Jakarta, Optimaise News – Kedutaan Besar Iran di Indonesia menegaskan program nuklir Teheran tidak pernah ditujukan untuk memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan lewat unggahan di X pada Minggu, 2 Agustus 2026, serta di Instagram @IraninIndonesia.
Inti artikel
- Kedutaan Besar Iran di Indonesia menegaskan program nuklir Teheran tidak pernah ditujukan untuk memiliki senjata nuklir
- Pernyataan itu disampaikan lewat unggahan di X pada Minggu, 2 Agustus 2026, serta di Instagram @IraninIndonesia
- Optimaise News mencatat penegasan ini muncul di tengah isu nuklir regional yang kembali ramai dibahas publik
Program disebut dikembangkan untuk kebutuhan energi nasional dan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, dengan pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta landasan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Optimaise News mencatat penegasan ini muncul di tengah isu nuklir regional yang kembali ramai dibahas publik.
Pernyataan resmi Kedutaan Iran di Jakarta
Kedubes Iran, konsulat jenderal, dan perwakilan di Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang seiring respons resmi. Melalui unggahan media sosial, Teheran menekankan program nuklir hanya untuk kepentingan damai dan dijalankan sesuai hukum internasional.
Infografis juga dilampirkan. Kutipan resmi di akun Instagram @IraninIndonesia berbunyi: “Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya.”
Pernyataan itu mengulang posisi lama Iran: teknologi nuklir dimanfaatkan untuk energi, kesehatan, dan penelitian, bukan persenjataan.
Dasar hukum dan pengawasan internasional

Iran menyatakan seluruh aktivitas nuklir berada di bawah pengawasan IAEA. Pemerintah Teheran mengklaim telah menerapkan salah satu rezim inspeksi nuklir paling ketat di dunia.
Program berlandaskan NPT. Fatwa Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran melarang kepemilikan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal disebut tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan negara tersebut.
Teheran menegaskan program dijalankan secara transparan, damai, dan tetap dalam kerangka NPT. Klaim ini tetap menjadi sorotan internasional karena kekhawatiran sejumlah negara Barat terkait tingkat pengayaan uranium dan kepatuhan terhadap komitmen nuklir.
Dampak pidato Prabowo soal nuklir Timur Tengah
Pidato Presiden Prabowo di depan pengusaha Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat 31 Juli 2026, sempat viral. Saat membahas kepemilikan senjata nuklir beberapa negara, termasuk eskalasi di Timur Tengah yang menyinggung Iran dan Arab Saudi, potongan video tiba-tiba disisipi materi lain.
Video tersebut sempat hilang dari kanal YouTube, lalu muncul lagi dalam versi yang disebut sudah dipotong. Warganet mempertanyakan mengapa bagian itu hilang. Bagi pembaca di Indonesia, isu ini relevan karena RI terikat NPT pasal 2 dan SEANWFZ pasal 3 yang melarang memiliki atau mengembangkan senjata nuklir.
Catatan Optimaise News menunjukkan, perhatian publik pada pidato itu beririsan dengan pernyataan Kedubes Iran yang ingin meredam spekulasi kepemilikan senjata.
Analisis senjata Iran yang lebih ampuh daripada nuklir
Analis militer menilai kendali Iran atas Selat Hormuz bisa menjadi instrumen lebih efektif daripada bom nuklir dalam konflik yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Joshua Tallis, mantan pejabat senior Angkatan Laut AS yang kini di Center for Naval Analyses (CNA), mengatakan kemampuan Iran menimbulkan penderitaan ekonomi global dalam beberapa hal merupakan senjata lebih ampuh daripada bom nuklir.
Iran telah lama mengancam menutup Selat Hormuz jika terjadi konfrontasi militer skala penuh. Retorika itu berakar dari perang 1980-an dengan Irak dan menguat setelah penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015. Serangan terhadap kapal komersial dengan senjata relatif murah menciptakan efek berantai pada perdagangan energi, asuransi, dan rute pelayaran global, sekaligus menguras amunisi canggih pihak lawan.
Peta persebaran senjata nuklir dunia
Sembilan negara memiliki senjata nuklir resmi dengan total sekitar 12.331 hulu ledak. Rusia memegang jumlah terbanyak, diikuti Amerika Serikat. Dua negara itu menguasai hampir 90 persen total senjata nuklir dunia. Estimasi kapasitas Korea Utara dan Israel belum pasti.
Di Eropa, ketegangan nuklir juga meningkat. Perwakilan Rusia untuk CSTO, Viktor Vasilyev, menegaskan doktrin militer Moskow memungkinkan penggunaan senjata nuklir untuk membela sekutu jika diserang. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan fase baru penangkalan nuklir dan berjanji menambah hulu ledak. Parlemen Finlandia sebelumnya menyetujui pencabutan larangan terkait senjata nuklir di negaranya.






