Jakarta, Optimaise News – Laporan World Gold Council mencatat bank sentral di seluruh dunia membeli emas bersih 289 ton pada kuartal II 2026. Angka itu melonjak tajam dari 56,5 ton di kuartal I, sementara harga spot bertahan di level kritis sekitar US$4.000 per troy ounce.
Inti artikel
- Laporan World Gold Council mencatat bank sentral di seluruh dunia membeli emas bersih 289 ton pada kuartal II 2026
- Angka itu melonjak tajam dari 56,5 ton di kuartal I, sementara harga spot bertahan di level kritis sekitar US$4.000 per troy ounce
- Lonjakan ini disebut sebagai peningkatan tertinggi sejak kuartal I 2024
Lonjakan ini disebut sebagai peningkatan tertinggi sejak kuartal I 2024. Optimaise News menghimpun data yang sama menunjukkan aksi sektor resmi jadi penopang utama di tengah pelemahan permintaan perhiasan.
Data pembelian bank sentral global melonjak tajam
Pembelian bersih 289 ton di kuartal II 2026 menandai rebound kuat setelah periode lebih tenang. Dibanding 56,5 ton di tiga bulan sebelumnya, selisihnya sangat mencolok bagi pasar logam mulia.
Menurut rangkuman World Gold Council, momentum itu menjadi yang paling tinggi sejak awal 2024. Bank sentral terlihat memanfaatkan ruang harga untuk menambah cadangan tanpa terburu-buru.
Bagi pembaca di Indonesia, pola ini relevan karena banyak manajer cadangan global memandang emas sebagai penyeimbang portofolio jangka panjang. Ketidakpastian geopolitik membuat diversifikasi ke logam fisik tetap menarik.
Analis Standard Chartered: pembelian ini bukan tren negatif
Suki Cooper dari Standard Chartered menilai lonjakan itu positif. Ia mengatakan, “Pembelian bank sentral kembali meningkat ke level tertinggi sejak Q1 2024”.
Pernyataan itu menegaskan bahwa aksi beli resmi bukan sinyal panik, melainkan respons terukur. Sektor resmi justru mencatat kenaikan pembelian 62 persen secara year-on-year.
Catatan Optimaise News menempatkan komentar Cooper sebagai penegas bahwa pelemahan harga sementara kerap dibaca sebagai kesempatan masuk, bukan alasan keluar.
Permintaan perhiasan turun 17 persen sementara sektor resmi naik
Di sisi ritel, permintaan emas untuk perhiasan turun 17 persen year-on-year menjadi 278 ton. Level itu digambarkan sebagai yang terlemah sejak masa pandemi.
Kontrasnya jelas: saat konsumen menahan belanja hiasan, bank sentral justru menambah stok. Sintesis data ini memberi gambaran lengkap bahwa tren harga lebih ditopang aliran resmi ketimbang ritel.
Bagi pelaku UMKM perhiasan di dalam negeri, pelemahan global tersebut menjadi pengingat untuk menyesuaikan stok dan margin. Sementara investor yang mengikuti arus bank sentral melihat ruang akumulasi berbeda.
Korelasi emas dengan imbal hasil riil tinggi mengancam investasi
Korelasi emas dengan imbal hasil riil lima tahun mencapai minus 47 persen. Angka itu menekan daya tarik investasi jangka pendek ketika yield riil tetap tinggi.
Korelasi dengan dolar AS juga signifikan di minus 55 persen, sementara dengan minyak di minus 29 persen. Kombinasi ini menjelaskan kenapa harga bisa tertahan meski ada aksi beli besar.
Analisis peluang beli berdasarkan korelasi tersebut menunjukkan pergerakan harga masih didorong faktor struktural, bukan hanya spekulasi harian. Manajer cadangan terus memandang emas sebagai alat diversifikasi jangka panjang.
Prospek jangka panjang: bank sentral lihat emas sebagai peluang
Survei bank sentral baru-baru ini mengisyaratkan penurunan harga masih dibaca sebagai peluang pembelian, bukan alasan mengurangi eksposur. Produksi tambang yang lebih sehat juga dinilai mendukung tren harga dalam jangka panjang.
Harga emas spot yang bertahan di zona US$4.000 per troy ounce menjadi acuan psikologis. Selama aksi beli resmi berlanjut, level tersebut cenderung dijaga meski ada tekanan dari yield dan dolar.
Dengan Harga Emas Terus Dikuatkan Aksi Beli Bank Sentral? di pusat perhatian pasar, pembaca yang memantau cadangan devisa global punya alasan mengikuti aliran kuartalan berikutnya.






