Surabaya, Optimaise News – Desain spanduk posko KKN yang menyandingkan foto mahasiswa dengan ilustrasi lauk penyetan membuat seorang lansia di Desa Asempapak, Sidayu, Gresik, salah lokasi. Ia mengira bangunan itu warung makan. Peristiwa ini memicu perbincangan luas setelah kegiatan dua pekan berakhir 7 Juli 2026.
Inti artikel
- Ia mengira bangunan itu warung makan
- Peristiwa ini memicu perbincangan luas setelah kegiatan dua pekan berakhir 7 Juli 2026
- Video 30 detik di akun Instagram @jawatimurpopuler mencatat lebih dari 121.000 suka dan 3.930 komentar
Video 30 detik di akun Instagram @jawatimurpopuler mencatat lebih dari 121.000 suka dan 3.930 komentar. Optimaise News merangkum bagaimana spanduk kreatif itu menjadi pencetus momen lucu sekaligus menampilkan program nyata 35 mahasiswa Untag Surabaya.
Desain Spanduk yang Bikin Salah Anggap Lokasi
Spanduk posko KKN Untag Surabaya dipasang di Polindes desa. Desainnya memadukan foto para mahasiswa dengan gambar lauk-pauk khas penyetan seperti ayam, tahu, dan sambal.
Gaya visual itu membuat orang lewat mudah mengira posko sebagai warung lalapan. Video Viral Spanduk KKN Untag Surabaya Dikira Warung kemudian menyebar cepat karena kesan menyesatkan yang tak disengaja ini.
Posko sendiri menempati dua rumah warga plus Polindes. Spanduk dipasang di bagian depan agar mudah dikenali mahasiswa, tapi justru memicu kebingungan warga lokal yang terbiasa melihat papan menu serupa.
Siapa Lansia yang Terkecoh dan Reaksi Warga Sekitar

Lansia setempat biasa dipanggil Mak Ja. Rumahnya berada dekat posko sehingga ia lewat hampir setiap hari.
Suatu pagi ia berhenti dan bertanya apakah tempat itu sudah buka untuk makan. Warga sekitar yang menyaksikan langsung tertawa dan menjelaskan bahwa itu posko mahasiswa, bukan warung penyetan.
Reaksi Mak Ja yang bingung terekam dalam cuplikan singkat. Warga desa menilai momen itu wajar karena desain spanduk memang mirip papan nama warung makan tradisional di Gresik.
Konfirmasi Kepala Desa soal Keberadaan Mahasiswa

Kepala Desa Abdul Qodir baru mengetahui video tersebut setelah seluruh rangkaian KKN selesai. Ia mengaku sempat terkejut tapi kemudian menganggap kejadian itu lucu.
Menurutnya, 35 mahasiswa terdiri atas 15 laki-laki dan 20 perempuan. Mereka tinggal di dua rumah warga dan Polindes selama dua minggu penuh.
Abdul Qodir menegaskan desa Asempapak memang langganan lokasi KKN. Setiap tahun bisa menerima hingga tiga rombongan berbeda, termasuk dari Unair dan UISI. Kehadiran mahasiswa Untag dianggap rutin dan bermanfaat.
Program Nyata yang Dijalankan Selama Dua Pekan
Selain momen spanduk yang viral, mahasiswa menjalankan program konkret. Mereka melakukan penomoran rumah agar memudahkan administrasi desa.
Tim juga memasang CCTV di beberapa titik rawan. Sosialisasi kecerdasan buatan digelar untuk pemuda desa agar mengenal teknologi baru.
Edukasi olah sampah rumah tangga menjadi fokus lain. Seluruh kegiatan diringkas dalam timeline padat dua minggu yang berakhir 7 Juli 2026. Gabungan program ini memberi gambaran utuh bagi mahasiswa lain yang ingin berkontribusi di desa serupa.
Desa Asempapak sudah terbiasa menjadi tuan rumah multi-kampus. Frekuensi hingga tiga kali setahun membuat warga lebih terbuka menerima mahasiswa dan mendukung setiap inisiatif pengabdian.
Jangkauan Video dan Respons Warganet di Media Sosial
Video berdurasi tepat 30 detik diunggah akun @jawatimurpopuler. Angka engagement mencapai 121.000 lebih suka dan 3.930 komentar dalam waktu singkat.
Banyak netizen memuji kreativitas desain spanduk. Ada yang bilang “spanduknya bikin laper” dan ada pula yang mengaku ikut terkecoh saat pertama melihat.
Respons positif ini justru memperkenalkan program KKN Untag ke khalayak lebih luas. Nama Mak Ja dan reaksi Kepala Desa yang menganggap lucu menjadi sisi manusiawi di balik angka viral tersebut.







