Jakarta, Optimaise News – Persiapan masa pensiun menjadi krusial bagi aparatur sipil negara atau ASN. Dana pensiun yang dikumpulkan secara bertahap dapat memberikan manfaat besar saat memasuki usia tidak aktif. Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Zudan Arif Fakrulloh sendiri membuktikan hal ini melalui program perencanaan yang dirancang bersama PT Taspen.
Inti artikel
- Persiapan masa pensiun menjadi krusial bagi aparatur sipil negara atau ASN
- Dana pensiun yang dikumpulkan secara bertahap dapat memberikan manfaat besar saat memasuki usia tidak aktif
- Zudan Arif Fakrulloh yang berusia 56 tahun itu mengaku telah membangun program tersebut secara disiplin
Cara Kepala BKN Susun Program Rp1 Miliar di Taspen
Zudan Arif Fakrulloh yang berusia 56 tahun itu mengaku telah membangun program tersebut secara disiplin. Ia rutin menabung dan menginvestasikan dana secara bertahap di Taspen. Komitmen ini membuat nominal dana pensiun mampu mencapai Rp1 miliar sebelum masa pensiun resmi. “Saya sudah membuktikan ternyata bisa,” ungkap Zudan kepada CNBC Indonesia dikutip Minggu lalu. Ia menekankan skema ini dilaksanakan sejak dini.
Mengapa Pensiun PNS Anjlok tanpa Tunjangan Kinerja

Pensiun ASN saat ini hanya memperhitungkan gaji pokok terakhir sesuai Undang-undang Nomor 11 Tahun 1969. Pasal 11 aturan itu menyebut batas maksimal 75 persen dari gaji pokok. Kasus lain menunjukkan perhitungan sederhana ini sering kurang memadai karena komponen tunjangan kinerja atau tukin tidak dimasukkan.
Perhitungan 75% Gaji Pokok vs Skema Single Salary
Tunjangan kinerja atau tukin di beberapa instansi memang besar. Di Direktorat Jenderal Pajak contohnya, pejabat pelaksana mendapat minimal Rp5,36 juta dan pejabat struktural eselon I hingga Rp117,37 juta. Namun saat pensiun, uang ini tidak ikut dihitung.
Bila seorang PNS golongan IV e dengan masa kerja 32 tahun memiliki gaji pokok terakhir Rp6,37 juta, manfaat pensiun bulanan hanya Rp4,77 juta. Solusi yang sering disebut Zudan adalah sistem single salary yang menyatukan seluruh komponen pendapatan ke dalam satu nominal. Berdasarkan simulasi, pejabat eselon I di lingkungan DJP bisa memperoleh gaji bulanan Rp123,74 juta sehingga pensiun 75 persen mencapai Rp92,80 juta per bulan.
Rp1 Miliar: Target Akumulasi THT, Bukan Otomatis Semua ASN
Angka Rp1 miliar yang disebut Zudan bukan janji otomatis untuk seluruh PNS. Skema ini dirancang sebagai target akumulasi Tabungan Hari Tua yang didapatkan bertahap sebelum sistem gaji tunggal benar-benar diterapkan. Program perencanaan pensiun resmi di PT Taspen menjadi pilihan utama sebelum realisasi perubahan kesejahteraan ASN.
Portofolio Investasi Taspen yang Menopang Manfaat Hari Tua
Dana pensiun ASN dikelola melalui berbagai instrumen. PT TASPEN tercatat memiliki porsi saham di sedikitnya 15 emiten Bursa Efek Indonesia per data Kustodian Sentral Efek Indonesia per 31 Juli 2026. Kepemilikan terbesar berada di Bank Tabungan Negara BBTN dengan 4,95 persen, diikuti PT PP London Sumatra Indonesia LSIP 3,41 persen dan Jasa Marga JSMR 2,98 persen.
Portofolio ini juga mencakup emiten swasta dan BUMN lain seperti Indocement INTP, Puradelta DMAS serta Bumi Serpong Damai BSDE. Strategi ini membantu mengoptimalkan manfaat hari tua dengan penyebaran risiko di sektor perbankan, infrastruktur, properti dan perkebunan. Optimaise News mencatat bahwa pendekatan serupa mencerminkan pentingnya pengelolaan dana pensiun yang berkelanjutan.







