14 Peti Pisang Rp2,1 Juta Batal, Pedagang Metro Nyaris Rugi

Imam Mustofa pedagang Metro nyaris rugi Rp2,1 juta usai 14 peti pisang cavendish untuk dapur MBG dibatalkan mendadak akhir Juli 2026.

Author Image

Adel

14 Peti Pisang Rp2,1 Juta Batal, Pedagang Metro Nyaris Rugi

– Imam Mustofa, pedagang buah berusia 35 tahun di Kota Metro, Lampung, nyaris merugi Rp 2,1 juta pada akhir Juli 2026. Ia menerima pembatalan mendadak atas 14 peti pisang cavendish yang sudah disiapkan untuk dapur Program Makan Bergizi Gratis di Bandar Lampung.

Inti artikel

  • Imam Mustofa, pedagang buah berusia 35 tahun di Kota Metro, Lampung, nyaris merugi Rp 2,1 juta pada akhir Juli 2026
  • Effendi menghubungi Imam pada 29 Juli 2026 menanyakan stok, lalu keesokan harinya memastikan pesanan senilai sekitar Rp 2,1 juta
  • Effendi pertama kali menghubungi Imam Mustofa lewat telepon pada 29 Juli 2026

Effendi menghubungi Imam pada 29 Juli 2026 menanyakan stok, lalu keesokan harinya memastikan pesanan senilai sekitar Rp 2,1 juta. Pembatalan datang Minggu sore menjelang pengiriman dengan alasan dapur kena suspend, sementara proses pematangan buah sudah berjalan dan tidak bisa dibatalkan ke pemasok.

Pesanan mendadak 14 peti pisang cavendish dari Bandar Lampung

Effendi pertama kali menghubungi Imam Mustofa lewat telepon pada 29 Juli 2026. Ia menanyakan apakah stok pisang cavendish masih tersedia di gudang Metro. Imam mengonfirmasi ketersediaan karena stok biasa datang rutin dari pemasok.

Sehari kemudian Effendi memastikan ingin mengambil 14 peti sekaligus. Nilai total mencapai sekitar Rp 2,1 juta. Imam langsung memesan ke pemasok agar buah diproses sesuai kebutuhan dapur tersebut.

Imam sendiri menuturkan, “Awalnya dia tanya ada stok pisang cavendish atau tidak. Besoknya dia memastikan pesan 14 peti dengan nilai sekitar Rp 2,1 juta.” Ia menganggap pesanan itu sebagai peluang bagus di tengah persaingan penjualan buah lokal.

Risiko pematangan pisang yang tak bisa dibatalkan

Risiko pematangan pisang yang tak bisa dibatalkan
Ilustrasi Risiko pematangan pisang yang tak bisa dibatalkan.

Pisang cavendish berbeda dari pisang ambon atau pisang kepok yang sering dijual matang di pasar. Jenis ini memerlukan proses pematangan berhari-hari di gudang sebelum siap dikirim. Begitu buah tiba dari pemasok, pesanan ke hulu sudah final dan tidak bisa dikembalikan.

Imam menjelaskan, “Kalau pisang cavendish itu tidak bisa mendadak. Harus dipesan beberapa hari sebelumnya karena ada proses pematangan.” Ia mengingatkan pembeli agar tidak memesan di menit terakhir karena stok sudah dialokasikan.

Para pedagang kecil di Lampung biasanya juga menangani pisang goreng siap saji atau pisang 123 untuk konsumen harian. Namun cavendish untuk program gizi besar menuntut perencanaan matang. Pembatalan di hari Minggu sore justru membuat seluruh investasi pematangan terancam sia-sia.

Janji alih dapur yang tak kunjung pasti

Alasan yang disampaikan Effendi adalah dapur di Bandar Lampung terkena suspend. Ia berjanji akan mencarikan lemparan ke dapur lain agar 14 peti tersebut tetap terserap. Imam setuju menunggu sambil menyimpan buah di gudang pendingin sederhana.

Dua hari berlalu tanpa kabar kepastian. Imam menyatakan, “Dia bilang akan mencarikan lemparan ke dapur lain. Tapi sampai batas waktu yang dijanjikan tidak ada kepastian.” Ia akhirnya harus mencari pembeli alternatif di pasar Metro agar kerugian tidak total.

Dalam laporan Optimaise News, kasus ini menyoroti kerentanan pedagang buah lokal saat berhadapan dengan rantai suplai program pemerintah yang bisa berubah mendadak. Tanpa uang muka atau jaminan tertulis, risiko penuh jatuh ke pihak pemasok kecil.

Imam tetap berharap stok cavendishnya laku di kalangan pengecer atau warung makan. Ia juga menjual pisang ambon dan pisang kepok sebagai penyeimbang stok harian. Pengalaman ini menjadi pelajaran keras soal komunikasi yang lebih ketat ke depan.

Peristiwa di Kota Metro ini mengingatkan bahwa pisang bukan sekadar komoditas harian. Ketika volume besar digandeng program gizi gratis, ketidakpastian operasional dapur bisa langsung memukul pedagang di hilir. Optimaise News terus memantau dampak serupa di wilayah Lampung lainnya.

Adel
Redaktur Tren

Adel adalah redaktur tren Optimaise News. Meliput Google Trends, topik viral, dan isu hangat harian di Indonesia. Menyusun artikel tren agar pembaca paham kenapa topik naik dan apa konteksnya, bukan hanya meniru judul yang sedang ramai.