Jakarta, Optimaise News – Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh (56) mengumumkan bahwa ia telah membuktikan target dana pensiun sebesar Rp1 miliar lewat perencanaan disiplin. Ia merancang program bersama PT Taspen dan berkeyakinan insya Allah mencapai angka itu saat memasuki masa pensiun.
Inti artikel
- Ia merancang program bersama PT Taspen dan berkeyakinan insya Allah mencapai angka itu saat memasuki masa pensiun
- Kunci optimalisasi manfaat hari tua ASN, menurutnya, terletak pada investasi bertahap plus komitmen menabung yang rutin
- Optimaise News menelisik gap antara skema reguler dan simulasi gaji tunggal yang membuka ruang proyeksi jauh lebih tinggi
Kunci optimalisasi manfaat hari tua ASN, menurutnya, terletak pada investasi bertahap plus komitmen menabung yang rutin. Optimaise News menelisik gap antara skema reguler dan simulasi gaji tunggal yang membuka ruang proyeksi jauh lebih tinggi.
Batas Dana Pensiun Reguler Versi UU 1969
Dasar hukum lama membatasi besar pensiun paling banyak 75 persen dari gaji pokok terakhir sebulan. Tunjangan keluarga, pangan, jabatan, umum, hingga tukin tidak dimasukkan ke basis perhitungan pensiun reguler.
Contoh konkret: PNS golongan IV/e dengan masa kerja 32 tahun menerima gaji pokok Rp6,37 juta menurut PP No. 5 Tahun 2024. Pensiun yang diterima hanya berkisar Rp4,77 juta per bulan. Angka ini sering menjadi kejutan bagi banyak ASN yang terbiasa melihat take-home pay jauh lebih besar.
Itulah sebabnya konsep dana pensiun adalah instrumen tambahan yang semakin diperhatikan, baik di lingkungan ASN maupun skema perusahaan besar. Perbandingan dengan skema serupa di BUMN menjadi relevan.
Simulasi Single Salary DJP dan Proyeksi 75 Persen

Perpres No. 37 Tahun 2015 menetapkan tukin DJP pelaksana sekitar Rp5,36 juta sampai Rp7,67 juta. Pejabat struktural eselon III hingga I di DJP bahkan bisa memperoleh tukin Rp42,05 juta hingga Rp117,37 juta.
Simulasi single salary eselon I DJP menggabungkan gaji pokok plus tukin menjadi total sekitar Rp123,74 juta (Rp6,37 juta + Rp117,37 juta). Bila 75 persen dari basis itu diterapkan, proyeksi pensiun bulanan mencapai sekitar Rp92,80 juta.
| Komponen | Nominal (Rp) |
|---|---|
| Gaji pokok IV/e | 6.370.000 |
| Tukin pelaksana DJP | 5.360.000, 7.670.000 |
| Tukin eselon III, I DJP | 42.050.000, 117.370.000 |
| Total single salary eselon I | 123.740.000 |
| Proyeksi pensiun 75% | 92.800.000 |
| Pensiun reguler contoh IV/e | 4.770.000 |
Tabel di atas memperlihatkan jarak yang sangat lebar antara skema reguler dan simulasi single salary. Perencanaan tambahan menjadi mutlak bila target miliaran rupiah ingin diwujudkan.
Disiplin Menabung ASN Dibanding Skema BUMN
Zudan menekankan investasi bertahap dan kebiasaan menabung konsisten sebagai fondasi. Program yang disusun bersama PT Taspen memberi kerangka formal agar akumulasi berlangsung terukur hingga masa pensiun tiba.
Di sektor swasta dan BUMN, skema seperti dana pensiun telkom atau dana pensiun pertamina sudah lama dikenal sebagai pelengkap jaminan hari tua. Dana pensiun astra juga menawarkan model serupa yang menekankan kontribusi rutin karyawan plus perusahaan. Model-model itu memberi pelajaran bahwa angka miliaran hanya tercapai bila adisi bulanan digabung dengan return investasi yang stabil.
Bagi ASN, kombinasi pensiun reguler, tunjangan yang tidak masuk basis, plus instrumen tambahan dari Taspen menjadi jalan realistis menuju target Rp1 miliar. Tanpa disiplin jangka panjang, gap antara gaji aktif dan pensiun reguler tetap menganga lebar.







