Malang, Optimaise News – Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin datang ke Balai Kota Malang pada Kamis, 30 Juli 2026, untuk menyerap praktik pengelolaan badan usaha milik daerah bidang air minum. Ia disambut rekan sejawatnya Ali Muthohirin dalam kunjungan kerja yang menempatkan Perumda Air Minum Tugu Tirta sebagai rujukan adopsi.
Inti artikel
- Ia disambut rekan sejawatnya Ali Muthohirin dalam kunjungan kerja yang menempatkan Perumda Air Minum Tugu Tirta sebagai rujukan adopsi
- Optimaise News merangkum bagaimana transfer pengetahuan antardaerah ini digelar tanpa mengandalkan kenaikan tarif sebagai jalan pintas
- Pertemuan digelar di ruang resmi pemerintahan Kota Malang
Inti pesan tuan rumah sederhana namun tegas: target kinerja yang terukur plus evaluasi berkelanjutan lebih menentukan layanan warga ketimbang sekadar kecakapan teknis. Optimaise News merangkum bagaimana transfer pengetahuan antardaerah ini digelar tanpa mengandalkan kenaikan tarif sebagai jalan pintas.
Kunjungan kerja Bogor di Balai Kota Malang 30 Juli
Pertemuan digelar di ruang resmi pemerintahan Kota Malang. Agenda fokus pada berbagi pola kelola BUMD air minum yang dinilai bisa ditiru kota lain. Pemkot Malang memaparkan langkah-langkah operasional yang sudah berjalan, termasuk rantai pasokan air baku.
Ali menekankan bahwa target dari pemerintah pusat diteruskan ke daerah, lalu dijabarkan hingga level direksi. Harapannya, kinerja perusahaan dan mutu layanan publik naik beriringan. Pendekatan ini membedakan sebatas “bisa teknis” dengan “mampu menahan tekanan operasional harian.”
Jenal Mutaqin menanggapi dengan apresiasi atas keterbukaan rekan di Malang. Ia berharap interaksi ini tumbuh menjadi kerja sama inovatif antar-BUMD, bukan sekadar kunjungan formal sekali jalan.
Indikator Tugu Tirta yang dinilai layak diadopsi

Menurut penjelasan Ali, sejumlah tolok ukur menjadi cermin keberhasilan layanan. Keluhan pelanggan dijaga seminimal mungkin, tekanan air di jaringan dijaga stabil, dan tanggapan atas pengaduan harus cepat. Tiga indikator itu digarisbawahi sebagai bukti nyata di lapangan.
Peningkatan mutu diarahkan lewat tata kelola yang rapi, efisiensi operasional, serta pengawasan kinerja yang ketat. Pemkot menekankan bahwa perbaikan layanan tidak harus bergantung pada penyesuaian tarif. Fokus justru pada disiplin internal dan akuntabilitas direksi.
Kerja sama pasokan air baku diperkuat, termasuk dengan Perum Jasa Tirta. Langkah itu penting karena skala layanan di Kota Malang tidak kecil. Penduduk setempat diperkirakan sekitar 891 ribu jiwa, sementara mobilitas harian mendekati 1,5 juta orang berkat aktivitas pendidikan dan ekonomi.
Pelajaran bagi daerah lain yang mengelola BUMD air

Bagi pelaku usaha kecil-menengah dan komunitas yang bergantung pada air andal, sinyal dari Malang cukup praktis: minta pemerintah daerah menetapkan target publik yang bisa diawasi warga. Transparan soal keluhan, tekanan, dan kecepatan respons menjadi bahan cek mandiri, bukan hanya laporan pejabat.
Transfer pengetahuan antarkota seperti ini juga membuka ruang benchmarking. Bogor membawa pulang kerangka evaluasi berkelanjutan, sementara Malang memperkuat jejaring pasokan. Hubungan bilateral diharapkan meluas ke inovasi produk atau prosedur layanan BUMD, sesuai harapan tamu dari Bogor.
Dalam pandangan Optimaise News, nilai berita ini terletak pada detail operasional yang bisa ditiru tanpa menunggu keputusan pusat. Target jelas, evaluasi rutin, dan kerja sama air baku menjadi paket yang lebih solid daripada sekadar ganti mesin atau menaikkan harga air.
Ali Muthohirin menempatkan rantai perintah dari pusat ke daerah ke direksi sebagai penopang. Jika setiap level punya ukuran kinerja, keluhan warga berkurang dan tekanan jaringan lebih stabil. Itu ringkasan yang ingin dibawa Jenal Mutaqin setelah keluar dari Balai Kota Malang.
Bagi pembaca di kota lain, pelajaran yang paling mudah diterapkan adalah memisahkan “kemampuan teknis” dari “disiplin target plus pengawasan”. Keduanya diperlukan, namun tanpa evaluasi berkelanjutan, layanan air bersih mudah stagnan meski investasi fisik sudah digelontorkan.
Dampak mobilitas 1,5 juta dan tuntutan layanan air
Dengan mobilitas harian yang mendekati 1,5 juta, tekanan pada jaringan air bersih di Malang tidak hanya datang dari penduduk tetap. Aktivitas pendidikan dan ekonomi menambah beban puncak, sehingga respons pengaduan yang lambat akan cepat terasa di ruang publik.
Oleh sebab itu, penekanan pada keluhan minim dan stabilitas tekanan bukan slogan kosong. Itu dialektika antara kapasitas BUMD dan realitas lalu lintas manusia setiap hari. Kerja sama air baku dengan pihak seperti Perum Jasa Tirta menjadi jaring pengaman di sisi supply.
Kunjungan 30 Juli 2026 memperlihatkan pola “belajar sambil mengikat target”. Bogor tidak hanya mendengar presentasi; Malang menuntut frekuensi evaluasi yang sama. Model itu yang ingin digarisbawahi agar kolaborasi antardaerah tidak berhenti di dokumen seri kunjungan kerja.







