Presiden FIFA Gianni Infantino dipastikan tidak pernah menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump maupun pejabat kabinetnya dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan resmi itu disampaikan FIFA kepada Reuters pada Selasa 4 Agustus 2026 sebagai bantahan langsung terhadap laporan New York Post.
Inti artikel
- Pernyataan resmi itu disampaikan FIFA kepada Reuters pada Selasa 4 Agustus 2026 sebagai bantahan langsung terhadap laporan New York Post
- FIFA Bantah Infantino ‘Dicuekin’ Donald Trump dengan menegaskan bahwa klaim soal telepon yang diabaikan murni fiksi
- Klaim media AS tersebut muncul di tengah pembatalan wacana penjualan saham Piala Dunia yang sempat memanas di tubuh federasi
FIFA Bantah Infantino ‘Dicuekin’ Donald Trump dengan menegaskan bahwa klaim soal telepon yang diabaikan murni fiksi. Klaim media AS tersebut muncul di tengah pembatalan wacana penjualan saham Piala Dunia yang sempat memanas di tubuh federasi.
Klaim Telepon Gagal dan Bantahan FIFA
New York Post menulis bahwa Infantino berusaha menghubungi Trump sejak Jumat sebelumnya, tetapi panggilan tidak diangkat. FIFA menolak narasi itu secara tegas. Menurut federasi sepak bola dunia, tidak ada kontak telepon sama sekali ke Gedung Putih atau anggota kabinet Trump dalam periode yang disebutkan.
Optimaise News mencatat bantahan ini hadir tepat setelah spekulasi politik membesar. Infantino yang kerap dekat dengan tokoh global tiba-tiba digambarkan diabaikan. FIFA memilih bahasa keras agar isu tidak mengganggu persiapan turnamen besar ke depan.
Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini mengingatkan bahwa hubungan pejabat olahraga internasional dengan politisi bisa cepat menjadi bahan spekulasi. Tidak ada bukti komunikasi yang disampaikan FIFA, sehingga laporan media AS dianggap rekayasa semata.
Proyek Saham Piala Dunia yang Dihentikan

Wacana menjual kepemilikan saham Piala Dunia melalui skema FIFA Forward Enterprise sempat digaungkan. Rencana itu dibatalkan setelah mendapat penolakan dari AFC, UEFA, CONCACAF, serta CONMEBOL. Empat konfederasi itu menilai skema minim keterbukaan dan berlangsung tanpa diskusi luas.
Infantino sempat menjanjikan hasil finansial besar bagi asosiasi anggota yang mendukung ide tersebut. Namun, kurangnya dialog membuat kritik memuncak. Proyek yang digadang-gadang menarik investor akhirnya dihentikan total.
Salah satu nama yang disebut-sebut akan memimpin kelompok investor adalah perusahaan Amerika Thrive Eternal milik Joshua Kushner, adik ipar menantu Trump Jared Kushner. Setelah wacana batal, Donald Trump sendiri segera menyangkal ada keterlibatan dalam skema saham Piala Dunia. Penyangkalan itu datang tidak lama setelah federasi membatalkan rencana.
Bagi pelaku UMKM dan sponsor lokal di Indonesia, pembatalan ini memberi sinyal bahwa transparansi tetap menjadi syarat mutlak setiap skema moneterisasi turnamen besar. Tanpa dialog, resistensi dari konfederasi regional mudah muncul dan menghentikan inisiatif.
Tekanan Kepemimpinan Menjelang Pemilihan FIFA
Gaya kepemimpinan Infantino kini dinilai terlalu berani dan impulsif oleh banyak pihak di dalam FIFA. Desakan agar pria asal Swiss diganti semakin kuat menjelang pemilihan presiden periode 2027-2031. Kursi puncak federasi digoyang isu ugal-ugalan dalam pengambilan keputusan strategis.
Banyak asosiasi anggota meminta pergantian agar citra FIFA lebih stabil. Infantino dinilai terlalu sering meluncurkan ide besar tanpa landasan konsensus. Optimaise News melihat tekanan ini berpotensi memengaruhi agenda reformasi tata kelola sepak bola dunia dalam dua tahun ke depan.
Di level praktis, pembatalan saham dan bantahan soal Trump menunjukkan risiko reputasi yang tinggi. Pemimpin federasi yang terlalu dekat dengan politisi bisa cepat kehilangan dukungan internal. Situasi ini menjadi pelajaran bagi federasi nasional di Asia, termasuk Indonesia, soal pentingnya menjaga jarak antara olahraga dan spekulasi politik.







