Surabaya, Optimaise News – Muhammad Hafiz Ridwan (18) meraih skor kesamaptaan 93,20 tertinggi se-Polda Metro Jaya pada Seleksi Taruna Akpol 2026. Angka itu muncul hanya tiga hari setelah nilai TPA 68 membuatnya kecewa berat di tahap daerah.
Inti artikel
- Muhammad Hafiz Ridwan (18) meraih skor kesamaptaan 93,20 tertinggi se-Polda Metro Jaya pada Seleksi Taruna Akpol 2026
- Angka itu muncul hanya tiga hari setelah nilai TPA 68 membuatnya kecewa berat di tahap daerah
- Ia sudah diterima Fakultas Kedokteran Unair lewat SNBP
Ia sudah diterima Fakultas Kedokteran Unair lewat SNBP. Namun Hafiz siap melepaskan kursi itu jika lolos Akpol, impian yang tumbuh sejak TK di lingkungan Bhayangkari dan bertolak belakang dengan harapan ibu serta nenek. Optimaise News merangkum kebangkitan mentalnya dari skor mengecewakan hingga puncak jasmani.
Sejak Seragam Abu-Abu TK hingga Tahap Pusat Akpol di Semarang
Hafiz adalah sulung dari empat bersaudara. Ia alumni TK Kemala Bhayangkari 19 Jakarta Selatan dan SD Kemala Bhayangkari 1 Surabaya.
Di sana ia pernah juara II baris-berbaris polisi cilik se-Kota Surabaya. Seragam abu-abu itu menanam benih impian sejak dini. Kini ia sudah melaju ke tahap pusat di Semarang sebagai catar Polda Metro Jaya.
Status mahasiswanya di FK Unair tetap aktif. Keputusan final baru akan diambil setelah pengumuman Akpol.
Ayah AKBP dari Bintara ke S3: Inspirasi yang Lebih Kuat dari Harapan Jadi Dokter

Ayah Hafiz adalah AKBP di Polda Jatim. Karier sang ayah berawal dari bintara, lalu menempuh S1 dan S2 Ilmu Psikologi serta S3 Ilmu Kepolisian.
Ayah sering menangani korban bencana dan memberikan konseling. Pekerjaan mulia itu lebih membekas di hati Hafiz ketimbang gelar dokter.
Ibu dan nenek sangat berharap ia menjadi dokter. Mereka dulu juga punya cita-cita serupa. Berbeda dengan kisah Santri Jadi Dokter yang kerap diangkat media, Hafiz justru menemukan arah lewat keteladanan ayah di lapangan.
Ia pernah bercita-cita jadi pilot, insinyur sipil, pemain bola, akuntan, hingga dokter. Semua itu berubah setelah melihat langsung dampak pekerjaan sang ayah.
Latihan Kelas 10, 12: Jasmani Empat Kali Seminggu, OSIS, lalu Bimbel Ganda

Persiapan Hafiz berjenjang jelas. Kelas 10 ia mulai latihan jasmani empat kali seminggu plus sesi psikologi di luar jam sekolah.
Kelas 11 ia menjabat Ketua OSIS SMAN 28 Jakarta. Jadwal padat itu justru melatih manajemen waktu. Kelas 12 ia ambil bimbel ganda: UTBK untuk SNBP dan materi khusus Akpol.
Pola ini bisa jadi acuan praktis calon taruna. Hafiz juga menyabet Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition 2024 di Universitas Pancasila dan 2025 secara daring.
Ia menyeimbangkan prestasi akademik, organisasi, dan latihan fisik tanpa mengorbankan satu pun.
TPA 68 Bukan Akhir: Tiga Hari Bangkit Raih Skor Jasmani Tertinggi Metro Jaya
Nilai TPA 68 sempat mengguncang mental. Hafiz mengakui kecewa. Namun ia tidak berhenti. Dalam tiga hari ia fokus pemulihan: istirahat teratur, evaluasi kesalahan, dan latihan jasmani intensif.
Hasilnya skor kesamaptaan 93,20 tertinggi se-Polda Metro Jaya. Kebangkitan itu membuktikan resiliensi lebih menentukan daripada angka awal.
Strategi sederhananya: terima kegagalan cepat, lalu alihkan energi ke aspek yang masih bisa dikontrol. Calon taruna lain bisa meniru ritme singkat itu.
Olimpiade Emas vs Seleksi Akpol: Mengejar Juara atau Mengejar Cita-cita
Tekanan olimpiade sains berbeda. Di sana Hafiz mengejar juara dan medali. Di seleksi Akpol ia mengejar cita-cita yang sudah menempel sejak kecil. Satu salah langkah bisa menutup pintu seumur hidup.
Soal matematika analisis di tes juga terasa lebih berat dibanding olimpiade. Namun Hafiz menilai proses penemuan arah jauh lebih berharga. Ia tidak menolak prestasi akademik, hanya memilih jalur yang paling pas dengan jati dirinya.
Bagi Gen Z, dilema SNBP kedokteran versus sekolah dinas seperti Akpol kini makin nyata. Hafiz memberi contoh: data skor, inspirasi keluarga, dan timeline latihan harus ditimbang bersama, bukan hanya gengsi gelar.
Jika lolos Akpol, kursi FK Unair akan ditinggalkan. Jika tidak, ia siap menjalani kuliah kedokteran dengan hati lega karena sudah berusaha maksimal.







