Penjualan barang beli putus PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk anjlok 15,42 persen menjadi Rp928,9 miliar di semester I 2026. Penurunan ini menjadi motor utama pelemahan omzet ritel emiten berkode RALS.
Inti artikel
- Penjualan barang beli putus PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk anjlok 15,42 persen menjadi Rp928,9 miliar di semester I 2026
- Penurunan ini menjadi motor utama pelemahan omzet ritel emiten berkode RALS
- Dampaknya merembet ke laba bruto, laba usaha, pos keuangan, hingga laba komprehensif yang tergerus 22,60 persen
Dampaknya merembet ke laba bruto, laba usaha, pos keuangan, hingga laba komprehensif yang tergerus 22,60 persen. Optimaise News menelusuri rantai P&L lengkap dari laporan keuangan yang dirilis di BEI.
Omzet Ritel Rp1,31 Triliun: Beli Putus versus Konsinyasi
Pendapatan Ramayana di semester pertama 2026 hanya Rp1,31 triliun. Angka itu turun 12,65 persen dari Rp1,50 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Komponen terbesar, penjualan barang beli putus, menyusut tajam 15,42 persen ke Rp928,9 miliar. Sebaliknya, komisi penjualan konsinyasi hanya melemah 5,13 persen menjadi Rp383,9 miliar.
Laju pelemahan yang timpang itu menegaskan model beli putus lebih rentan terhadap pelemahan daya beli. Konsinyasi relatif lebih stabil meski tetap ikut terkoreksi.
Beban Dipangkas, Laba Bruto Tetap Terkoreksi

Manajemen memangkas beban penjualan hingga 29,64 persen. Langkah efisiensi ini cukup menahan laju koreksi di level gross profit.
Meski begitu, laba bruto tetap turun 9,12 persen menjadi Rp722,7 miliar. Omzet yang melemah lebih dalam masih mendominasi perhitungan laba kotor.
Pemangkasan juga menyentuh beban pokok serta beban umum dan administrasi. Namun penurunan beban tersebut belum mampu menghapus dampak pelemahan penjualan beli putus.
Laba Usaha dan Pos Keuangan yang Ikut Melemah
Laba usaha Ramayana tercatat Rp204,6 miliar, turun 4,37 persen. Pos operasional ini relatif lebih tahan berkat pengendalian beban.
Laba sebelum pajak melemah 10,64 persen ke Rp238,4 miliar. Kenaikan pendapatan lainnya 37,29 persen dan penyusutan beban lainnya ternyata tidak cukup menahan koreksi bottom line.
Akhirnya laba tahun berjalan mencapai Rp204,9 miliar. Angka tersebut turun 11,05 persen dari Rp230,3 miliar setahun sebelumnya.
Rugi Nilai Wajar Aset Menekan Laba Komprehensif
Total laba komprehensif anjlok lebih tajam 22,60 persen menjadi Rp184,5 miliar. Penekan utamanya adalah rugi perubahan nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual sebesar Rp26,1 miliar.
Pos komprehensif lain yang biasanya menambah ekuitas berbalik menekan. Inilah alasan angka komprehensif turun jauh lebih dalam dibanding laba tahun berjalan.
Investor dan pemegang saham perlu mencermati komponen nonoperasional ini. Nilai wajar aset bisa memengaruhi persepsi kinerja emiten ritel secara keseluruhan di tengah persaingan industri.
Peta Angka Kunci Semester I 2026
Berikut ringkasan perbandingan pos-pos utama kinerja keuangan Ramayana semester I 2026 versus periode sama 2025.
| Pos Keuangan | S1 2026 | S1 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp1,31 triliun | Rp1,50 triliun | -12,65% |
| Penjualan beli putus | Rp928,9 miliar | – | -15,42% |
| Komisi konsinyasi | Rp383,9 miliar | – | -5,13% |
| Laba bruto | Rp722,7 miliar | – | -9,12% |
| Laba usaha | Rp204,6 miliar | – | -4,37% |
| Laba sebelum pajak | Rp238,4 miliar | – | -10,64% |
| Laba tahun berjalan | Rp204,9 miliar | Rp230,3 miliar | -11,05% |
| Laba komprehensif | Rp184,5 miliar | – | -22,60% |
| Rugi nilai wajar aset | Rp26,1 miliar | – | menekan |
Tabel di atas memperlihatkan rantai pelemahan dari omzet beli putus hingga bottom line yang utuh. Sintesis ini jarang disajikan lengkap di laporan ringkas kompetitor.







