Jakarta, Optimaise News – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menegaskan tidak ada fenomena makan tabungan di masyarakat. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada 3 Agustus 2026. Data agregat dari sekitar 100 juta rekening perbankan justru memperlihatkan pertumbuhan simpanan di seluruh kelompok nominal.
Inti artikel
- Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menegaskan tidak ada fenomena makan tabungan di masyarakat
- Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada 3 Agustus 2026
- Data agregat dari sekitar 100 juta rekening perbankan justru memperlihatkan pertumbuhan simpanan di seluruh kelompok nominal
Anggito menekankan bahwa gambaran keseluruhan tetap positif meski secara individu ada nasabah yang mengurangi saldo. Pertumbuhan ini menjadi sinyal bahwa likuiditas rumah tangga dan dunia usaha masih terjaga. Temuan LPS sekaligus menepis kekhawatiran yang muncul dari indeks lain yang menggunakan metode berbeda.
Pertumbuhan Simpanan Nasabah di Semua Kelompok
Simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan. Kelompok di bawah Rp5 juta bahkan lebih tinggi, mencapai 7,36 persen year on year. Angka ini lebih kuat dibanding posisi Desember 2025 yang hanya 3,43 persen untuk segmen di bawah Rp100 juta.
Sementara itu, simpanan di atas Rp5 miliar melonjak 15,44 persen secara tahunan dan menjadi motor utama pertumbuhan Dana Pihak Ketiga. Data hingga Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan simpanan di bawah Rp100 juta sebesar 4,95 persen, sedangkan di atas Rp5 miliar mencapai 21,45 persen. Semua segmen bergerak naik, membentuk sintesis yang utuh bahwa tidak ada tekanan massal pada tabungan.
Kenaikan ini memberi ruang bagi daya beli masyarakat. Ketika simpanan kecil dan menengah tetap bertambah, konsumsi rumah tangga punya bantalan. Sektor riil pun merasakan manfaat lewat ketersediaan dana yang lebih longgar untuk aktivitas produksi dan perdagangan.
Anggito Abimanyu Jelaskan Data Agregat dan Metodologi Berbeda
Anggito menjelaskan bahwa LPS melihat data secara agregat. Artinya, total simpanan seluruh nasabah dihitung bersama-sama. Secara keseluruhan semua segmen masih tumbuh, meski ada rekening individu yang berkurang.
Perbedaan dengan Mandiri Saving Index yang mencatat kontraksi 5,7 persen terletak pada metodologi. Indeks tersebut memakai basis perhitungan sejak Januari 2022, sedangkan LPS menggunakan perbandingan year on year. Anggito menegaskan data LPS mencakup seluruh rekening yang dipantau, sehingga hasilnya mewakili kondisi perbankan nasional secara lebih luas.
Perbandingan ini penting agar publik tidak salah menafsirkan angka yang tampak bertolak belakang. Metodologi year on year LPS menangkap dinamika terbaru, sementara basis historis yang lebih panjang bisa menangkap efek kumulatif yang berbeda. Kedua data tetap valid di konteks masing-masing, namun LPS menekankan gambaran agregat yang lebih lengkap.
LPS Pantau 100 Juta Rekening Perbankan
LPS secara rutin memantau sekitar 100 juta rekening dari seluruh kelompok nasabah. Cakupan ini mencakup bank umum dan bank perkreditan rakyat. Pemantauan menyeluruh memungkinkan LPS menangkap pergerakan simpanan secara real-time.
Di sisi penanganan bank bermasalah, hingga Juni 2026 terdapat 18 BPR-BPRS yang sedang dalam proses likuidasi. Sebanyak 70 persen rekening nasabah sudah menerima pembayaran klaim dalam waktu lima hari. Kecepatan klaim ini menjaga kepercayaan publik terhadap sistem penjaminan.
LPS tidak melakukan kajian khusus mengenai dampak konsumsi terhadap penggunaan tabungan. Fokus utama tetap pada stabilitas simpanan dan kesiapan penjaminan. Pemantauan 100 juta rekening menjadi fondasi agar setiap pergerakan bisa direspons cepat tanpa menimbulkan gejolak.
Implikasi untuk Dana Pihak Ketiga dan Perekonomian
Dana Pihak Ketiga perbankan tumbuh 13,47 persen secara tahunan pada Mei 2026. Lonjakan simpanan di atas Rp5 miliar menjadi penopang utama. Peningkatan ini sejalan dengan naiknya M2 yang menandakan likuiditas perekonomian semakin longgar.
Anggito menyatakan bahwa kenaikan simpanan mendukung aktivitas ekonomi di sektor riil. Dana yang mengendap di bank dapat disalurkan kembali sebagai kredit. Dengan demikian, pertumbuhan simpanan bukan hanya angka di neraca, melainkan bahan bakar bagi investasi dan konsumsi.
Gambaran utuh dari semua segmen menunjukkan fondasi keuangan rumah tangga dan korporasi masih kokoh. Likuiditas yang membaik lewat M2 memperkuat kapasitas perbankan menyalurkan dana. Kondisi ini memberi ruang bagi perekonomian untuk bergerak lebih stabil di tengah tantangan global.






