Surabaya, Optimaise News – Lonjakan penerimaan parkir tepi jalan umum harian di empat titik prioritas Surabaya jadi bukti nyata keberhasilan sistem non-tunai penuh plus pengawasan melekat Dinas Perhubungan. Di Tanjung Anom rata-rata harian naik dari Rp600.000 menjadi Rp2,6 juta atau 330 persen usai petugas mendampingi juru parkir ketat.
Inti artikel
- Di Tanjung Anom rata-rata harian naik dari Rp600.000 menjadi Rp2,6 juta atau 330 persen usai petugas mendampingi juru parkir ketat
- Mutasi 70 petugas UPT Parkir diganti personel OPD lain atas instruksi Wali Kota Eri Cahyadi menjadi katalis
- Ia minta pola penanganan langsung Dishub diperluas ke seluruh lokasi
Mutasi 70 petugas UPT Parkir diganti personel OPD lain atas instruksi Wali Kota Eri Cahyadi menjadi katalis. Ia minta pola penanganan langsung Dishub diperluas ke seluruh lokasi. Optimaise News merangkum data selisih harian dan timeline uji coba seminggu yang berdampak langsung ke pengendara.
Empat Titik Prioritas dan Selisih Penerimaan Harian
Titik awal pengawasan meliputi Tanjung Anom, Embong Malang, Jalan Slamet, dan Taman Apsari. Tanjung Anom mencatat lonjakan terbesar. Rata-rata harian dari Rp600.000 melonjak ke Rp2,6 juta.
Selisih di Taman Apsari mencapai Rp1 juta. Embong Malang menambah Rp200.000. Jalan Slamet hanya Rp100.000. Angka ini muncul setelah non-tunai penuh digabung pengawasan melekat.
Jika disusun sebagai peta ringkas, Tanjung Anom jadi motor utama. Tiga titik lain melengkapi gambaran potensi. Gabungan empat lokasi ini memberi gambaran utuh seberapa besar celah penerimaan yang bisa digali di kawasan padat.
Mutasi 70 Petugas UPT Parkir diganti Personel OPD Lain

Wali Kota Eri Cahyadi memerintahkan mutasi 70 petugas UPT Parkir. Mereka digantikan jajaran dari OPD lain. Langkah ini merespons temuan lapangan soal kinerja juru parkir.
Penggantian personel membuat rantai pengawasan lebih ketat. Petugas baru membawa pendekatan berbeda di empat titik prioritas. Hasilnya langsung terlihat pada rekap harian yang naik.
Mutasi bukan sekadar rotasi. Ia jadi penanda bahwa Pemkot serius menutup celah kebocoran. Personel OPD lain diarahkan mendampingi sambil memberi contoh tata kelola non-tunai.
Edukasi Non-Tunai plus Opsi Voucher di Lapangan

Masih banyak warga yang bayar tunai. Petugas di lapangan aktif memberi edukasi. Mereka jelaskan cara pakai e-wallet atau kartu elektronik.
Bagi pengendara tanpa gadget atau kartu tol, petugas sediakan opsi voucher. Voucher itu jadi jembatan sementara agar transaksi tetap tercatat. Langkah konkret yang perlu disiapkan warga sederhana: bawa metode non-tunai atau siapkan diri minta voucher jika perangkat tidak mendukung.
Edukasi ini berlangsung setiap hari di titik prioritas. Tujuannya agar kebiasaan tunai berkurang secara bertahap. Transaksi yang tercatat otomatis menaikkan penerimaan harian tanpa ribet.
Perluasan Pengawasan ke Dharmahusada dan Manyar
Pengawasan diperluas sepekan ke Dharmahusada, Dharmahusada Indah, Manyar Kertoarjo V, dan Manyar Kertoarjo. Empat titik baru ini dipilih karena potensi sepadan dengan lokasi awal.
Perluasan mengikuti pola yang sama: non-tunai penuh plus pendampingan. Rekap harian dari lokasi baru akan digabung dengan data empat titik prioritas. Hasilnya memberi peta potensi yang lebih lengkap.
Dengan sintesis titik lama dan baru, Pemkot bisa ukur mana lokasi paling produktif. Data itu jadi bahan evaluasi sebelum pola diperluas lebih jauh.
Uji Coba Seminggu Dishub sebelum Kembali ke Jukir
Wali Kota minta Dishub tangani langsung seluruh titik parkir selama seminggu sebagai uji coba. Setelah itu penanganan dikembalikan ke juru parkir. Pengawasan tetap melekat dan rekap harian jadi bahan evaluasi.
Arti praktis bagi pengendara jelas. Selama uji coba layanan lebih terstandar dan transparan. Setelah seminggu, jukir tetap diberdayakan di lokasi. Mereka hanya didampingi lebih ketat agar praktik non-tunai terus jalan.
Bagi juru parkir, uji coba memberi ruang belajar standar baru. Mereka kembali bertugas dengan bekal edukasi dan opsi voucher yang sudah diuji. Rekap harian selama masa uji coba jadi acuan potensi tiap lokasi ke depan.
Tanya Jawab Seputar Parkir Digital Surabaya
Apa yang harus disiapkan warga biar tidak terhambat bayar parkir?
Siapkan e-wallet, kartu elektronik, atau kartu tol. Jika perangkat tidak mendukung, minta voucher langsung ke petugas di lapangan. Opsi itu sudah tersedia di titik prioritas dan lokasi perluasan.
Bagaimana nasib juru parkir setelah uji coba seminggu selesai?
Jukir tetap diberdayakan di lokasi masing-masing. Dishub hanya tangani langsung selama masa uji. Setelah itu pengawasan melekat berlanjut supaya penerimaan stabil dan kebiasaan non-tunai tidak kembali longgar.
Mengapa Tanjung Anom dipilih jadi contoh lonjakan utama?
Titik itu mencatat selisih terbesar dari Rp600.000 ke Rp2,6 juta. Angka 330 persen itu jadi bukti paling jelas bahwa kombinasi non-tunai penuh dan pengawasan melekat langsung berdampak pada rekap harian.







