Jakarta, Optimaise News – Tim Cek Fakta Liputan6.com merilis himpunan klaim palsu yang melibatkan nama Presiden Prabowo Subianto pada 11 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB. Dua video yang beredar di Facebook menjadi fokus utama penelusuran karena memakai wajah kepala negara untuk narasi menyesatkan.
Inti artikel
- Tim Cek Fakta Liputan6.com merilis himpunan klaim palsu yang melibatkan nama Presiden Prabowo Subianto pada 11 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB
- Dua video yang beredar di Facebook menjadi fokus utama penelusuran karena memakai wajah kepala negara untuk narasi menyesatkan
- Optimaise News merangkum temuan utama agar pembaca dapat membedakan cuplikan asli dari rekayasa
Publikasi itu memberi konteks praktis bagi warga dan pelaku usaha kecil agar lebih waspada terhadap unggahan viral yang seolah merujuk kebijakan resmi. Optimaise News merangkum temuan utama agar pembaca dapat membedakan cuplikan asli dari rekayasa.
Klaim peresmian uang kuno bersama Hotman Paris
Sebuah video di Facebook muncul 3 Agustus 2026. Caption-nya menyebut Presiden Prabowo meresmikan aksi beli uang kuno yang digagas Hotman Paris Hutapea. Narasi lanjutan memaksa warga penyimpan uang lama menjual koleksi mereka kepada Hotman seolah atas nama negara.
Penelusuran citra Google menemukan cuplikan sumber berjudul Kericuhan Antara Dua kelompok Kader di Muktamar ke-10 PPP. Materi itu diunggah akun tvOneNews pada 29 September 2025. Hive Moderation mencatat skor 4,5 persen AI-Generated Video, 96,6 persen AI-Generated Speech, serta deepfake 3,6 persen.
Cek Fakta menyimpulkan klaim tersebut tidak benar. Tidak ada catatan resmi mengenai seremoni jual-beli uang kuno yang melibatkan kantor kepresidenan maupun pengacara tersebut. Warga diminta menelusuri sumber berita terpercaya sebelum menyerahkan aset koleksi.
Video emosi soal gedung DPR terbakar
Unggahan lain di Facebook tertanggal 30 Juli 2026 menampilkan wajah Prabowo berdampingan gambar gedung DPR yang terbakar. Narasi audio berbunyi Gedung DPR dibakar, ini tindakan-tindakan makar ini. Ini bukan penyampaian aspirasi ya. Tagar beritapopuler turut dilampirkan.
Tidak ditemukan bukti bahwa kepala negara menyampaikan pernyataan tersebut dalam konteks peristiwa pembakaran. Visual tampak dijahit dari cuplikan terpisah. Pola ini sering dipakai untuk memancing reaksi emosional dan penyebaran massal di media sosial.
Bagi pelaku UMKM dan masyarakat umum, pola serupa bisa merusak kepercayaan pada informasi resmi. Langkah sederhana berupa pencarian sebalik gambar dan pengecekan akun sumber membantu memutus rantai sebaran. Optimaise News menyarankan selalu menunggu konfirmasi lembaga berwenang sebelum menindaklanjuti klaim yang memakai nama pejabat tinggi.
Kedua kasus di atas menunjukkan teknik deepfake suara yang dominan serta pengambilan cuplikan lama yang diganti konteks. Tim Liputan6 menekankan bahwa klaim-klaim itu tidak memiliki landasan fakta. Pembaca disarankan melaporkan konten sejenis agar platform dapat menurunkan unggahan berbahaya.







