Jakarta, Optimaise News – Pelatih baru AC Milan, Ruben Amorim, sejak awal masa tugas langsung menargetkan juara Liga Italia sekaligus trofi Eropa. Sikap itu berbeda tajam dari Massimiliano Allegri yang di musim comeback 2025-2026 lebih sering bicara realistis soal empat besar demi tiket Liga Champions.
Inti artikel
- Pelatih baru AC Milan, Ruben Amorim, sejak awal masa tugas langsung menargetkan juara Liga Italia sekaligus trofi Eropa
- Amorim kini mendorong pemulihan tradisi klub: berjuang juara di setiap kompetisi yang diikuti
- Amorim menekankan bahwa AC Milan bukan tim yang cukup berpuas diri di zona aman
Menurut pantauan Optimaise News, Rossoneri di era Allegri finis kelima Serie A, tersingkir di babak 16 besar Coppa Italia, dan hanya sampai semifinal Piala Super Italia sebelum berakhir di Liga Europa. Amorim kini mendorong pemulihan tradisi klub: berjuang juara di setiap kompetisi yang diikuti.
Target juara segera Amorim lawan realisme Allegri musim lalu
Amorim menekankan bahwa AC Milan bukan tim yang cukup berpuas diri di zona aman. Ia ingin mengembalikan rasa percaya diri skuad bahwa status klub mewajibkan mereka mengejar piala, bukan hanya tiket Eropa class dua.
Allegri di sisi lain berulang kali menahan diri dari klaim juara Serie A. Target yang sering ia sebut adalah finis empat besar agar lolos ke Liga Champions. Kritik publik menyebut sikap itu terkesan lembek, meskipun ia berargumen melihat materi skuad secara realistis.
Pada akhirnya, keraguan itu berbuah hasil di bawah ekspektasi. Milan sempat beberapa pekan di puncak klasemen, lalu merosot hingga gagal mengamankan empat besar.
Finis kelima dan tiket Europa: jejak Allegri di San Siro
Musim 2025-2026 menjadi comeback Allegri yang berakhir pahit. Mike Maignan dan kawan-kawan hanya finis peringkat kelima Liga Italia, babak 16 besar Coppa Italia, serta semifinal Piala Super Italia. Tempat di Liga Champions pun lepas, diganti spot Liga Europa.
Penurunan di pekan akhir memperparah tekanan. Catatan Optimaise News menghimpun bahwa dari 8 laga terakhir musim, Milan hanya mengumpulkan 7 poin, turun ke zona rawan, sementara Roma menyamai 67 poin dan Como 1907 tinggal 2 poin di belakang. Isu ketegangan internal melibatkan Allegri, Igli Tare, Giorgio Furlani, dan Zlatan Ibrahimovic sempat mengemuka, lengkap dengan petisi fans terhadap Furlani yang melampaui 50.000 tanda tangan dan sanksi ritiro di Milanello pada 14 Mei 2026.
Sebelumnya, kekalahan 0-3 dari Udinese di San Siro pada 11 April 2026 menambah rasa getir. Allegri sempat ganti formasi ke 4-3-3, tetapi Fabio Capello menilai inti masalah bukan formasi. Menurut Capello, Udinese tampak sekitar 1,5 kali lebih cepat, dan penurunan performa di musim tanpa kompetisi besar lebih terkait mentalitas daripada fisik. Capello juga mengkritik Rafael Leao yang terasa kehilangan kecepatan, lambat baik sebagai penyerang tengah maupun sayap.
Tradisi Milan mengejar setiap piala jadi fondasi baru
Amorim membingkai misi barunya sebagai pengembalian tradisi Rossoneri. Ia ingin skuad memahami bahwa di setiap ajang yang dimasuki, targetnya adalah juara, bukan sekadar lolos fase tertentu.
Pesan itu muncul di tengah pramusim, termasuk usai uji coba melawan Inter Milan di Perth, 5 Agustus 2026, yang berakhir 1-1 lewat penalti Nkunku. Amorim mengapresiasi dasar profesionalisme yang ditinggalkan Allegri. Ia menyebut para pemain dilatih dengan bagus tahun lalu, terlihat profesional, dan terus membaik secara fisik maupun kolektif.
Ia juga menyinggung aliran bola yang lebih cepat dan inisiatif dari lini belakang, dengan catatan tanpa mengambil risiko sama besar seperti saat menghadapi Celtic di Glasgow. Di saat yang sama, ia jujur: penguasaan bola masih harus diperbaiki agar Milan tidak mudah tertekan, terutama jelang uji coba lainnya termasuk agenda lawan Chelsea di Jakarta.
Dampak ucapan target top-4 Allegri ke mental skuad
Banyak pengamat mengaitkan gelagat “cukup empat besar” Allegri dengan menipisnya kepercayaan diri di ruangan ganti. Ucapan yang berulang tentang tiket Champions tanpa pernyataan juara Serie A dinilai meredupkan ambisi, meski Milan sempat memimpin tabel.
Amorim, sebaliknya, memakai basisi profesionalisme warisan Allegri sebagai landasan, lalu menaikkan bar mental. Narasi utuh dari musim lalu tampak jelas: target top-4 berakhir Europa, kritik kecepatan dan mentalitas dari Capello, krisis internal dan petisi fans, hingga pergantian pelatih. Harapan pendukung musim depan digantung pada pelatih Portugis yang tidak ragu bicara juara Liga Italia dan Eropa sejak hari pertama.
Bagi pembaca yang mengikuti Rossoneri, kontras ini menentukan tone musim: dari realisme hati-hati ke klaim ambisi penuh. Apakah skema Amorim sanggup mengubah poin dan ritme permainan akan diuji seiring pramusim berlanjut dan Serie A kembali bergulir.







