Kebangkrutan Jepang Melonjak 33,3 Persen di 2023

Author Image

Adel

17 July 2026

Kebangkrutan Jepang Melonjak 33,3 Persen di 2023

Kebangkrutan perusahaan Jepang pada 2023 naik 33,3 persen secara tahunan menjadi 8.497 kasus, lonjakan terbesar sejak pecahnya gelembung ekonomi. Angka itu bertambah 2.121 kasus dari 6.376 pada tahun sebelumnya, menurut Ringkasan Kepailitan Perusahaan Nasional Laporan Tahunan 2023 Teikoku Data Bank (TDB).

Optimaise News mencatat minat pencarian kebangkrutan kembali menguat seiring data Jepang itu, rekor bangkrut ribuan korporasi Jerman, dan ancaman kebangkrutan massal produsen mobil listrik lokal di China.

Angka kasus, liabilitas, dan pola bulanan

Laporan TDB menyatakan 2023 menjadi tahun kedua berturut-turut jumlah kasus melampaui tahun sebelumnya. Tingkat kasus juga untuk pertama kalinya setinggi itu dalam delapan tahun sejak 2015 yang mencatat 8.517 kasus.

“Ini adalah tahun kedua berturut-turut bahwa jumlah kasus telah melebihi tahun sebelumnya, dan telah berada pada tingkat untuk pertama kalinya tinggi dalam delapan tahun sejak 2015 (8.517 kasus),” tulis laporan TDB.

Tren bulanan lebih tinggi dari bulan yang sama tahun sebelumnya selama 20 bulan beruntun sejak Mei 2022. Desember 2023 menjadi puncak dengan 806 kasus, dan kenaikan menguat di paruh kedua tahun terutama pada usaha kecil dan menengah.

Total kewajiban mencapai 2.376.903 juta yen, hampir datar atau naik 0,2 persen dari 2.372,38 miliar yen setahun sebelumnya. Liabilitas terbesar datang dari LCD Panasonic lewat likuidasi khusus September dengan 583,6 miliar yen, setara seperempat total.

UKM tertekan dan penyebab utama kebangkrutan

UKM tertekan dan penyebab utama kebangkrutan

Selain berkurangnya dukungan era corona, kebangkrutan UKM melonjak karena tidak lagi menahan kenaikan biaya akibat harga tinggi dan kekurangan tenaga kerja. Perusahaan besar dan emiten cenderung menempuh restrukturisasi lewat skema likuidasi swasta sehingga bangkrut skala besar relatif mereda.

Bagi pembaca Indonesia, pola serupa sering muncul saat mencari sritex bangkrut atau tupperware bangkrut: tekanan biaya, rantai pasok, dan hilangnya bantalan stimulus memperparah financial distress. Data Jepang menegaskan UKM paling rapuh saat inflasi input dan kelangkaan tenaga kerja berpadu.

Gempa Semenanjung Noto dan risiko rantai pasok

Gempa Semenanjung Noto dan risiko rantai pasok

Pada Tahun Baru 2024, gempa besar berpusat di Semenanjung Noto, Prefektur Ishikawa. Korban tewas sudah melebihi 200 per 9 Januari 2024, sementara intensitas seismik maksimum 7 tercatat di wilayah Noto.

Survei Teikoku Databank per 5 Januari mencatat 4.075 perusahaan berkantor pusat di wilayah Noto pada November 2023. Kekhawatiran menyasar konstruksi, kerajinan tradisional, pariwisata, dan industri elektronik, termasuk pabrik milik perusahaan besar.

Pengalaman Gempa Besar Jepang Timur dan Gempa Heisei 28 Kumamoto menunjukkan dampak tak hanya kerusakan langsung. Gangguan mitra bisnis dan pasokan bahan baku bisa memicu bangkrut tidak langsung di luar zona gempa jika rekonstruksi berlarut.

Prediksi 2024 dan gelombang bangkrut di luar Jepang

TDB memprediksi 2024 masih fase peningkatan, dengan risiko kebangkrutan bisa naik setelah April 2024. Pemulihan pascagempa Noto menjadi variabel yang dipantau ketat bagi aktivitas korporasi di wilayah terdampak.

Di luar Jepang, berita terkini mencatat kebangkrutan ribuan korporasi Jerman menembus rekor tertinggi sejak 2005. Pasar mobil listrik China juga melemah di tengah ancaman kebangkrutan massal produsen lokal, memperkuat alasan kenapa topik kebangkrutan ramai dicari.

Dalam ringkasan Optimaise News, sinyal global itu relevan bagi pelaku usaha di Indonesia yang memantau tekanan biaya, utang, dan rantai pasok. Mengenali gejala awal financial distress tetap krusial sebelum opsi bangkrut menjadi jalan terakhir.