Harga emas dan perak melonjak tajam dipicu melemahnya dolar AS serta potensi inflasi dari konflik Timur Tengah, dengan harga Antam batangan langsung naik Rp7.000 per gram. Para investor kini lebih waspada karena lonjakan ini mencerminkan sentimen pasar global yang sedang panas.
Inti artikel
- Para investor kini lebih waspada karena lonjakan ini mencerminkan sentimen pasar global yang sedang panas
- Data menunjukkan potensi emas menembus US$4.150 hingga US$4.200 dalam waktu dekat
- Peluang ini semakin menarik di tengah prediksi ekonomi AS yang stabil meski geopolitik masih mengancam
Data menunjukkan potensi emas menembus US$4.150 hingga US$4.200 dalam waktu dekat. Peluang ini semakin menarik di tengah prediksi ekonomi AS yang stabil meski geopolitik masih mengancam.
Harga Antam Batangan Naik Rp7.000 per Gram
Harga emas Antam batangan langsung mengalami kenaikan Rp7.000 per gram dalam sesi perdagangan terkini. Lonjakan ini menjadi daya tarik utama bagi masyarakat Indonesia yang mencari perlindungan aset di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurut analis pasar, naiknya harga ini sejalan dengan permintaan yang terus meningkat dari investor ritel dan institusi.
Nilai beli Antam yang lebih tinggi kini menjanjikan potensi keuntungan lebih cepat jika harga dunia terus bertahan naik. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Antam tetap menjadi pilihan utama di kalangan pembeli emas dalam bentuk batangan.
Dolar AS Melemah ke Level Terendah Dorong Harga Emas

Indeks dolar AS melemah ke 99,86, level terendah sejak 16 Juni 2026. Penurunan ini secara langsung mendorong harga emas spot naik ke US$4.108,72 per ons pada pagi 31 Juli 2026 setelah ditutup di US$4.102,39 per ons pada 30 Juli. Data ekonomi menunjukkan bahwa melemahnya dolar memberikan dorongan kuat terhadap logam mulia sebagai aset alternatif.
Menurut Optimaise News, sentimen ini diperkuat oleh data PCE AS yang turun 0,1% pada Juni sesuai estimasi pasar. Hal ini mengurangi kekhawatiran inflasi jangka pendek dan mendukung permintaan emas yang lebih tinggi di berbagai negara.
Konflik Timur Tengah Picu Kembali Tekanan Inflasi

Konflik Timur Tengah diprediksi akan mendorong harga minyak naik dan memicu tekanan inflasi kembali. Prediksi ini muncul meski data pengangguran AS lebih rendah dari ekspektasi 200.000 klaim mingguan. Faktor geopolitik ini menjadi kunci utama yang membuat investor melihat emas sebagai perlindungan aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian regional.
Sintesis antara data ekonomi AS dan dinamika global menunjukkan bahwa inflasi yang kembali meningkat berpotensi menambah tekanan terhadap bank sentral, termasuk Federal Reserve. Ini juga menciptakan peluang baru bagi investor emas di Indonesia untuk memanfaatkan volatilitas tersebut.
Perak Naik 2,3 Persen di Tengah Sentimen Serupa
Perak ditutup di US$58,99 per ons dengan kenaikan 2,3 persen. Sentimen yang sama dengan emas membuat logam ini ikut menarik perhatian investor yang mencari diversifikasi aset. Bandar pasar yakin perang di Timur Tengah bakal berlangsung lama, sehingga mendukung lonjakan harga perak di tengah sentimen serupa dengan emas.
Perak yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga membuatnya menjadi pilihan menarik bagi investor yang ingin posisi lebih agresif di pasar komoditas. Analisis menunjukkan bahwa pergerakan perak sering mengikuti pola yang sama dengan emas dalam periode ketegangan global seperti saat ini.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed Turun ke 61%
Peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September turun menjadi 61% menurut CME FedWatch. Klaim pengangguran mingguan AS yang lebih rendah dari perkiraan 200.000 membantu mengurangi kekhawatiran resesi. Prediksi harga emas menembus US$4.150 hingga US$4.200 semakin meyakinkan investor bahwa tekanan suku bunga yang lebih rendah berpotensi mendukung harga logam mulia.
Perkembangan ini menandakan bahwa pasar sedang menyesuaikan diri dengan data ekonomi AS yang lebih positif, meski faktor geopolitik tetap menjadi pengawas utama.
Tabel Harga Antam dan Pegadaian Hari Ini
| Metrik | Detail |
|---|---|
| Harga Antam Batangan | Rp1.352.000 per gram (naik Rp7.000 dari kemarin) |
| Harga Pegadaian | Rp1.310.000 per gram (selisih Rp42.000 dengan Antam) |
| Selisih Jual-Buyback Antam | Rp225.000 per gram |
| Potensi Untung (jika naik 1%) | Rp13.520 per gram |







