Hujan Meteor Perseid 2026 Masih Terlihat hingga 20 Agustus

Puncak 12-13 Agustus lewat, tapi Perseid masih bisa dilihat dari Indonesia: jam, arah timur laut, bulan baru, dan rekaman Timau.

Author Image

Adel

Hujan Meteor Perseid 2026 Masih Terlihat hingga 20 Agustus

Puncak hujan meteor perseid jatuh pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026, bertepatan dengan bulan baru sehingga langit lebih gelap. Bagi yang ketinggalan hujan meteor di malam puncak, jendela amatan dari Indonesia belum tertutup.

Inti artikel

  • Bagi yang ketinggalan hujan meteor di malam puncak, jendela amatan dari Indonesia belum tertutup
  • NASA mencatat aktivitas berlangsung dari pertengahan Juli hingga 24 Agustus 2026
  • Optimaise News merangkum, itu dua batas yang perlu dibedakan: sisa partikel masih lewat, tapi jumlah kilatan menurun

NASA mencatat aktivitas berlangsung dari pertengahan Juli hingga 24 Agustus 2026. BRIN lewat All Sky Camera di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur, merekomendasikan pantauan hingga sekitar 20 Agustus. Optimaise News merangkum, itu dua batas yang perlu dibedakan: sisa partikel masih lewat, tapi jumlah kilatan menurun.

Mengapa puncak 12-13 Agustus 2026 lebih gelap dari biasanya

Fase bulan baru pada 2026 membuat cahaya bulan tidak mengganggu latar langit. Pada kondisi ideal, BRIN memperkirakan sekitar 1, 2 meteor per menit. NASA menyebut, di langit sangat gelap, angka itu bisa setara 50, 100 meteor per jam, termasuk bola api lebih terang dari magnitudo -3.

Itulah alasan peristiwa hujan meteor tahun ini ramai dibicarakan. Bukan karena Perseid baru lahir, melainkan karena puncak bertemu langit yang relatif bersih dari cahaya bulan.

Dari Swift-Tuttle ke radian Perseus: apa yang sebenarnya terlihat

Dari Swift-Tuttle ke radian Perseus: apa yang sebenarnya terlihat
Ilustrasi dari Swift-Tuttle ke radian Perseus: apa yang sebenarnya terlihat.

Mengenal peristiwa hujan meteor Perseid berarti memisahkan kilatan dari bintang. Thomas Djamaluddin dari BRIN menjelaskan, meteor tampak memancar dari arah rasi Perseus. Debu komet Swift-Tuttle masuk atmosfer dan terbakar pada ketinggian sekitar 70, 90 kilometer.

Yatny Yulianty dari Observatorium Bosscha ITB menekankan, aktivitas sudah jalan sejak pertengahan Juli dan berlanjut beberapa pekan, bukan satu malam. “Yang ramai dibicarakan sekarang adalah periode puncaknya. Sebenarnya hujan meteor Perseid sudah berlangsung sejak pertengahan Juli dan akan terus berlangsung selama beberapa waktu,” ujarnya.

“Hujan meteor disebut ‘hujan’ karena jumlah meteor yang terlihat meningkat cukup drastis dibandingkan malam-malam biasa,” jelas Yatny. Meteor perseid akan tampak sebagai garis cepat, bukan bintang yang jatuh utuh.

Jendela Indonesia setelah puncak: jam, arah, dan batas tanggal

Setelah 13 Agustus, waktu terbaik dari Indonesia mulai sekitar pukul 23.00 waktu setempat, lebih enak lewat tengah malam hingga sebelum fajar. BRIN menyebut jendela puncak dini hari sekitar pukul 00.00, 04.00 WIB.

Arah yang disarankan adalah timur laut hingga timur, saat rasi Perseus naik lebih tinggi. Dari Lembang, radian hanya sekitar 20, 30 derajat di atas horizon utara, dekat zona paling terganggu lampu kota.

Batas 20 Agustus dari jalur ASC Timau lebih ketat untuk bukti instrumen. Batas 24 Agustus NASA lebih longgar untuk sisa jejak komet. Setelah pertengahan Agustus, sabar lebih penting daripada harapan puluhan kilatan per jam.

Tanpa teropong: lokasi gelap, adaptasi mata, dan rekaman Timau

Fenomena ini bisa dinikmati tanpa teleskop. Datang lebih awal, matikan layar terang, biarkan mata beradaptasi 20, 30 menit, lalu amati santai 30, 60 menit. Meteor muncul di banyak sisi langit, jadi pandang lebar, jangan kaku menatap satu titik.

All Sky Camera Observatorium Nasional Timau merekam meteor pada puncak. Kalau cuaca lokal mendung, rekaman itu menjadi acuan resmi. Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, lokasi pedesaan, perbukitan, atau pantai gelap unggul dibanding pusat kota.

Desa vs kota: polusi cahaya yang memangkas jumlah meteor

Yatny menjelaskan, cahaya buatan yang naik ke langit membuat langit lebih terang (skyglow). Objek redup kalah, sehingga jumlah meteor yang terlihat turun tajam. “Ketika langit menjadi terang, objek-objek langit seperti bintang dan meteor menjadi kalah terang dibandingkan latar langit. Akibatnya, jumlah objek yang dapat diamati berkurang drastis,” katanya.

“Lokasi pengamatan menjadi sangat penting. Jika memungkinkan, pengamatan sebaiknya dilakukan dari tempat yang jauh dari sumber polusi cahaya,” ujarnya. Polusi cahaya juga mengganggu data optik, satwa nokturnal, dan ritme tidur manusia. Cahaya cukup diarahkan ke bawah, tidak berlebih sepanjang malam.

Tanya jawab
Apakah Perseid sudah selesai setelah 13 Agustus 2026?
Belum. Puncak sudah lewat, tetapi NASA menyebut aktivitas hingga 24 Agustus 2026, sementara BRIN menyarankan pantauan hingga sekitar 20 Agustus lewat kamera Timau.
Jam berapa paling masuk akal dari Indonesia?
Mulai sekitar pukul 23.00, lebih baik setelah tengah malam hingga sebelum fajar. Pada puncak, BRIN menyebut kisaran 00.00, 04.00 WIB.
Perlu teropong?
Tidak. Mata telanjang cukup setelah adaptasi gelap 20, 30 menit di lokasi minim lampu.
Ke arah mana melihat?
Timur laut hingga timur, saat radian Perseus naik. Jejak meteor bisa menyilang di bagian langit lain.
Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.