Logo resmi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tercipta dari sketsa semalam karya M. Shofa Ulul Azmi. Alumnus Pesantren Langitan di Widang Tuban itu merajut metafora visual untuk menyatukan elemen kepemimpinan organisasi.
Desain dasar selesai semalam lalu disempurnakan bertahap hingga ditetapkan PBNU. Inilah makna dan sosok di balik logo Muktamar yang menghubungkan sanad keilmuan hampir seabad lewat karya kreatif.
Sketsa semalam yang jadi identitas forum tertinggi NU
Panggung Muktamar di PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menantikan identitas visual yang kuat. Sketsa kasar Shofa menjadi titik awal yang cepat berkembang.
Dari coretan awal semalam, ia membentuk konstruksi dua lingkaran sebagai elemen utama. Proses finishing menyusul agar logo siap digunakan sebagai cap resmi forum tertinggi.
Karya ini bukan sekadar gambar. Ia merepresentasikan semangat persiapan Muktamar di lokasi bersejarah itu.
Makna Mendalam di Balik Logo Muktamar ke-35 PBNU terungkap lewat proses singkat namun mendalam tersebut.
Optimaise News memandang sketsa tersebut sebagai jembatan visual yang relevan bagi seluruh warga nahdliyin.
Dua lingkaran: harmoni Syuriah-Tanfidziyah ala ayah dan anak

Konstruksi utama logo berupa dua lingkaran yang saling berpadu. Maknanya adalah Syuriah dan Tanfidziyah yang berjalan selaras tanpa saling meniadakan.
Simbol itu juga menggambarkan relasi saling menguatkan bagai ayah dan anak. Filosofi sederhana ini lahir dari pemikiran personal desainer.
Harmoni tersebut menjadi pesan inti menjelang Muktamar. Logo menyampaikan kesatuan struktural organisasi secara visual.
Metafora ayah-anak mengajak warga NU menjaga keseimbangan struktur. Pendekatan ini membedakan logo dari desain biasa.
Sanad Langitan, NU yang terpateri lewat karya visual

Hubungan Langitan dan NU berakar jauh. KH Hasyim Asy’ari bersama KH Abdul Wahab Chasbullah pernah berguru kepada KH Ahmad Sholeh pengasuh Langitan periode kedua.
Framing hampir satu abad sanad keilmuan itu menjadi benang merah di balik terpilihnya karya alumnus. Logo kini memateri koneksi historis tersebut lewat medium modern.
Visual ini menghidupkan kembali rantai keilmuan di era kontemporer. Sanad tidak hanya lisan tapi juga lewat desain.
Sanad tersebut menjadi fondasi kuat mengapa karya dari Langitan terpilih. Generasi kini melanjutkan warisan lewat inovasi visual.
Estafet khidmah dari Widang hingga jajaran Tanfidziyah PBNU
Rantai pengabdian pengasuh Langitan berlanjut lintas generasi. Dimulai dari KH Muhammad Khozin dilanjutkan KH Abdul Hadi Zahid lalu KH Abdullah Faqih yang menjadi Mustasyar PBNU.
Estafet itu sampai pada KH Ma’shum Faqih sebagai Wasekjen PBNU. Ia tercatat sebagai kiai Langitan pertama yang menempati jajaran Tanfidziyah.
KH Ma’shum Faqih menekankan pentingnya khidmah lewat karya pemikiran dan inovasi. Generasi penerus mengikuti jejak itu dengan cara baru.
Dari Widang Tuban hingga struktur pusat, estafet ini menunjukkan kontinuitas. Logo menjadi bukti nyata kelanjutan khidmah tersebut.
Pengabdian tanpa kursi: pesan di balik terpilihnya logo
Terpilihnya logo karya Shofa menyampaikan pesan pengabdian tanpa harus menduduki kursi jabatan. Logo berfungsi sebagai jembatan visual generasi muda yang menutup rantai sanad.
Melalui kreativitas, alumnus muda berkontribusi nyata pada Muktamar. Khidmah semacam ini memperluas cara berjuang di tubuh NU.
Pesan tersebut selaras dengan semangat KH Ma’shum Faqih. Karya visual menjadi bentuk pelayanan yang berdampak luas.
Tanpa jabatan formal, Shofa merajut ulang kepemimpinan lewat metafora. Pendekatan ini membuka ruang partisipasi lebih luas bagi pemuda pesantren.
Tanya Jawab
Apa yang menjadi dasar logo Muktamar ke-35 NU?
Sketsa semalam yang dikembangkan menjadi dua lingkaran oleh M. Shofa Ulul Azmi, alumnus Pesantren Langitan Widang Tuban. Desain dasar selesai semalam kemudian disempurnakan.
Mengapa lokasi Tambakberas penting bagi identitas logo?
Muktamar digelar di PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sehingga lokasi menjadi panggung yang memperkuat makna visual logo sebagai cap resmi.
Bagaimana sanad Langitan terkait dengan pendiri NU?
KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah berguru kepada KH Ahmad Sholeh di Langitan. Ini membentuk rantai keilmuan hampir seabad yang kini dihidupkan lewat logo.
Apa pesan utama di balik terpilihnya logo ini?
Pengabdian bisa dilakukan lewat karya dan inovasi tanpa kursi jabatan. Logo menjadi bentuk khidmah generasi muda menutup rantai sanad kepemimpinan NU.







