Jakarta, Optimaise News – Pabrik gula menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada gula nasional. Ketua APTRI Soemitro Samadikoen menekankan perlunya benih unggul, riset terapan, pupuk yang terjangkau, serta teknologi modern agar produktivitas tebu naik signifikan. Tanpa langkah ini, rendemen tebu yang saat ini hanya 6-7 persen akan semakin sulit dibanding era 1930-an yang mencapai 11-13 persen.
Inti artikel
- Pabrik gula menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada gula nasional
- Tanpa langkah ini, rendemen tebu yang saat ini hanya 6-7 persen akan semakin sulit dibanding era 1930-an yang mencapai 11-13 persen
- Estimasi APTRI menunjukkan butuh tambahan 700 ribu hektare lahan untuk mendukung kebun tebu pabrik rafinasi
Estimasi APTRI menunjukkan butuh tambahan 700 ribu hektare lahan untuk mendukung kebun tebu pabrik rafinasi. Kewajiban ini sulit terealisasi dalam waktu dekat akibat keterbatasan lahan dan infrastruktur, termasuk di Merauke. Pabrik gula rafinasi memang dibangun di pesisir dan difokuskan mengolah gula mentah impor, bukan tebu segar, sehingga butuh dukungan kebun sendiri untuk mendukung target swasembada.
APTRI Dorong Benih Unggul dan Riset Guna Tingkatkan Produktivitas
Ketua APTRI Soemitro Samadikoen menyatakan fokus utama adalah benih unggul, riset, pupuk terjangkau, dan teknologi. Pusat riset gula di Pasuruan yang dulu maju kini perannya melemah. Tanpa peremajaan tebu secara massif, target swasembada yang dipangkas menjadi dua tahun setelah replanting 100 ribu hektare per tahun sulit tercapai.
Setiap pabrik rafinasi butuh 8.000 hingga 10.000 hektare kebun agar bisa memasok bahan baku secara konsisten. Hal ini menjadi kewajiban mentan Andi Amran Sulaiman karena industri rafinasi perlu memiliki kebun tebu sendiri. Tantangan terbesar terletak pada ketersediaan lahan, sehingga APTRI menyarankan dialog dengan pelaku industri sebelum menerapkan regulasi.
Estimasi 700 Ribu Hektare Tambahan Menggema di Industri Gula
APTRI memproyeksikan butuh tambahan sekitar 700 ribu hektare lahan untuk memenuhi kebutuhan pabrik rafinasi. Kebutuhan ini muncul karena rendemen yang rendah saat ini menuntut produksi lebih besar. Pabrik gula yang mengandalkan gula mentah impor dari pesisir memerlukan dukungan kebun lokal agar bisa mempercepat swasembada nasional.
Asosiasi petani tebu rakyat Indonesia APTRI juga protes jika pabrik mengambil alih kebun sendiri. Petani terpinggirkan saat pabrik yang mengolah gula mentah impor mencoba kendalikan rantai pasok. Solusi terbaik adalah berdialog dan melibatkan petani sebagai bagian dari program peremajaan tebu 100 ribu hektare per tahun.
Tantangan Infrastruktur dan Lahan Lambatkan Realisasi Kewajiban
Kewajiban terealisasi dalam waktu dekat sulit karena kendala lahan dan infrastruktur, termasuk di kawasan Merauke yang masih kurang terjangkau. Pabrik gula rafinasi yang dirancang khusus untuk mengolah gula mentah impor memerlukan penyesuaian agar bisa mendukung kebun tebu lokal. APTRI menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pabrik dan petani agar program swasembada berjalan adil.
Dari perspektif pelaku UMKM di sektor gula, kebutuhan tambahan 700 ribu hektare ini membuka peluang investasi baru. Teknologi dan benih unggul yang didorong APTRI bisa membantu petani kecil meningkatkan pendapatan. Namun tanpa infrastruktur yang memadai, target dua tahun untuk swasembada gula nasional berisiko tertunda.
Kenapa Pusat Riset Pasuruan Harus Dikuatkan Kembali
Pusat riset gula di Pasuruan yang dulu menjadi andalan kini perlu diperkuat. Langkah ini selaras dengan prioritas APTRI untuk benih unggul dan riset agar produktivitas tebu bisa naik. Pabrik gula yang mengandalkan impor akan semakin bergantung pada teknologi lokal untuk mengolah bahan baku yang tersedia.
Optimaise News melihat bahwa tantangan pabrik gula ini bukan hanya soal lahan tapi juga keterlibatan petani. Dengan dialog yang matang, industri gula bisa mencapai swasembada lebih cepat. Pemangkasan target ke dua tahun tetap realistis jika 100 ribu hektare per tahun terealisasi.







