Bank Mandiri memperluas penyaluran kredit hampir dua kali lebih kencang dari rata-rata industri sepanjang semester I-2026. Di momen yang sama, bank pelat merah ini justru mencatat perbaikan serentak di empat indikator risiko utama sekaligus.
Inti artikel
- Bank Mandiri memperluas penyaluran kredit hampir dua kali lebih kencang dari rata-rata industri sepanjang semester I-2026
- Di momen yang sama, bank pelat merah ini justru mencatat perbaikan serentak di empat indikator risiko utama sekaligus
- NPL turun ke 0,98 persen, LAR merosot ke 5,93 persen, SML menyusut ke 2,89 persen, dan CoC bertahan di 0,52 persen
NPL turun ke 0,98 persen, LAR merosot ke 5,93 persen, SML menyusut ke 2,89 persen, dan CoC bertahan di 0,52 persen. Disiplin manajemen risiko, bukan sekadar lonjakan laba, menjadi inti cerita kinerja ini. Optimaise News merangkum data lengkap di bawah.
Tiga Indikator Risiko Turun Bersamaan di Kuartal II-2026
Di kuartal II-2026 Bank Mandiri mencatat perbaikan multi-metrik yang jarang terjadi bersamaan. Non performing loan atau NPL turun 10 basis poin secara year on year menjadi 0,98 persen.
Angka itu jauh di bawah kisaran industri yang berada di sekitar 2,17 persen. Model ekspansi tetap pruden meski volume kredit melonjak tajam.
Loan at Risk atau LAR turun 1,13 poin persentase year on year menjadi 5,93 persen. Indikator leading risk ini menangkap pinjaman berpotensi bermasalah lebih awal, dan penurunannya jadi sinyal positif kuat.
Special mention loan atau SML (kolektibilitas 2) turun 5,3 basis poin year on year menjadi 2,89 persen. Ketiga metrik bergerak sejalan dan membentuk dashboard risiko utuh yang jarang diangkat di berita laba.
- NPL: 0,98% (turun 10 bps yoy)
- LAR: 5,93% (turun 1,13 pp yoy)
- SML: 2,89% (turun 5,3 bps yoy)
- CoC: 0,52%
Kredit Rp1.592 Triliun Hampir 2x Industri, Kualitas Tetap Ketat

Portofolio kredit Bank Mandiri tumbuh 19,9 persen year on year dan menembus Rp1.592 triliun. Laju pertumbuhan itu hampir dua kali lipat rata-rata industri perbankan.
Meski ekspansi kencang, kualitas aset tetap terjaga ketat. Tidak ada lonjakan NPL maupun LAR yang biasanya mengiringi pertumbuhan cepat di sektor perbankan.
Sintesis ini membedakan Bank Mandiri: pertumbuhan bisnis dan perbaikan multi-indikator risiko berjalan beriringan, bukan cerita terpisah. Pembaca awam bisa melihat ekspansi pruden yang berkelanjutan.
Pencadangan Kuat Tahan Cost of Credit di Level 0,52%

Cost of credit atau CoC Bank Mandiri berada di level 0,52 persen. Angka rendah ini ditopang pencadangan yang kuat dan proaktif, bukan sekadar kebetulan angka sambil lalu.
Manajemen tidak hanya mengejar volume kredit. Mereka memastikan buffer cadangan cukup untuk menyerap potensi kerugian di masa depan sehingga laba lebih stabil.
CoC rendah berarti biaya penutupan risiko kredit lebih hemat. Ini menjadi bukti konkret bahwa disiplin cadangan berjalan selaras dengan ekspansi.
DPK di Atas Rata-Rata Industri dan Optimisme Kontribusi Ekonomi
Dana pihak ketiga atau DPK tumbuh 17,1 persen year on year. Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata industri dan memberi landasan likuiditas yang solid.
Direktur Utama Riduan menegaskan ekspansi tetap dijalankan secara pruden. Tujuannya agar aset tetap sehat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kombinasi DPK kuat dan kredit berkualitas memberi ruang bank untuk terus berkontribusi ke sektor produktif tanpa mengorbankan kesehatan neraca.
Sinyal Manajemen Risiko: Komitmen dari Direktur Risk Management
Direktur Risk Management Danis Subyantoro menegaskan tren perbaikan LAR dan SML berlanjut. Komitmen manajemen risiko menjadi fondasi utama di balik angka-angka positif ini.
Bank Mandiri memandang pertumbuhan bisnis harus selalu selaras dengan perbaikan kualitas aset. Pendekatan multi-indikator ini membedakan mereka di tengah persaingan ekspansi kredit.
Sinyal dari jajaran direksi menunjukkan fokus jangka panjang, bukan sekadar target kuartalan. Pembaca bisa membaca arah strategi bank ke depan lewat metrik risiko yang terus membaik.







