Dari Rp25.950 ke Rp1.040: Multipolar Technology Resmi Stock

Harga saham MLPT 'turun' ke Rp1.040 bukan anjlok, melainkan efek stock split 1:25 yang berlaku 21 Juli 2026. Nominal jadi Rp4, jumlah saham naik ke 46,875.

Author Image

Adel

Dari Rp25.950 ke Rp1.040: Multipolar Technology Resmi Stock

Efektif 21 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia menyesuaikan pedoman tawar-menawar saham Multipolar Technology (MLPT) di Jakarta Automated Trading System. Harga teoretis turun ke Rp1.040 per lembar setelah stock split rasio 1:25.

Inti artikel

  • Harga teoretis turun ke Rp1.040 per lembar setelah stock split rasio 1:25
  • Jumlah saham tercatat melonjak 25 kali lipat
  • Investor perlu paham nilai portofolio tetap utuh meski harga tampak anjlok tajam

Jumlah saham tercatat melonjak 25 kali lipat. Investor perlu paham nilai portofolio tetap utuh meski harga tampak anjlok tajam.

Apa yang Berubah pada Nilai Nominal dan Rasio MLPT

Nilai nominal saham MLPT berubah dari Rp100 menjadi Rp4 per lembar. Rasio stock split ditetapkan 1 banding 25. Setiap satu lembar lama diganti 25 lembar baru.

Aksi korporasi ini disetujui RUPSLB pada 29 Juni 2026. MLPT merupakan bagian konglomerasi Grup Lippo. Perubahan nominal berlaku penuh di pasar reguler dan negosiasi mulai hari efektif.

Pedoman tawar di JATS beralih ke kisaran seribu rupiah. Trader harus menyesuaikan ukuran order agar sesuai fraksi baru.

Cara BEI Menetapkan Harga Teoretis Rp1.040

Harga penutupan akhir cum pasar reguler 20 Juli 2026 tercatat Rp25.950. BEI membagi angka itu dengan 25. Hasil hitungan murni sekitar Rp1.038.

Lalu disesuaikan ke fraksi harga terdekat menjadi Rp1.040. Harga teoretis ini berlaku untuk pasar reguler dan negosiasi.

Kotak hitung cepat: Rp25.950 dibagi 25 sama dengan Rp1.038, dibulatkan fraksi ke Rp1.040. Harga dasar IHS individual MLPT ditetapkan Rp19.237 menurut perhitungan BEI. Penyesuaian fraksi ini memudahkan pedoman tawar trader ritel agar tidak terjebak selisih kecil.

Jumlah Saham Baru dan Kapitalisasi di Hari Transisi

Jumlah saham tercatat naik dari 1,875 miliar menjadi 46,875 miliar lembar. Kapitalisasi pasar bertahan di kisaran Rp48,6 triliun pada hari transisi.

Satu lembar lama setara 25 lembar baru. Ukuran lot dan porsi portofolio investor menyesuaikan proporsional tanpa kehilangan nilai.

Status high shareholding concentration (HSC) MLPT mencapai 99,42 persen. Lonjakan jumlah saham memperbesar free float absolut, tapi persentase konsentrasi tetap tinggi sehingga likuiditas efektif belum tentu melonjak drastis.

Pergerakan Harga Jelang Hari Cum dan Implikasinya

Jelang split, harga saham turun 11,21 persen dari Rp29.225 ke Rp25.950. Penurunan terjadi sebelum hari cum 20 Juli 2026.

Implikasinya sederhana. Investor yang memegang saham otomatis mendapat 25 kali lebih banyak lembar. Nilai total investasi tidak berkurang meski harga per lembar tampak jauh lebih murah.

Sintesis timeline singkat: RUPSLB 29 Juni 2026, persetujuan BEI, hari cum 20 Juli, efektif nominal baru 21 Juli, lalu recording date dan distribusi KSEI. Semua tahap ini membentuk satu alur yang harus dicermati investor.

Yang Perlu Dicermati Investor Setelah Nominal Baru Berlaku

Setelah 21 Juli, pedoman tawar-menawar di JATS beralih penuh ke kisaran seribu rupiah. Trader ritel wajib menyesuaikan strategi order dan fraksi harga.

Kepemilikan 1 lembar lama setara 25 lembar baru. Portofolio terlihat lebih banyak lembar, tapi nilai absolut tetap sama. Jangan panik melihat harga ‘turun’ karena itu hanya efek mekanis split.

Status HSC 99,42 persen berarti free float efektif masih sempit. Lonjakan jumlah saham membantu likuiditas absolut, namun konsentrasi kepemilikan tinggi tetap jadi faktor yang membatasi pergerakan bebas di pasar.

Pantau volume dan frekuensi transaksi harian pasca-split. Harga dasar IHS Rp19.237 jadi acuan tambahan untuk mengukur performa individual saham Multipolar Technology ke depan.

Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.