Yogyakarta, Optimaise News – Eross Candra, gitaris Sheila On 7, menegaskan peran radio sebagai faktor penentu sukses besar band asal Yogyakarta itu di era 1999. Dalam wawancara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 4 Agustus 2026, Eross membahas betapa besarnya kontribusi radio yang membuka jalan karier Sheila On 7 dari fase indie hingga panggung nasional.
Inti artikel
- Eross Candra, gitaris Sheila On 7, menegaskan peran radio sebagai faktor penentu sukses besar band asal Yogyakarta itu di era 1999
- Suatu stasiun radio inisiatif memutar lagu ‘Dan’ tanpa sepengetahuan pihak label Sony Music
- Respons pendengar datang begitu saja, membuat judul itu meledak lebih cepat dari rencana
Inisiatif Radio Pilih ‘Dan’ Sebelum Label Tentukan Single Kedua
Suatu stasiun radio inisiatif memutar lagu ‘Dan’ tanpa sepengetahuan pihak label Sony Music. Respons pendengar datang begitu saja, membuat judul itu meledak lebih cepat dari rencana.
Label sempat bingung karena kaset lengkap album sudah dikirim ke seluruh radio. Pemutaran terpisah membuat Sony Music heran mengapa satu stasiun berani menyoroti lagu itu lebih dulu. Eross mengingat, respons pasar saat single pertama berjudul ‘Kita’ masih biasa saja.
Sekilas setelah itu, Sheila On 7 merasakan gelombang besar. Band langsung kebanjiran undangan tampil di berbagai kota, karena keberanian radio memicu efek domino yang melibatkan banyak stasiun lain.
Efektif Combo dari Radio hingga Panggung Padat

Keberanian itu menjadi titik balik. Sheila On 7 yang semula dianggap masih biasa saja kini melaju cepat menyusul lonjakan itu. Popularitas meningkat drastis, sehingga band merasa seperti mendapat ombak besar yang memungkinkan mereka menikmati perjalanan karier dengan lebih bebas.
Langkah sederhana stasiun lokal ternyata mengubah segalanya. Band kini tak lagi hanya mengandalkan label, melainkan dukungan langsung dari pendengar melalui radio yang membuat lagu-lagu mereka akrab di telinga masyarakat luas.
Dari Era Indie SMA Jogja hingga Jiz FM
Sejak masih di bangku SMA, Sheila On 7 berstatus band indie di Yogyakarta. Radio lokal seperti Jiz FM memutar lagu-lagu band meski belum punya kontrak label besar. Ruang cakupan masih terbatas di wilayah Jogja saja, namun frekuensi pemutaran tersebut sudah membuat lagu-lagu semakin mudah dikenal pendengar setempat.
Eross mengakui peran radio sudah terasa sejak fase awal ini. Ia mengibaratkan radio seperti orang tua yang membuka pintu ke dunia yang sangat luas bagi anak-anak. Tanpa radio, mungkin nasibnya berbeda. “Mungkin kalau nggak ada radio mungkin saya jadi guru Taekwondo sekarang. Beneran itu beneran,” ucap Eross.
Alasan Lebih Nyaman dengan Radio Daripada Podcast
Sekarang Eross lebih memilih tampil di radio dibandingkan podcast meski yang kedua tren banyak. Ia merasa dialog panjang memaksa itu terlalu melelahkan dan mirip promosi berlebihan. “Ya biasanya, ‘Nanti ya kalau aku sudah satu musim mau ngomong banyak, nanti aku pasti datang’. Karena ya memang ngomong banyak itu terlalu PR buat aku,” jelasnya.
Di balik alasan itu tetap ada ikatan emosional yang kuat antara Sheila On 7 dengan media radio. Radio pernah menjadikan band mereka semakin akrab dengan masyarakat sejak era indie hingga kini. Dalam rangkuman Optimaise News, cerita ini mengingatkan betapa pentingnya medium tradisional di tengah hiruk-pikuk digital.







