Jakarta, Optimaise News – Sepanjang Juni hingga Juli 2026, nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menempel di unggahan hadiah tebak-tebakan Facebook dan foto rawat inap. Optimaise News merangkum, pola yang sama selalu mengarah ke undangan WhatsApp atau Messenger seolah pejabat membagikan uang.
Inti artikel
- Optimaise News merangkum, pola yang sama selalu mengarah ke undangan WhatsApp atau Messenger seolah pejabat membagikan uang
- Berikut kronologi ringkas dan cara membedakan undangan palsu tanpa perlu mengklik tautan penipu
- Narasi unggahan menekankan bahwa siapa pun yang benar dan beruntung akan dapat hadiah, serta menyinggung orang yang menyebut hoaks
Tiga kasus utama yang diverifikasi Cek Fakta mencakup video hadiah puluhan juta (20 Juli), postingan klaim Rp100 juta (8 Juli), dan foto rumah sakit (25 Juni). Berikut kronologi ringkas dan cara membedakan undangan palsu tanpa perlu mengklik tautan penipu.
Video tebak provinsi janji hadiah puluhan juta atas nama Dedi
Pada 20 Juli 2026 beredar video yang diklaim menunjukkan Dedi Mulyadi memberi hadiah puluhan juta hanya dengan menebak nama provinsi di layar. Narasi unggahan menekankan bahwa siapa pun yang benar dan beruntung akan dapat hadiah, serta menyinggung orang yang menyebut hoaks.
Caption menyuruh kirim jawaban lewat WhatsApp agar “ambil hadiah”, dengan frasa nama seperti BPK Mulyadi. Skema tebak plus nomor chat ini sudah lama dipakai untuk mendata korban, bukan kanal resmi pemerintah daerah.
Pembaca yang temukan video serupa sebaiknya berhenti di situ: pejabat tidak membagikan hadiah sensasional lewat tebak beranda Facebook. Pola ini juga menempel di deretan hoaks seputar Dedi Mulyadi di periode sebelumnya.
Postingan Facebook klaim bagikan Rp100 juta lewat tebak provinsi

Akun Facebook pada 8 Juli 2026 mengunggah teks bergaya perayaan, membuka dengan ucapan salam lalu mengklaim penerima berhak mendapat bantuan dari Dedi Mulyadi sebesar Rp100 juta. Janji “sesuai janji saya akan bantu” dilengkapi ajakan tebak atau hubungi admin di luar saluran resmi.
Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, bentuk undangan ini berirama dengan hoaks Januari 2026 yang menjanjikan Rp50 juta hanya lewat komentar “amin” dan follow akun palsu. Versi April 2026 bahkan memakai cuplikan video tebus motor murah Rp400 ribu lengkap tautan WhatsApp.
Intinya sama: hadiah nominal besar, tombol chat, dan nama pejabat sebagai umpan. Gubernur lain seperti Wayan Koster di Bali dan Sherly Tjoanda di Maluku Utara pernah dicatut skema bantuan serupa, tanda industri penipuan tidak monopolitik ke satu tokoh saja.
Foto rawat inap Juni 2026 yang diklaim Dedi Mulyadi sakit
Pada 25 Juni 2026 sebuah akun Facebook mengunggah tiga foto Dedi Mulyadi terbaring di tempat tidur rumah sakit. Dua frame menampilkan dirinya makan dalam posisi berbaring, infus di punggung tangan, baju batik cokelat tua, dan selimut cokelat.
Caption bertema doa agar “Kang Dedi Mulyadi” lekas sembuh. Klaim foto jatuh sakit pada Juni 2026 masuk kategori tidak benar setelah diverifikasi kanal cek fakta; foto rawat inap sering digali ulang dari momen lama agar terasa darurat.
Timeline singkat June, Juli menunjukkan urutan: dulu foto “sakit”, lalu klaim transfer Rp100 juta, baru video hadiah puluhan juta. Ketiganya menempel identitas Gubernur Jabar tanpa perlu program resmi Pemprov.
Cara membedakan undangan WhatsApp dan poster palsu yang catut pejabat
Sinyal tipuan yang berulang: undangan tebak kota atau provinsi, nominal puluhan hingga ratusan juta, lalu tombol WhatsApp atau Messenger. Nama pejabat besar ditulis mencolok, sementara saluran resmi Pemprov atau akun terverifikasi tidak disebut sebagai satu-satunya rujukan.
Checklist singkat sebelum klik: (1) tidak ada undangan tebak berhadiah dari pejabat lewat beranda acak; (2) nomor chat pribadi bukan desk layanan resmi; (3) foto “sakit” atau “patung” tanpa rilis humas pantas ditahan dulu. Waspadai hoaks mengatasnamakan Gubernur Jabar Dedi lewat akun non-resmi.
Kanal Cek Fakta Liputan6.com aktif sejak 2018, bergabung IFCN sejak 2 Juli 2018, dan menjadi partner Facebook. Laporan dugaan hoaks bisa dikirim ke cekfakta.liputan6@kly.id atau chatbot WhatsApp 0811-9787-670.







