Perbankan Indonesia menghadapi tekanan likuiditas yang makin ketat di era suku bunga acuan tinggi. BI-Rate kini di level 5,75 persen setelah naik total 100 basis poin sepanjang 2026.
Inti artikel
- Perbankan Indonesia menghadapi tekanan likuiditas yang makin ketat di era suku bunga acuan tinggi
- BI-Rate kini di level 5,75 persen setelah naik total 100 basis poin sepanjang 2026
- Biaya dana bank melonjak imbas kebijakan moneter Bank Indonesia plus program pemerintah
Biaya dana bank melonjak imbas kebijakan moneter Bank Indonesia plus program pemerintah. Margin bunga bersih tergerus, pertumbuhan dana pihak ketiga melambat, dan bankir mulai mengeluh soal kekeringan likuiditas di jangka menengah.
BI Rate Naik 100 Basis Poin Tekan Biaya Dana Perbankan
Kenaikan BI-Rate 100 basis poin memaksa bank menyesuaikan suku bunga simpanan agar tetap menarik nasabah. Biaya pendanaan langsung naik karena bank harus bayar lebih mahal untuk dana yang dihimpun.
Dampaknya terasa di neraca. Banyak bank mengaku perlu adjustment policy di jangka menengah supaya tidak kehilangan daya saing saat merebut dana masyarakat.
Kebijakan moneter ketat ini memang bertujuan jaga stabilitas harga. Namun bagi industri perbankan, tekanan biaya dana jadi tantangan utama yang harus dikelola hati-hati.
NIM Bank RI Turun ke 4,36% dari 4,56% Akhir Tahun Lalu
Net interest margin atau margin bunga bersih perbankan nasional di Mei 2026 tercatat 4,36 persen. Angka itu turun dibanding 4,56 persen di akhir tahun sebelumnya.
Penurunan NIM mencerminkan selisih suku bunga kredit dan simpanan yang makin tipis. Bank kesulitan menjaga profitabilitas saat biaya dana terus naik.
Tekanan ini memukul hampir seluruh pemain. Analisis sederhana menunjukkan margin bunga yang menyusut membuat ruang manuver bank untuk ekspansi kredit jadi lebih sempit di 2026.
Pertumbuhan DPK Lambat di Tengah Perlambatan 2026
Dana pihak ketiga perbankan mencapai Rp9.718,8 triliun pada Juni 2026. Pertumbuhannya hanya 8,1 persen year on year, melambat tajam dari 10,8 persen di bulan sebelumnya.
Perlambatan ekonomi membuat masyarakat lebih selektif menempatkan uang. Dana mengendap di rekening tabungan dan deposito tidak secepat tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi ini memperketat persaingan antarbank. Siapa yang mampu jaga DPK stabil akan lebih mudah atur likuiditas harian tanpa harus buru-buru naikkan suku bunga secara agresif.
Bank-Bank Mengeluh Kekeringan Likuiditas dari Program Pemerintah
Sejumlah bank mengeluhkan kekeringan likuiditas yang dipicu program pemerintah. Penarikan dana terkait anggaran membuat aliran uang keluar dari sistem perbankan lebih cepat dari biasanya.
Bank harus sesuaikan pelayanan program tersebut lewat adjustment policy. Biaya dana ikut terdorong naik karena bank berlomba jaga posisi likuiditas agar tetap aman.
Secara keseluruhan, bankir Indonesia kini menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi moneter ketat dari BI-Rate, di sisi lain aliran dana fiskal yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan industri.
BTN dan Himbara Hadapi Tantangan Likuiditas serta Persaingan Suku Bunga
Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar mengakui situasi cukup menantang untuk likuiditas. Bank swasta sudah mengerek suku bunga tabungan karena persaingan perebutan dana pasar yang makin sengit.
Himbara juga menghadapi penarikan saldo anggaran lebih yang memicu lomba suku bunga ke atas. Persaingan ini membuat seluruh pemain harus lebih cermat mengelola aset dan liabilitas.
Langkah praktis yang bisa diambil bankir antara lain perkuat manajemen aset-liabilitas harian, diversifikasi sumber dana nontradisional, serta sesuaikan portofolio kredit agar tidak terlalu bergantung pada DPK mahal. Dengan cara itu, tekanan likuiditas era BI-Rate 5,75 persen bisa lebih terkendali tanpa mengorbankan margin jangka panjang.





