Asesmen DP3A Ungkap 32 Siswa SD di Manggala Korban Pelecehan

Asesmen DP3A Makassar ungap 32 siswa SD Manggala diduga korban pelecehan. Pengakuan muncul bertahap, 5 anak per hari didampingi ke Polrestabes, data 1.222.

Author Image

Adel

Asesmen DP3A Ungkap 32 Siswa SD di Manggala Korban Pelecehan

Proses asesmen dan pendampingan hukum bertahap oleh DP3A Makassar mengungkap 32 siswa sebuah SD di Kecamatan Manggala sebagai diduga korban kekerasan seksual. Banyak anak baru memahami pelecehan setelah menjalani pemeriksaan, bukan lewat laporan mandiri sejak awal.

Inti artikel

  • Banyak anak baru memahami pelecehan setelah menjalani pemeriksaan, bukan lewat laporan mandiri sejak awal
  • Kepala DP3A Makassar Ita Isdiana Anwar menegaskan pengakuan terus muncul seiring proses
  • Kasus melibatkan pemilik warung di depan sekolah

Kepala DP3A Makassar Ita Isdiana Anwar menegaskan pengakuan terus muncul seiring proses. Kasus melibatkan pemilik warung di depan sekolah. Optimaise News menelusuri alur dari asesmen sekolah-keluarga hingga pendampingan ke Polrestabes yang kini memasuki hari ketiga.

Asesmen Sekolah-Keluarga Membuka Pengakuan yang Tertahan

Asesmen digelar bersama pihak sekolah dan keluarga. Hasilnya menyebut 32 anak diduga menjadi korban. Sebagian mengalami kejadian berulang namun tak pernah melapor karena belum menyadari itu sebagai kekerasan.

Korban tersebar di berbagai jenjang kelas di sekolah yang sama. Pengakuan tidak berhenti di asesmen awal. Jumlah terus bertambah saat anak didampingi lebih lanjut dalam suasana aman.

Ita menjelaskan banyak anak baru memahami pelecehan setelah diperiksa. Situasi ini menuntut pendekatan hati-hati agar anak tidak tertekan. Kerja sama sekolah membantu mengungkap fakta yang tertahan lama di antara siswa.

Pola Pendekatan Saat Anak Membeli Jajanan

Pola Pendekatan Saat Anak Membeli Jajanan

Pelaku diduga memanfaatkan momen anak membeli jajanan di warung depan sekolah. Barang dagangan diletakkan di rak tinggi. Akibatnya pelaku menggendong anak untuk mengambil barang tersebut.

Modus ini membuat sebagian anak merasa kejadian itu biasa saja. Mereka tidak langsung menceritakan kepada orang tua atau guru. Hanya setelah asesmen, pola tersebut terungkap secara lebih jelas dan rinci.

Pendekatan seperti ini menekankan pentingnya pengawasan di sekitar sekolah. Orang tua dan guru perlu waspada terhadap interaksi yang tampak remeh namun berulang. Tanda awal sering hanya berupa anak yang tiba-tiba enggan ke warung sendirian.

Ritme Pendampingan ke Polrestabes: Lima Anak per Hari

Ritme Pendampingan ke Polrestabes: Lima Anak per Hari

DP3A mengantar sekitar lima korban per hari ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestabes Makassar. Setiap anak didampingi satu tim Tim Reaksi Cepat hingga Berita Acara Pemeriksaan selesai.

Proses sudah masuk hari ketiga. Prioritas saat ini adalah konsentrasi anak pada proses BAP. Layanan konseling belum diutamakan agar fokus anak tidak terpecah di tengah pemeriksaan hukum.

Ritme lima anak per hari dipilih agar pendampingan tetap intensif. Tim memastikan anak merasa aman selama pemeriksaan. Pengakuan baru terus muncul dalam proses ini seiring rasa percaya yang tumbuh.

Jalur Pemulihan Puspaga dan Batas Informasi Publik

Layanan konseling Pusat Pembelajaran Keluarga disiapkan untuk pemulihan. Penanganan dan sebaran informasi diminta dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu penyidikan maupun kondisi psikis anak.

DP3A menekankan batasan informasi publik demi melindungi korban. Fokus utama tetap pada proses hukum dan pemulihan jangka panjang. Kerja sama multipihak menjadi kunci agar kasus serupa dapat dicegah di lingkungan sekolah.

Dalam skala kota, kasus 32 siswa ini masuk data kekerasan Makassar. Sepanjang 2025 tercatat 1.222 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka itu jauh di atas 520 kasus di 2024, dengan 762 korban anak dan 460 dewasa. Khusus kekerasan seksual anak, 134 kasus terjadi Januari hingga Oktober 2025. Optimaise News melihat posisi kasus Manggala sebagai potret nyata beban penanganan yang masih tinggi.

Alur penanganan ringkasnya: asesmen bersama sekolah dan keluarga, lalu pendampingan Tim Reaksi Cepat bertahap ke Unit PPA, baru kemudian opsi pemulihan melalui Puspaga. Orang tua dan guru bisa memulai dengan mengamati perubahan perilaku, seperti anak yang tiba-tiba menolak didekati orang dewasa tertentu atau enggan ke tempat jajanan favorit.

FAQ Seputar Kasus dan Penanganan

Mengapa banyak anak di kasus ini baru sadar jadi korban setelah diperiksa? Menurut Kepala DP3A Ita Isdiana Anwar, anak sering tidak memahami batasan sentuhan yang tidak pantas. Asesmen membantu mereka mengenali pengalaman sebagai pelecehan setelah ada ruang aman untuk bicara.

Bagaimana ritme pendampingan ke Polrestabes berlangsung? Sekitar lima anak diantar per hari. Masing-masing didampingi tim Tim Reaksi Cepat sampai Berita Acara Pemeriksaan selesai. Proses sudah berjalan di hari ketiga dengan fokus utama pada pemeriksaan dulu.

Apa yang bisa dilakukan orang tua jika curiga anak mengalami pelecehan? Amati perubahan perilaku, ajak bicara tanpa menekan, lalu minta asesmen bersama sekolah dan DP3A. Jangan tunggu laporan formal dari anak karena banyak yang tidak sadar diri sebagai korban.

Kapan layanan Puspaga mulai digunakan? Setelah proses Berita Acara Pemeriksaan dan konsentrasi anak pada pemeriksaan hukum selesai. Konseling disiapkan sebagai jalur pemulihan berikutnya agar anak siap secara emosional.

Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.