Surabaya, Optimaise News – Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur mendesak Pemerintah Kota Surabaya menjadi penggerak utama kolaborasi lintas sektor demi hak anak. Seruan itu muncul di tengah peringatan Hari Anak Nasional ke-42 yang digelar 24 Juli 2026 di Surabaya. Ancaman kekerasan terhadap anak masih berlangsung di lapangan.
Inti artikel
- Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur mendesak Pemerintah Kota Surabaya menjadi penggerak utama kolaborasi lintas sektor demi hak anak
- Seruan itu muncul di tengah peringatan Hari Anak Nasional ke-42 yang digelar 24 Juli 2026 di Surabaya
- Ancaman kekerasan terhadap anak masih berlangsung di lapangan
M. Isa Ansori dari LPA Jatim menekankan komitmen Pemkot sangat krusial. Surabaya harus memimpin agar semua sektor bergerak sinkron. “Pemkot harus jadi penggerak utama,” tegasnya.
Tema Lokal HAN Sejalan dengan Program Kota Layak Anak
Tema lokal yang diusung berbunyi Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan Anak Surabaya Hebat. Tema itu sejalan dengan program Kota Layak Anak yang sudah digarap Pemkot. Peringatan HAN ke-42 menjadi momen mempertegas langkah perlindungan yang ada.
LPA Jatim menilai tema tersebut harus diwujudkan dalam kebijakan sehari-hari, bukan sekadar seremoni. Program yang berjalan bisa diperkuat lewat partisipasi luas masyarakat. Kolaborasi digalakkan agar anak-anak benar-benar merasakan manfaatnya.
Fokus pada kasih sayang dan perlindungan membuat masa depan anak Surabaya lebih kokoh. Langkah ini sejalan dengan semangat membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
SPMB Inklusif dan Sekolah Ramah Anak Jadi Pilar Utama

Program yang sudah berjalan mencakup penyempurnaan Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB agar lebih adil, transparan, dan inklusif. Sekolah ramah anak digalakkan di seluruh jenjang. Ruang bermain aman juga disediakan di berbagai titik kota.
Pelibatan psikolog, LPA, dunia usaha, dan komunitas terus ditingkatkan. Langkah ini menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. Anak-anak mendapat akses pendidikan tanpa hambatan sambil punya tempat rekreasi yang aman.
Isa Ansori melihat pilar-pilar itu sebagai fondasi penting. Jika dijalankan konsisten, Surabaya bisa jadi contoh kota ramah anak di tingkat nasional. Komitmen harus dijaga agar tak hanya di atas kertas.
Ancaman Kekerasan hingga Tekanan Psikologis Masih Nyata

Meski program sudah ada, ancaman kekerasan, perundungan, eksploitasi, kekerasan seksual, dan tekanan psikologis masih nyata. LPA Jatim mengingatkan kasus-kasus tersebut masih sering terjadi. Anak-anak rentan di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.
Perlindungan anak disebut pekerjaan tanpa garis akhir. “Tidak ada titik di mana kita bisa berhenti,” ujar Isa Ansori. Tantangan terus berkembang seiring zaman. Kewaspadaan bersama harus dijaga sepanjang waktu.
Tekanan psikologis menambah beban yang tak selalu terlihat. Banyak anak mengalami stres tanpa dukungan memadai. Deteksi dini dan penanganan cepat menjadi krusial agar dampak jangka panjang bisa dicegah.
Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Sistem Perlindungan Terpadu
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci membangun sistem perlindungan terpadu. Pemkot Surabaya diminta menjadi penggerak utama agar pendidikan, kesehatan, penegak hukum, dunia usaha, dan komunitas bergerak bersama.
Tanpa sinergi solid, upaya perlindungan berjalan parsial. Efektivitasnya berkurang. LPA sebagai lembaga pengawas independen siap mendukung dan mengawal proses tersebut.
Semua elemen masyarakat diajak gotong royong. Hanya dengan cara itu hak anak bisa terpenuhi secara menyeluruh. Sistem terpadu mencegah tumpang tindih atau kekosongan penanganan di lapangan.
Kebijakan Berperspektif Anak Ukur Surabaya yang Benar-Benar Hebat
Ukuran Surabaya yang benar-benar hebat terletak pada kebijakan berperspektif anak. Bukan semata infrastruktur atau angka ekonomi. Cara kota memperlakukan anak di pendidikan, kesehatan, dan ruang publik jadi penentu sejati.
Pemkot diminta memastikan setiap kebijakan mempertimbangkan dampaknya pada anak. LPA Jatim menekankan komitmen ini harus terwujud nyata. Dengan begitu, generasi muda Surabaya siap menyongsong masa depan cerah.
Seruan di HAN ke-42 ini menjadi pengingat praktis. Komitmen lokal harus sejalan dengan visi besar bangsa. Perlindungan anak hari ini adalah investasi untuk Indonesia Emas 2045.







