Jakarta, Optimaise News – Harga emas melonjak sekitar 7 persen dalam seminggu, pencapaian mingguan tertinggi sejak Januari. Pergerakan itu dipicu pelemahan dolar Amerika Serikat, turunnya imbal hasil Treasury, serta data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari ekspektasi.
Inti artikel
- Harga emas melonjak sekitar 7 persen dalam seminggu, pencapaian mingguan tertinggi sejak Januari
- Analis Michael Khouw dari CNBC International menilai momentum penguatan emas masih potensial berlanjut
- Pergerakan ini dipandang sebagai sinyal bahwa ETF VanEck Gold Miners dan SPDR Gold Shares berpotensi ikut naik
Penguatan Emas Didorong Pelemahan Dolar AS dan Data Ketenagakerjaan Lemah
Analis Michael Khouw dari CNBC International menilai momentum penguatan emas masih potensial berlanjut. Kondisi makroekonomi saat ini membuat aset safe haven emas semakin menarik, terutama ketika ekspektasi suku bunga The Fed lebih longgar muncul.
Analis Proyeksikan Momentum Lanjutkan Melalui Sinyal ETF
Emas sendiri masih berada di bawah rata-rata pergerakan 150 hari, tetapi saham perusahaan tambang emas Newmont Mining sudah menembus level itu. Pergerakan ini dipandang sebagai sinyal bahwa ETF VanEck Gold Miners dan SPDR Gold Shares berpotensi ikut naik.
Permintaan China dan Hong Kong Jadi Penopang Utama
Bank Sentral China terus memperluas fasilitas penyimpanan emas di Hong Kong. Langkah ini seiring ambisi Hong Kong jadi pusat perdagangan emas internasional dan mencerminkan tren pengembalian cadangan emas negara-negara ke kawasan Asia.
Investor Pakai Call Spread untuk Tangkap Kenaikan Lebih Besar
Struktur volatilitas emas saat ini mendukung strategi call spread pada ETF SPDR Gold Shares dengan range US$400 ke US$460 untuk November. Strategi ini hanya butuh biaya sekitar US$16,15 per saham dengan potensi imbal hasil hampir tiga kali lipat jika logam mulia itu naik sekitar 15 persen dalam 100 hari.
Risiko Bergantung Data Ekonomi AS dan Kebijakan Fed
Pergerakan harga emas selanjutnya masih sangat tergantung pada data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Meski investor reaksi positif, laporan terbaru soal tenaga kerja dan harga bahan pokok harus dipantau ketat.







