Jakarta, Optimaise News – Hotman Paris Hutapea melepaskan peran kuasa hukum eks Jampidsus Febrie Adriansyah di RS Medistra, Jakarta Selatan, Kamis 23 Juli 2026. Ultimatum dokter di Singapura yang sudah marah karena ia masih bekerja memaksa langkah itu meski tubuh masih lemah.
Inti artikel
- Hotman Paris Hutapea melepaskan peran kuasa hukum eks Jampidsus Febrie Adriansyah di RS Medistra, Jakarta Selatan, Kamis 23 Juli 2026
- Ultimatum dokter di Singapura yang sudah marah karena ia masih bekerja memaksa langkah itu meski tubuh masih lemah
- Febrie sempat meminta penundaan beberapa hari
Febrie sempat meminta penundaan beberapa hari. Namun Hotman khawatir otak terus memikirkan perkara akan memperburuk kondisi. Optimaise News merangkai kronologi 48 jam penuh tekanan medis dan beban kasus yang memaksa pelepasan kuasa ini.
Ultimatum Medis yang Memaksa Pelepasan Kuasa
Dokter di Singapura sudah menegur keras. Mereka tak setuju Hotman Paris Hutapea tetap aktif menangani perkara sambil menjalani pengobatan.
Ultimatum itu muncul setelah ia dirujuk berobat ke sana. Hotman mengaku takut kondisi memburuk bila pikiran tetap terisi urusan hukum saat tubuh belum pulih.
Pemberitahuan ke klien sudah disampaikan dua hari sebelumnya. Keputusan final diumumkan langsung dari rumah sakit agar tak ada penundaan lagi.
Permintaan Febrie agar Mundur Ditunda

Febrie Adriansyah sempat meminta agar pelepasan kuasa ditunda beberapa hari. Ia ingin waktu penyesuaian sebelum pengacara utamanya benar-benar lepas tangan.
Permintaan itu disampaikan setelah pemberitahuan awal. Hotman menolak menunda lebih lama karena risiko kesehatan sudah di depan mata.
Klien memahami alasan medis. Namun tekanan waktu tetap terasa di kedua belah pihak.
Keberangkatan ke Singapura Sehari Setelah Pengumuman

Hotman berencana terbang ke Singapura keesokan harinya, 24 Juli 2026. Jadwal itu langsung mengikuti pengumuman di Medistra.
Timeline 48 jamnya padat. Mulai dari pemberitahuan ke klien, desakan penundaan, pengumuman di rumah sakit, hingga keberangkatan berobat.
Langkah ini menyatukan desakan medis dengan kebutuhan istirahat total. Ia tak ingin lagi membagi fokus antara kasus dan pemulihan.
Beban Kasus ASABRI dan Sisa Laporan Ucapan Kontroversial
Febrie berstatus tersangka dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang terkait ASABRI. Beban perkara itu besar dan menuntut perhatian penuh.
Di sisi lain Hotman masih menghadapi sisa laporan polisi atas ucapan kontroversial. Ia sempat bilang “Lu punya otak nggak” kepada wartawan dan dilaporkan.
Ia pernah bilang PWI tak punya legal standing untuk melapor. Namun isu itu tetap menggantung di tengah pelepaskan kuasa ini.
Tekanan medis bertemu beban hukum ganda. Kombinasi itu membuat fokus penuh hampir mustahil.
Dampak bagi Tim Pembela Febrie Adriansyah
Pelepasan kuasa utama memaksa tim pembela Febrie menyesuaikan strategi segera. Koordinasi internal perlu dibangun ulang tanpa figur sentral yang selama ini memimpin.
Dampak praktisnya, persiapan sidang dan komunikasi dengan klien bisa tertunda sementara. Pengacara lain harus naik kelas mengambil alih peran kunci.
Publik juga mengenal anak Hotman Paris yang kerap mendampingi karier sang ayah. Dukungan keluarga menjadi faktor tambahan di tengah isu kesehatan ini.
Optimaise News menilai transisi ini rawan celah bila tak ditangani cepat. Febrie butuh kepastian hukum tanpa jeda panjang.







