Jakarta, Optimaise News – Komunitas pedagang Arab Muslim sudah menetap di Pantai Barus, Sumatera Utara, sekitar tahun 625 Masehi. Jaraknya hanya sembilan tahun setelah wahyu pertama turun di Makkah, saat Nabi Muhammad SAW masih memimpin komunitas awal di Jazirah Arab.
Inti artikel
- Komunitas pedagang Arab Muslim sudah menetap di Pantai Barus, Sumatera Utara, sekitar tahun 625 Masehi
- Jaraknya hanya sembilan tahun setelah wahyu pertama turun di Makkah, saat Nabi Muhammad SAW masih memimpin komunitas awal di Jazirah Arab
- Optimaise News merangkum rangkaian bukti yang menyusun teori Makkah tentang jalur masuknya ajaran baru itu
Temuan arkeologi dan catatan Tiongkok klasik menempatkan Bandar Khalifah Barus sebagai salah satu titik paling awal kehadiran Islam di bumi Nusantara, jauh sebelum kerajaan-kerajaan Islam besar berdiri. Optimaise News merangkum rangkaian bukti yang menyusun teori Makkah tentang jalur masuknya ajaran baru itu.
Catatan Chu Fan Chi soal Pemukim Arab di Barus
Naskah Chu Fan Chi mengutip catatan Chou Ku-Fei yang menyebutkan adanya kelompok Muslim Arab di wilayah pantai utara Sumatera sekitar 625 Masehi. Mereka disebut Ta-Shih oleh orang Tiongkok, istilah yang merujuk pada komunitas dari arah barat.
Bandar Khalifah di Pantai Barus menjadi pelabuhan ramai yang dilalui kapal dagang. Para penjelajah itu tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga keyakinan baru yang sedang tumbuh di Makkah dan Madinah. Teori Makkah menegaskan rute langsung dari jazirah Arab pada abad pertama Hijriyah atau abad ketujuh Masehi.
Motivasi pelayaran tidak semata untung dagang. Ajaran Islam mendorong umat mencari ilmu dan memperluas jaringan perniagaan sampai ke negeri jauh. Rute menuju Tiongkok sudah dikenal lama, dan Nusantara menjadi persinggahan alami.
Makam Syekh Rukunuddin 672 Masehi di Mahligai

Riset bersama EFEO Prancis serta Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menemukan makam Syekh Rukunuddin yang wafat tahun 672 Masehi di kompleks Mahligai, Barus. Temuan ini memberi jangkar kronologis yang lebih kuat bagi kehadiran tokoh Muslim di pesisir Sumatera.
Data arkeologi tersebut memperkuat narasi bahwa komunitas awal tidak sekadar lewat, melainkan menetap dan membangun kehidupan religius. Lalu lintas antara Arab, Nusantara, dan Cina sudah terbuka sebelum abad kelima Masehi, sehingga jalur yang sama kemudian membawa para dai awal.
Buku Awal Mula Muslim di Bali yang meneliti Kampung Loloan Jembrana mencatat kecepatan penyebaran yang mencolok. Dari pelabuhan utara, pengaruh meluas ke wilayah lain dalam tempo relatif singkat bagi skala geografis kepulauan.
Barus Kota Pelabuhan Kosmopolitan
Antara abad kesembilan hingga kedua belas Masehi, Barus tumbuh menjadi kota pelabuhan kosmopolitan. Penduduknya beragam: orang Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Bugis, dan Bengkulu hidup berdampingan di sekitar bandar.
Keberagaman itu mempermudah pertukaran ide dan praktik keagamaan. Komunitas awal di pesisir ini kemudian melahirkan cikal bakal politik Islam, mulai dari Kerajaan Perlak hingga Kerajaan Samudera Pasai. Rantai perdagangan yang sudah mapan menjadi jembatan alami bagi consolidasi kekuasaan baru.
Para pedagang yang singgah tidak membawa tentara, melainkan jaringan family, bahasa, dan kepercayaan. Proses damai ini menjelaskan mengapa jejak Islam muncul di catatan Tiongkok dan batuan nisan jauh sebelum kerajaan besar mencatat sejarah formal.
Teori Makkah dan Jarak Hanya Sembilan Tahun
Teori Makkah menempatkan kedatangan langsung dari pusat wahyu. Angka 625 Masehi menempatkan pemukim Barus hanya sembilan tahun setelah peristiwa Gua Hira. Periode ini bertepatan dengan masa Nabi Muhammad SAW masih hidup dan aktif membimbing umat.
Optimaise News menyoroti bagaimana data klasik dan temuan modern saling mengunci. Catatan Tiongkok, nisan Syekh Rukunuddin, serta deskripsi kota multi-etnis membentuk garis waktu yang konsisten. Perdagangan yang sudah aktif sebelum abad kelima menyediakan infrastruktur tanpa perlu menanti abad belakangan.
Penyebaran cepat yang disebut dalam kajian Kampung Loloan menunjukkan jaringan dawah informal berjalan efektif. Dari bandar kecil di barat laut Sumatera, komunitas Muslim merambah pesisir lain dan membentuk fondasi kerajaan yang kelak dikenal luas.
Dengan demikian, jejak Islam di Nusantara tidak dimulai dari masa yang jauh belakangan, melainkan berakar pada puluhan tahun pertama setelah wahyu. Barus menjadi saksi bisu pertemuan antara pelayar Arab dan masyarakat setempat di masa yang sangat dini.







