Jakarta, Optimaise News – Kepala Badan Kepegawaian Negara Zudan Arif Fakrulloh yang berusia 56 tahun merancang sendiri skema akumulasi manfaat hari tua bersama PT Taspen. Targetnya menembus Rp1 miliar pada saat pensiun lewat investasi bertahap dan tabungan disiplin.
Inti artikel
- Targetnya menembus Rp1 miliar pada saat pensiun lewat investasi bertahap dan tabungan disiplin
- Dia menegaskan sudah membuktikan skema itu realistis dan insya Allah akan menerima Rp1 miliar
- Langkah ini digelar jauh sebelum pemerintah memberlakukan sistem gaji tunggal atau single salary bagi seluruh aparatur
Dia menegaskan sudah membuktikan skema itu realistis dan insya Allah akan menerima Rp1 miliar. Langkah ini digelar jauh sebelum pemerintah memberlakukan sistem gaji tunggal atau single salary bagi seluruh aparatur.
Rincian Skema Pensiun Lama Versus Perencanaan Baru
Aturan lama membatasi manfaat paling tinggi 75 persen dari gaji pokok terakhir sebulan. Tunjangan kinerja tidak ikut dihitung sehingga angka final sering kecil. Peraturan pemerintah yang mengatur gaji pokok golongan IVe dengan 32 tahun masa kerja hanya Rp6,37 juta. Hasilnya pensiun sekitar Rp4,77 juta per bulan.
Bandingkan dengan Perpres tentang tunjangan kinerja. Pelaksana di Ditjen Pajak menerima Rp5,36 juta sampai Rp7,67 juta. Pejabat eselon III hingga I bisa Rp42,05 juta hingga Rp117,37 juta. Jika single salary diterapkan, gaji pokok pejabat eselon I Ditjen Pajak diproyeksi Rp123,74 juta. Pensiun 75 persen-nya setara Rp92,80 juta per bulan.
Namun angka Rp1 miliar yang disebut Zudan adalah akumulasi perencanaan Tabungan Hari Tua atau THT. Bukan pemberian otomatis kepada setiap PNS. Simulasi tersebut hanya muncul jika ASN menabung disiplin melalui instrumen Taspen Life.
| Komponen | Nilai (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|
| Gaji pokok IV e 32 thn | 6.370.000 | PP 5/2024 |
| Pensiun 75% lama | 4.770.000 | Tanpa tukin |
| Tukin eselon I Pajak | 117.370.000 | Perpres 37/2015 |
| Single salary proyeksi | 123.740.000 | Pokok + tukin |
| Pensiun 75% single | 92.800.000 | Per bulan |
| Target THT Zudan | 1.000.000.000 | Akumulasi Taspen |
Perbandingan Dana Pensiun di BUMN dan Instrumen Lain

Konsep dana pensiun adalah jaminan keuangan di masa nonaktif. Banyak karyawan BUMN sudah familiar dengan pola serupa. Dana pensiun telkom dan dana pensiun pertamina menjadi contoh program korporasi yang memadukan iuran wajib plus investasi. Dana pensiun astra juga menerapkan skema disiplin menabung bertahap.
Zudan meniru pendekatan itu untuk ASN. Komitmen bulanan kecil digabung investasi terus-menerus di Taspen dinilai mampu memperbesar nilai akhir. Forum BKN Menyapa BKD pada Juni 2026 bahkan mengusung tema Manfaat Tabungan Hari Tua ASN 1 Miliar. Instrumen lewat Taspen Life tersedia untuk peserta yang ingin menyusul.
Optimaise News mencatat bahwa tanpa perencanaan pribadi, manfaat resmi tetap terpaku pada formula 75 persen gaji pokok. Selisih antara Rp4,77 juta dan target Rp1 miliar sangat mencolok. Itulah mengapa disiplin investasi menjadi kunci.
Dampak Single Salary dan Langkah ASN Hari Ini
Sistem gaji tunggal akan menaikkan basis perhitungan pensiun pejabat struktural. Simulasi eselon I pajak saja sudah hampir Rp93 juta sebulan. Namun implementasi penuh masih menunggu. Sementara itu ASN bisa mulai menabung sekarang lewat skema yang sama seperti Zudan.
Investasi bertahap tidak memerlukan modal besar di awal. Yang dibutuhkan adalah komitmen rutin. Banyak peserta Taspen Life sudah membuktikan portofolio tumbuh signifikan dalam 10 hingga 15 tahun. Pola itu bisa ditiru tanpa menunggu single salary resmi.
Bagi pejabat muda, start dini memperbesar peluang mencapai akumulasi miliaran. Bagi yang mendekati usia pensiun, fokus pada maksimalisasi iuran residual. Optimaise News menekankan bahwa target Rp1 miliar bukan janji universal. Ia hasil kerja pribadi yang terukur.







