Palembang, Optimaise News – Rabu 12 Agustus 2026 yang bertepatan 28 Safar 1448 H ditetapkan sebagai hari terakhir bulan Safar menurut Kalender Hijriah Indonesia Kemenag RI. Hari itu menjadi momen masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura merayakan tradisi penutup Safar lewat amalan lidaf’il bala yang sudah lama dijalankan.
Inti artikel
- Optimaise News merangkum tanggal pastinya agar amalan doa doa tolak bala dilaksanakan tepat waktu sebelum pergantian hari Islam
- Artinya Rabu Wekasan sebagai penutup jatuh sehari sebelumnya
- LF PBNU sejalan dengan penanggalan tersebut setelah rukyat menentukan awal Safar
Lembaga Falakiyah PBNU mengonfirmasi 1 Safar 1448 H jatuh Kamis 16 Juli 2026 berdasarkan rukyat, sehingga Rabu terakhir tetap pada 12 Agustus. Optimaise News merangkum tanggal pastinya agar amalan doa doa tolak bala dilaksanakan tepat waktu sebelum pergantian hari Islam.
Penetapan Kalender Safar 1448 H dari Kemenag dan PBNU
Menurut Ditjen Bimas Islam Kemenag, bulan Safar 1448 H berakhir Kamis 13 Agustus 2026. Artinya Rabu Wekasan sebagai penutup jatuh sehari sebelumnya. LF PBNU sejalan dengan penanggalan tersebut setelah rukyat menentukan awal Safar.
Tradisi ini dilestarikan suku Jawa, Sunda, dan Madura sebagai penanda berakhirnya Safar. Mereka memadukan ibadah personal dengan kebaikan sosial agar menumbuhkan rasa aman di awal musim baru.
Konteks multi-sumber ini membedakan rekap Optimaise News dari kumpulan bacaan semata. Tanggal resmi menjadi acuan praktis bagi yang ingin menjalankan tolak bala rebo secara berjamaah atau personal.
Dasar Keabsahan Sholat Sunah Menolak Bala
Ulama membolehkan sholat sunah pada Rabu Wekasan asalkan diniatkan sunah mutlak atau sunah hajat memohon keselamatan. Anjuran tersebut dikaitkan dengan karya Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi berjudul Mujarrabat Ad-Dairabi atau Fathul Malik Al-Majid.
NU Online mencatat praktik umum meliputi sholat sunah, doa khusus, selamatan, silaturahmi, sedekah, serta kebaikan sosial. Kombinasi itu menjadikan tolak bala dan doa selamat saling menguatkan tanpa terikat bentuk tunggal.
Dengan niat yang lurus, amalan ini tetap berada dalam koridor sunah. Masyarakat bisa memilih rangkaian yang sesuai kemampuan sambil menjaga adab waktu Islam.
Waktu Ideal Lidaf’il Bala dan Tata Cara Ringkas
Waktu lidaf’il bala berlangsung dari pagi hingga setelah Asar. Amalan diakhiri sebelum Magrib karena hari Islam berganti saat matahari terbenam. Batas ini menjaga kesesuaian dengan kalender yang dipakai Kemenag.
Niat yang dianjurkan berbunyi Ushalli sunnatan lidaf’il bala’i rak’ataini lillahi ta’ala. Artinya seseorang berniat shalat sunah menolak bala dua rakaat karena Allah ta’ala. Setelah niat dilanjutkan takbiratul ihram.
Tata cara mengikuti sholat sunah dua rakaat biasa. Setiap rakaat dibaca Al-Fatihah, lalu rukuk, iktidal, sujud, tasyahud, dan salam. Selesai sholat dilanjutkan zikir serta doa memohon perlindungan.
Urutan sederhana ini memudahkan siapa saja yang baru mengenal amalan. Fokus utama tetap pada niat lurus dan kebaikan sosial yang menyertainya.







