebih terlindungi dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab.






