Malang, Optimaise News – Dr. Ir. Budiar, M.Si., Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, menghadiri Kongres Kebudayaan Nusantara pada Sabtu, 8 Agustus 2026, di Pendopo Agung Kabupaten Malang. Forum bertema Sarasehan Kebudayaan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa digelar untuk menggali jejak peradaban Nusantara, sekaligus menekankan bahwa target Indonesia Emas 2045 tak cukup ditopang infrastruktur fisik, investasi, dan laju ekonomi saja.
Inti artikel
- Budiar menilai fondasi kebangsaan rapuh jika generasi hanya menguasai perangkat modern tanpa pijakan kultural
- Ia mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah
- Bangsa yang lupa sejarahnya akan mudah kehilangan identitas
Dalam paparan itu, Sekda Malang: Jangan Sampai Kemajuan Teknologi Bikin Generasi Muda Kehilangan Akar Budaya menjadi bingkai utama pesan yang disampaikan. Budiar menegaskan penguatan budaya agar anak muda mengenal sejarah, identitas, dan akar bangsa, seraya menempatkan infrastruktur kebudayaan sebagai agenda setara dengan pembangunan material.
Pesan Budiar di Kongres 8 Agustus 2026
Budiar menilai fondasi kebangsaan rapuh jika generasi hanya menguasai perangkat modern tanpa pijakan kultural. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah. Bangsa yang lupa sejarahnya akan mudah kehilangan identitas.
Optimaise News mencatat penekanan itu sebagai seruan praktis, bukan slogan seremonial. Menurutnya, ruang digital dan inovasi harus beriringan dengan upaya menanamkan jati diri, supaya laju teknologi tidak memutus rantai memori kolektif.
Kongres menjadi wadah dialog multiaktor. Peserta disuguhkan kerangka bahwa kemajuan material tanpa sosok pewaris nilai hanya menghasilkan lonjakan angka, bukan ketahanan karakter.
Apa Arti Infrastruktur Kebudayaan versi Budiar
Istilah infrastruktur kebudayaan ia pakai sebagai bagian agenda 2045. Maknanya melampaui bangunan seni atau museum. Yang dimaksud mencakup keluarga penanam nilai luhur, generasi muda yang bangga pada warisan, komunitas penjaga tradisi, serta pemerintah yang membuka ruang ekspresi.
Keempat pilar itu digambarkan saling menopang. Rumah tangga menanam, anak muda merawat rasa bangga, komunitas menjaga praktik hidup, dan birokrasi menyediakan arena agar tradisi tidak terpinggirkan.
Dengan rumusan tersebut, investasi budaya tidak lagi dikerdilkan jadi renovasi gedung. Fokus bergeser ke proses transmisi nilai yang berkesinambungan di level keluarga hingga kebijakan daerah.
Jejak Malang dari Kanjuruhan hingga Warisan Hidup
Kabupaten Malang disebut memiliki jejak Kanjuruhan hingga Singhasari. Di atas peta sejarah itu hidup warisan aktif: Topeng Malangan, jaranan, bantengan, adat setempat, dan ritual budaya yang masih dijalankan warga.
Budiar memandang kekayaan tersebut sebagai modal sosial yang harus dialihkan ke generasi berikut melalui kurikulum informal, festival warga, dan ruang kolaborasi komunitas. Tanpa transfer itu, artefak sejarah hanya menjadi nama di papan informasi.
Pendekatan ini relevan bagi pelaku UMKM dan pelaku seni lokal. Mereka bisa menempatkan produk kreatif di atas narasi identitas, bukan sekadar tren viral semata, sehingga nilai ekonomi dan memori budaya tumbuh beriringan.
Tautan Teknologi dengan Akar Identitas
Peringatan Sekda Malang: Jangan Sampai Kemajuan Teknologi Bikin Generasi Muda Kehilangan Akar Budaya dijabarkan lewat logika sederhana. Kecepatan inovasi tanpa jangkar sejarah membuat orientasi bangsa mudah goyah di tengah disrupsi.
Ia meminta agar platform digital dimanfaatkan untuk mendokumentasikan dan memopulerkan praktik hidup warisan, bukan hanya sebagai saluran konsumsi hiburan. Dengan cara itu, generasi yang mahir teknologi tetap mengenali silsilah kulturalnya.
Pemerintah daerah digambarkan sebagai fasilitator yang memberi ruang, bukan sebagai penentu tunggal makna budaya. Kolaborasi dengan keluarga dan komunitas menjadi prasyarat agar pesan 2045 tidak berhenti di forum formal.
Agenda Bersama Menuju 2045
Pembangunan menuju Indonesia Emas digambarkan membutuhkan infrastruktur kebudayaan setara prioritas fisik. Tanpa itu, lonjakan ekonomi berisiko menghasilkan generasi cakap teknis namun longgar identitas.
Budiar menutup penekanan dengan ajakan merawat rantai transmisi: dari rumah, komunitas, hingga kebijakan. Optimaise News menilai kerangka itu memberi petunjuk operasional bagi pemangku kepentingan lokal yang ingin menyelaraskan inovasi dengan jejak peradaban Nusantara.
Forum di Pendopo Agung menegaskan bahwa warisan hidup Malang bisa menjadi laboratorium praktik. Jika Topeng Malangan, jaranan, bantengan, dan ritual adat terus dihidupkan di ruang publik, generasi muda memiliki pijakan konkret saat berhadapan dengan gelombang teknologi.






