Di Tengah Salat Zuhur

Sahabat nabi berputar arah kiblat saat salat Zuhur di Bani Salimah. Isyarat Jibril lahirkan Masjid Qiblatain dan perintah QS Al-Baqarah 144.

Author Image

Nurul

Di Tengah Salat Zuhur

Sekitar sepuluh bulan usai hijrah ke Madinah, sebuah momen historis mengubah arah ibadah umat Islam untuk selamanya. Rasulullah SAW bersama para sahabat memutar tubuh mereka ke arah Ka’bah di tengah salat Zuhur tanpa menghentikan rakaat yang sedang berlangsung.

Inti artikel

  • Sekitar sepuluh bulan usai hijrah ke Madinah, sebuah momen historis mengubah arah ibadah umat Islam untuk selamanya
  • Isyarat datang dari malaikat Jibril setelah dua rakaat selesai
  • Arah yang sebelumnya menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem beralih ke Baitullah di Mekkah

Isyarat datang dari malaikat Jibril setelah dua rakaat selesai. Arah yang sebelumnya menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem beralih ke Baitullah di Mekkah. Tempat kejadian itu kini dikenang sebagai Masjid Qiblatain, monumen titik balik orientasi spiritual muslim di seluruh dunia.

Kerinduan Nabi SAW terhadap Ka’bah Ibrahim

Sebelum peristiwa itu dan selama kurang lebih sepuluh bulan pascahijrah, salat masih diarahkan ke Baitul Maqdis atau Al-Aqsa. Rasulullah SAW menyimpan keinginan kuat agar kiblat beralih ke Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Beliau sering menengadah ke langit sambil menanti turunnya wahyu. Kerinduan tersebut berakar pada sambungan sejarah tauhid dengan leluhur para nabi. Umat di Madinah mengikuti arahan kiblat lama dengan penuh ketaatan sambil menunggu petunjuk baru.

Pergeseran arah bukan persoalan teknis belaka. Ia menjadi penanda konsolidasi identitas muslim yang merdeka serta menegaskan Mekkah sebagai pusat spiritual abadi. Optimaise News menempatkan momen ini sebagai fondasi orientasi ibadah global hingga hari ini.

Isyarat Jibril di Masjid Bani Salimah

Isyarat Jibril di Masjid Bani Salimah
Ilustrasi Isyarat Jibril di Masjid Bani Salimah.

Puncak peristiwa terjadi ketika Nabi SAW berkunjung ke kediaman Ummu Bisyr bin Bara’ bin Ma’rur di lingkungan Bani Salimah. Saat waktu Zuhur tiba, jamaah mendirikan salat di masjid setempat.

Setelah dua rakaat dikerjakan, Jibril memberikan isyarat untuk menghadap Baitullah. Malaikat itu sendiri ikut salat ke arah baru. Nabi SAW dan seluruh sahabat segera memutar posisi tubuh mereka menuju Ka’bah tanpa membatalkan salat, kemudian melanjutkan rakaat berikutnya sampai selesai.

Gerakan serempak tersebut memperlihatkan kesiapan mental sahabat menerima perintah ilahi secara langsung di tengah ibadah. Tidak seorang pun membatalkan atau mengulang dari awal. Mereka menyelesaikan salat dengan arah yang telah diperbarui sesuai isyarat langit.

Kesigapan itu lahir dari kepercayaan mutlak kepada wahyu. Komunitas Madinah membuktikan bahwa ketaatan bisa diwujudkan bahkan saat rakaat sedang berjalan. Momen tersebut menjadi cermin kedisiplinan spiritual yang langka.

Saf Pria dan Wanita yang Saling Bertukar

Saf Pria dan Wanita yang Saling Bertukar
Ilustrasi Saf Pria dan Wanita yang Saling Bertukar.

Putaran mendadak menghasilkan dampak fisik yang unik di dalam masjid. Posisi saf jamaah pria dan wanita saling bertukar akibat perubahan orientasi relatif terhadap struktur bangunan.

Detail ini menegaskan betapa spontan dan serentak peralihan itu terjadi. Ruang yang semula tertata untuk arah Yerusalem tiba-tiba menuntut penataan ulang tubuh seluruh jamaah. Namun kekhusyukan tetap terjaga hingga salam penutup.

Kisah pertukaran saf menjadi saksi kesigapan komunitas. Mereka tidak ragu meski sedang dalam rakaat aktif. Ketaatan mutlak kepada wahyu yang baru turun menjadi pelajaran yang diwariskan lintas generasi.

Warisan Masjid Qiblatain dan Ayat 144

Masjid tersebut kemudian dikenal luas sebagai Masjid Qiblatain. Di sinilah titik balik orientasi kiblat tercatat secara historis. Hingga kini lokasi itu menjadi destinasi ziarah yang mengingatkan umat pada momen krusial tersebut.

Perintah perubahan diabadikan dalam QS Al-Baqarah ayat 144. Ayat itu mewajibkan setiap muslim menghadap Masjidil Haram di mana pun ia berada. Dengan demikian salat di seluruh penjuru bumi berorientasi tunggal ke Ka’bah di Mekkah.

Peralihan ini menyatukan arah ibadah muslim di mana saja. Dari Madinah hingga pelosok dunia, Ka’bah menjadi poros spiritual yang mengikat. Warisan itu terus hidup melalui praktik salat harian umat di seluruh dunia.

Optimaise News melihat kisah ini sebagai pengingat bahwa kesiapan menerima perubahan ilahi merupakan inti keimanan. Masjid Qiblatain berdiri sebagai bukti fisik bahwa perintah Allah dapat tiba kapan saja, bahkan di tengah rakaat yang sedang berjalan.

Tanya Jawab seputar Putaran Kiblat di Madinah

Mengapa salat semula menghadap Baitul Maqdis?
Sebelum dan sekitar sepuluh bulan pascahijrah di Madinah, salat masih diarahkan ke Baitul Maqdis atau Al-Aqsa di Yerusalem sesuai praktik awal periode Madinah.

Apakah salat dibatalkan saat putaran ke Ka’bah?
Tidak. Nabi SAW dan sahabat memutar posisi ke Ka’bah tanpa membatalkan salat, lalu melanjutkan rakaat berikutnya hingga selesai.

Mengapa masjid itu disebut Qiblatain?
Karena di tempat tersebut kiblat berubah dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di tengah salat Zuhur, menjadikannya saksi dua arah kiblat sekaligus dalam satu momen sejarah.

Di mana perintah perubahan kiblat diabadikan?
Perintah itu tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 144 yang mewajibkan menghadap Masjidil Haram di mana pun seseorang berada.

Nurul
Redaktur Teknologi

Nurul adalah redaktur teknologi Optimaise News. Meliput gadget, laptop, handphone, spesifikasi, dan harga perangkat untuk pembaca yang banding-banding sebelum beli. Fokus pada fakta spek, rentang harga, dan konteks pemakaian (kerja, kuliah, gaming ringan).