Malang, Optimaise News – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyetujui nama Kanjuruhan untuk Bus Trans Jatim Koridor II rute Malang-Kepanjen. Pilihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya melengkapi identitas lokal yang sudah melekat pada koridor Gajayana di Kota Malang. Nama itu diambil langsung dari Kerajaan Kanjuruhan, kerajaan Hindu kuno abad ke-6 Masehi yang berpusat di wilayah Malang di bawah pimpinan Raja Gajayana.
Inti artikel
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyetujui nama Kanjuruhan untuk Bus Trans Jatim Koridor II rute Malang-Kepanjen
- Pilihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya melengkapi identitas lokal yang sudah melekat pada koridor Gajayana di Kota Malang
- Layanan ini dijadwalkan beroperasi mulai Oktober 2026
Layanan ini dijadwalkan beroperasi mulai Oktober 2026. Optimaise News merangkai proses lengkap usulan nama, jejak sejarah, rute final lewat Gondanglegi, hingga kaitan warisan yang memberi makna lebih bagi penumpang harian Malang Raya.
Proses Tiga Usulan Nama hingga Persetujuan Gubernur
Dinas Perhubungan Kabupaten Malang mengajukan tiga usulan nama setelah mendapat arahan dari Dishub Provinsi Jawa Timur dan Bupati setempat. Ketiga opsi itu adalah Trans Jatim Garudeya, Trans Jatim Kanjuruhan, serta Trans Jatim Panji. Proses ini berlangsung terbuka agar nama yang dipilih benar-benar mewakili identitas kawasan.
Gubernur Khofifah akhirnya memilih Kanjuruhan. Keputusan itu mengunci branding resmi koridor II. Pejabat Dishub menegaskan bahwa penamaan ini dilakukan agar penumpang langsung mengenali karakter lokal saat naik bus.
Usulan nama datang seiring penyiapan armada dan infrastruktur. Koordinasi lintas instansi mempercepat persetujuan tanpa menunda timeline operasi.
Jejak Kerajaan Kanjuruhan dan Raja Gajayana di Balik Pilihan

Kerajaan Kanjuruhan dikenal sebagai kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-6 Masehi. Pusat pemerintahannya berada di Malang, dipimpin Raja Gajayana yang menjadi tokoh sentral sejarah lokal. Jejak kerajaan ini masih terasa lewat situs dan cerita rakyat yang hidup di masyarakat Malang Raya.
Pemilihan nama Kanjuruhan justru berangkat dari fakta sejarah itu. Para perumus ingin penumpang merasakan kebanggaan warisan kuno setiap kali naik bus. Nama ini bukan label kosong, melainkan pengingat bahwa transportasi modern bisa menyatu dengan akar budaya daerah.
Dengan demikian, branding Trans Jatim Koridor II membawa pesan ganda. Di satu sisi layanan angkutan massal, di sisi lain penghormatan pada raja dan kerajaan yang pernah berjaya di tanah yang sama.
Rute Final via Gondanglegi serta Timeline Operasi Oktober 2026

Dishub Kabupaten Malang semula menyusun tiga alternatif rute dari Terminal Hamid Rusdi. Opsi pertama lewat Kacuk, opsi kedua Sempalwadak, dan opsi ketiga Gondanglegi. Setelah kajian potensi penumpang, rute lewat Gondanglegi ditetapkan sebagai jalur final.
Rute lengkapnya menghubungkan Terminal Hamid Rusdi, Bululawang, Gondanglegi, hingga Terminal Talangagung di Kepanjen. Survei sekitar 40 titik halte segera dilanjutkan setelah rute final disepakati. Langkah ini memastikan lokasi berhenti sesuai kebutuhan warga di sepanjang koridor.
Bus dijadwalkan mulai beroperasi Oktober 2026. Koordinasi dengan paguyuban angkudes dan sopir angkot tetap digelar untuk meredam resistensi. Skema alternatif lewat tol atau Jalan Mayjen Sungkono sempat dibahas sebagai cadangan bila densitas di jalur utama terlalu tinggi. Optimaise News mencatat bahwa dialog dengan pengemudi lokal menjadi kunci agar layanan baru tidak memicu konflik.
Kaitan Identitas dengan Koridor Gajayana di Kota Malang
Koridor di dalam Kota Malang sebelumnya sudah memakai nama Gajayana. Nama itu merujuk pada raja yang sama dari Kerajaan Kanjuruhan. Kini penamaan Koridor II sebagai Kanjuruhan menciptakan pasangan identitas yang utuh.
Penumpang yang pindah dari jalur kota ke jalur Malang-Kepanjen akan merasakan kesinambungan sejarah. Branding ganda ini memperkuat citra Malang Raya sebagai kawasan yang menjaga warisan sambil membangun transportasi modern. Dampaknya tidak hanya pada operasional bus, melainkan juga pada kebanggaan warga yang sehari-hari menggunakan layanan tersebut.
Sintesis lengkap dari proses penamaan, jejak kerajaan, rute final, dan timeline operasi memberi gambaran utuh. Pembaca memahami bahwa Kanjuruhan bukan sekadar label, tapi jembatan antara masa lalu dan kebutuhan mobilitas masa kini.





