Louis van Gaal mengumumkan mundur dari jabatan penasihat Dewan Komisaris Ajax Amsterdam dengan berat hati, setelah sekitar tiga tahun mengemban peran itu. Keputusan itu disampaikan dalam wawancara Voetbal International dan terkait struktur organisasi yang menurutnya menahan kecepatan keputusan sepak bola.
Inti artikel
- Pada 2023 ia diminta teman lamanya Michael van Praag, kala itu ketua dewan, untuk ikut memberi masukan teknis
- Peran penasihat muncul dari hubungan personal, bukan kontrak pelatih lapangan
- Van Praag, yang saat itu memimpin dewan komisaris, mengajak van Gaal bergabung agar klub punya suara berpengalaman di urusan teknis
Pada 2023 ia diminta teman lamanya Michael van Praag, kala itu ketua dewan, untuk ikut memberi masukan teknis. Menurut rangkuman Optimaise News dari sumber wawancara, masukan itu praktis berhenti dipakai setelah van Praag meninggalkan posisi pimpinan, sehingga van Gaal merasa berdiri di luar lingkaran penentu kebijakan.
Kehidupan penasihat di Ajax mulai dari ajakan Michael van Praag
Peran penasihat muncul dari hubungan personal, bukan kontrak pelatih lapangan. Van Praag, yang saat itu memimpin dewan komisaris, mengajak van Gaal bergabung agar klub punya suara berpengalaman di urusan teknis.
Van Gaal menerima. Ia ingin membantu klub yang pernah ia angkat di masa keemasan. Namun formalitas jabatan penasihat tidak menempatkannya di meja pemutus akhir. Ia diajak berpikir, tetapi tidak memegang wewenang resmi atas pelatih atau rekrutmen.
Profil pelatih legendaris itu di media olahraga kerap digandengkan dengan disiplin dan hierarki jelas. Di Ajax modern, posisi luar lingkaran justru membuat visi itu sulit dijalankan.
Perjalanan berat hati Louis van Gaal menuju keputusan mundur

Setelah sekitar tiga tahun melihat pola yang sama, ia meletakkan tugas pada Juli. Ia menilai sudah cukup dan tidak ingin hanya jadi hiasan publik saat klub digoyang kritik.
Dalam wawancara, van Gaal menekankan bahwa setelah van Praag keluar, nasihatnya tidak lagi dipakai. Ia merasa tidak dihargai sebagaimana mestinya oleh Ajax. Frasa itu menjadi inti alasan perginya, bukan sekadar penat usia atau agenda lain.
Ia juga menyinggung pengalaman serupa rekan di jajaran komisaris yang frustrasi karena pengaruh minimal. Bagi van Gaal, Ajax adalah klub hatinya; justru karena itu ia menolak sekadar jadi perisai manajemen tanpa daya ubah.
Mengapa struktur 16 orang Ajax berubah total meski diinspirasi Ajax 1995
Inti kritik teknisnya sederhana: setiap keputusan penting harus ditinjau sekitar 16 orang dari direksi, dewan pengawas, dan dewan manajemen. Van Gaal bahkan berada di luar angka itu, sehingga merasa hanya satu suara di kerumunan.
Dari 16 pihak tersebut, ia menilai hanya dua yang punya pengalaman nyata di sepak bola papan atas. Sisanya ikut bicara soal pengangkatan pelatih dan rekrutmen pemain, padahal dunia bola menuntut keputusan cepat.
Ia membandingkan kondisi itu dengan Ajax 1995, saat hanya lima atau enam orang memutuskan, serta dengan PSV yang kini memiliki jalur komunikasi pendek dari direksi teknis ke pelatih. Ajax musim lalu finis kelima di Eredivisie VriendenLoterij; van Gaal menilai kebangkitan akan lambat selama pengaruh tersebar dan birokrasi memakan waktu.
| Aspek | Ajax 1995 | Ajax kini (kritik van Gaal) | PSV (contoh positif) |
|---|---|---|---|
| Jumlah penentu utama | 5, 6 orang | Sekitar 16 orang + organ setuju | Jalur pendek direksi, pelatih |
| Peran penasihat luar | Tidak relevan model itu | Di luar meja, pengaruh tipis | Fokus operasional teknis |
| Dampak ke keputusan | Cepat, fokus lapangan | Lambat, banyak peninjau | Komunikasi singkat, prestasi |
Tabel di atas merangkum perbandingan yang van Gaal sendiri uraikan: bukan nostalgia semata, melainkan diagnosis kepengurusan. Di dunia kompetisi Eropa yang padat jadwal, menunda penunjukan pelatih atau transfer sama dengan kalah start.
Salah satu poin kritis yang tak dicakup bersaing: prinsip kepemimpinan Ajax
Di luar angka 16, van Gaal mengangkat prinsip yang sering hanya dilabel di ruang ganti: pelatih adalah orang terpenting yang harus punya kuasa membentuk skuad. Jika di lapangan ia menuntut hasil atau pergi, di manajemen aturan yang sama seharusnya berlaku.
Ia menyaksikan di Belanda, termasuk di klub besar lain, pelatih sering tak punya wewenang penuh atas formasi tim. Kontradiksi itu mencolok: ia diminta berpikir sebagai penasihat berpengalaman, tetapi diarahkan berada di luar 16 peninjau.
Sintesis dari multi-wawancara menunjukkan masalahnya bukan satu orang pejabat, melainkan model yang mengundang semua organ ikut menyetujui soal teknis. Akibatnya, waktu habis di rapat, bukan di pekerjaan sepak bola.
Nama belanda louis van juga kembali van gaal ramai di ruang publik karena isu pelatih Oranje, tetapi fokus pengunduran penasihat Ajax berdiri sendiri: kritik tata kelola klub, bukan penunjukan federasi.
Apa yang menanti Ajax pasca rumah van Gaal: laga yang lebih lurus di PSV
Van Gaal menunjuk PSV sebagai cermin: komunikasi singkat antara pihak seperti Marcel Brands dan pelatih, mirip garis yang pernah ia kenal di Ajax masa juara. Di Amsterdam, setiap organ harus diinformasikan dan memberi persetujuan, sehingga direksi terhambat memutus.
Rekomendasi praktis dari logika itu jelas tanpa mengarang penawaran baru: perpendek rantai keputusan teknis, berikan bobot lebih pada orang berlatar sepak bola atas, dan batasi peninjau non-spesialis di soal pelatih serta rekrutmen. Tanpa itu, peringkat kelima bisa berulang.
Optimaise News mencatat dari keterangan narasumber di wawancara bahwa van Gaal pergi karena struktur, bukan karena kehilangan cinta pada Ajax. Bagi penggemar Indonesia yang mengikuti van gaal profil, pesan utamanya soal klub modern: birokrasi panjang melawan tempo bola.







