Jakarta, Optimaise News – Direktur Newport Handoko Sasongko menyampaikan permintaan maaf pada Rabu 11 Agustus 2024 atas kegaduhan video yang terekam di booth mereka saat The Sounds Project berlangsung Minggu 9 Agustus di Ancol, Jakarta Utara. Ia menegaskan aktivitas itu bukan bagian dari program, konsep promosi, challenge, maupun arahan perusahaan, melainkan aksi spontan pengunjung di lokasi.
Inti artikel
- Handoko menyesali kelalaian pengawasan lapangan yang dinilai menyentuh nilai agama dan budaya masyarakat
- Newport berkomitmen kejadian serupa tidak akan terulang
- Video yang beredar memperlihatkan seorang perempuan melafalkan Surat Ad-Dhuha secara utuh di area booth minuman beralkohol
Handoko menyesali kelalaian pengawasan lapangan yang dinilai menyentuh nilai agama dan budaya masyarakat. Perusahaan memandang peristiwa ini sebagai peringatan keras agar segera merumuskan pedoman operasional yang lebih ketat, berlandaskan penghormatan terhadap religi, adat, serta etika. Newport berkomitmen kejadian serupa tidak akan terulang.
Detail Video Viral di Booth Newport Passion Blue 620 ml
Video yang beredar memperlihatkan seorang perempuan melafalkan Surat Ad-Dhuha secara utuh di area booth minuman beralkohol. Setelah hafalan selesai, sales dan petugas di lokasi memberikan sorakan. MC booth kemudian bertanya soal kehadiran teman, tujuan kedatangan, serta pesanan yang diinginkan.
Insiden ini memicu perdebatan luas karena berpadu dengan konteks jual Newport minuman beralkohol terbaru Indonesia. Banyak pihak menilai perpaduan bacaan suci dan promosi miras menyentuh sensitivitas keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Optimaise News mencatat reaksi publik fokus pada pengawasan lapangan yang dinilai longgar.
Handoko menekankan bahwa aksi muncul tanpa arahan internal. Ia menyebut perusahaan akan meninjau seluruh prosedur di event outdoor agar aspek kehormatan nilai keagamaan dan adat menjadi landasan utama. Komitmen tersebut disampaikan sebagai respons langsung terhadap keluhan yang membanjiri kanal media sosial.
Sikap ALMI dan Laporan ke Polda Metro Jaya
Ketua Asosiasi Lawyer Muslim Indonesia Zainul Arifin menilai aksi semacam challenge tersebut masuk kategori penistaan agama, bukan sekadar hiburan semata. Menurutnya, aktivitas di booth yang melibatkan bacaan Al-Qur’an di area miras melukai rasa hormat terhadap kitab suci.
Advokat Muhammad Rizki dari Tim Hukum Muslim telah mendaftarkan laporan ke Polda Metro Jaya. Ada sekitar lima pihak yang digugat: event organizer, produsen miras, dua MC, serta perempuan yang melafalkan ayat. Laporan itu mempersoalkan unsur penghinaan terhadap simbol keagamaan di ruang publik.
Zainul menekankan bahwa penegakan hukum diperlukan agar praktik serupa tidak menular ke event lain. Ia mendorong aparat menelusuri apakah ada unsur yang merendahkan ajaran agama di balik sorakan dan tawaran produk. Langkah hukum ini menjadi sorotan tambahan bagi brand yang selama ini dikenal melalui produk seperti Newport Passion Blue 620 ml.
Langkah Newport Merumuskan Pedoman Lebih Ketat
Handoko Sasongko menjelaskan perusahaan akan merumuskan standar operasional prosedur yang lebih ketat. Landasan utamanya adalah penghormatan terhadap nilai religi, adat istiadat, dan etika kemasyarakatan. Ia menjanjikan seluruh aktivitas di booth ke depan akan melalui filter yang lebih ketat agar tidak melanggar sensitivitas publik.
Dalam penjelasannya, Handoko mengulang bahwa aksi bukan program yang direncanakan. Ia menyebut kelalaian lapangan sebagai titik lemah yang harus segera diperbaiki. Optimaise News memahami pernyataan itu sebagai upaya memulihkan kepercayaan setelah video viral menyebar luas.
Komitmen Newport agar kejadian serupa tak terulang disertai rencana internal audit di setiap event. Perusahaan ingin memastikan interaksi di lokasi tidak lagi memicu perdebatan soal penistaan atau pelanggaran nilai budaya. Langkah tersebut diharapkan meredam kecemasan terkait jual Newport minuman beralkohol terbaru Indonesia di ruang publik.
Publik menunggu realisasi pedoman baru tersebut. Sementara laporan ke Polda Metro Jaya masih berjalan, pernyataan maaf Handoko menjadi catatan resmi pertama dari pihak brand. Pengawasan lapangan yang lebih disiplin diharapkan mencegah kombinasi bacaan suci dan promosi miras terjadi lagi di event musik atau hiburan lainnya.







