PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menampilkan kontras tajam di laporan semester I 2026. Pendapatan neto naik 29,28 persen menjadi Rp3,99 triliun dan arus kas operasi tetap positif. Namun laba rugi bersih berbalik rugi karena penurunan nilai investasi non-operasional.
Inti artikel
- PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menampilkan kontras tajam di laporan semester I 2026
- Pendapatan neto naik 29,28 persen menjadi Rp3,99 triliun dan arus kas operasi tetap positif
- Namun laba rugi bersih berbalik rugi karena penurunan nilai investasi non-operasional
Rugi bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp820,74 miliar. Angka ini berbalik dari laba Rp464,45 miliar di periode sama 2025. Kas dan setara kas masih belasan triliun, tepatnya Rp14,25 triliun per 30 Juni 2026.
Pendapatan Neto Tembus Rp3,99 T Meski Bottom Line Merah
Pendapatan neto Bukalapak tembus Rp3,99 triliun dari Rp3,09 triliun setahun sebelumnya. Kenaikan hampir 30 persen ini menunjukkan top line yang masih ekspansif. Beban pokok pendapatan ikut naik ke Rp3,69 triliun dari Rp2,83 triliun.
Pendapatan operasi lainnya justru berbalik positif Rp793,23 miliar. Tahun lalu pos itu masih beban Rp32,31 miliar. Meski begitu, bottom line tetap merah karena drag di luar operasi inti.
Optimaise News menyoroti bahwa pertumbuhan top line ini belum cukup menahan tekanan dari pos investasi. Kesehatan operasional tampak solid, tapi angka bersih yang dilihat investor langsung berubah warna.
Pos Investasi Jadi Penentu: Dari Laba ke Rugi Rp1,75 T

Penurunan nilai investasi mencapai Rp1,75 triliun di semester I 2026. Pos yang sama setahun sebelumnya justru mencetak laba Rp243,22 miliar. Selisih besar ini langsung membalikkan kinerja dari laba ratusan miliar menjadi rugi.
Rugi investasi tersebut bersifat non-operasional. Artinya bisnis inti marketplace dan layanan digital masih mencatat pertumbuhan pendapatan. Namun valuasi aset investasi yang dipegang perseroan anjlok tajam dan menyeret seluruh laporan.
Tanpa drag Rp1,75 triliun ini, bottom line Bukalapak kemungkinan besar masih hijau. Fakta itu memperjelas mana yang sakit dan mana yang masih kuat di neraca.
| Pos Keuangan | H1 2026 | H1 2025 / Akhir 2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan Neto | Rp3,99 triliun | Rp3,09 triliun |
| Rugi/Laba Bersih (pemilik) | Rugi Rp820,74 miliar | Laba Rp464,45 miliar |
| Rugi/Laba Nilai Investasi | Rugi Rp1,75 triliun | Laba Rp243,22 miliar |
| Kas dan Setara Kas | Rp14,25 triliun | Rp16,21 triliun |
| Investasi Jangka Panjang | Rp4,14 triliun | Rp2,71 triliun |
| Arus Kas Operasi | +Rp59,34 miliar | +Rp9,9 miliar |
Neraca: Kas Turun, Investasi Jangka Panjang Justru Naik

Kas dan setara kas per 30 Juni 2026 tercatat Rp14,25 triliun. Posisi ini turun dari Rp16,21 triliun di akhir 2025. Penurunan sekitar Rp2 triliun ini sejalan dengan aktivitas investasi yang agresif.
Investasi jangka panjang justru naik menjadi Rp4,14 triliun dari Rp2,71 triliun. Penambahan investasi di periode berjalan mencapai Rp3,07 triliun. Perseroan terus menambah portofolio meski valuasi sebagian aset sudah tergerus.
Neraca memperlihatkan pergeseran jelas: uang tunai berkurang, aset investasi jangka panjang membengkak. Investor retail perlu melihat dua sisi ini bersamaan.
Arus Kas Operasi Masih Hijau, Arus Investasi Keluar Besar
Arus kas dari aktivitas operasi positif Rp59,34 miliar. Angka itu naik dari hanya Rp9,9 miliar di H1 2025. Operasi sehari-hari masih menghasilkan kas, bukan menguras.
Sebaliknya arus kas investasi keluar bersih Rp2,33 triliun. Outflow besar ini mencerminkan penempatan dana ke aset jangka panjang. Kombinasi operasi hijau dan investasi keluar besar menjelaskan mengapa kas turun meski bisnis inti jalan.
Sintesis satu layar: operasional sehat (pendapatan +29 persen plus arus kas operasi naik), drag non-operasional dominan (rugi investasi Rp1,75 triliun), kas masih Rp14,25 triliun, outflow investasi Rp2,33 triliun. Pembaca langsung tahu apa yang kuat dan apa yang menekan.
Rincian Aset Investasi yang Merugi Belum Dibuka Perseroan
Perseroan belum merinci aset atau instrumen mana yang menyebabkan rugi nilai Rp1,75 triliun. Laporan hanya menampilkan total penurunan tanpa breakdown per portofolio. Celah keterbukaan ini menjadi pertanyaan akuntabilitas bagi pemegang saham.
Tanpa rincian, sulit menilai apakah kerugian bersifat sementara mark-to-market atau permanent impairment. Investor tidak bisa menimbang risiko masing-masing aset. Optimaise News mencatat bahwa transparansi rincian investasi menjadi poin yang paling ditunggu di laporan berikutnya.
Posisi kas belasan triliun masih memberi ruang napas. Namun tanpa penjelasan aset yang merugi, pasar akan terus menagih kejelasan strategi investasi jangka panjang Bukalapak.







