Jakarta, Optimaise News – Komunitas SkeNU merilis Panduan Salat Anak Skena pada Jumat 7 Agustus 2026 sebagai karya zine ketiga yang menargetkan anak muda urban. Format ringan dipilih agar makna gerakan salat terbaca tanpa gaya bahasa fikih kaku.
Inti artikel
- Komunitas SkeNU merilis Panduan Salat Anak Skena pada Jumat 7 Agustus 2026 sebagai karya zine ketiga yang menargetkan anak muda urban
- Format ringan dipilih agar makna gerakan salat terbaca tanpa gaya bahasa fikih kaku
- Ilustrator M Iqbal menjelaskan di wawancara detikPagi bahwa salat sering berhenti di tingkat rutinitas
Ilustrator M Iqbal menjelaskan di wawancara detikPagi bahwa salat sering berhenti di tingkat rutinitas. Ia ingin karya ini jadi penyegar agar ibadah ikut menolong urusan emosi harian, sekaligus mengajak anak muda berhenti sejenak dari kesibukan.
Rangkaian zine SkeNU dari doa skena hingga isu Palestina
Adli Muaddib, pengurus media SkeNU, menegaskan Panduan Salat Anak Skena merupakan zine ketiga. Karya pertama membahas doa-doa yang akrab di kalangan anak skena. Karya kedua menyinggung isu Palestina.
Menurut Adli, pilihan tema kali ini muncul karena generasi muda urban butuh pemaknaan yang lebih dekat. Gerakan yang berulang tanpa arti hanya menambah jarak. Zine ini disusun agar salat terasa relevan dengan hidup sehari-hari mereka.
Optimaise News mencatat bahwa pola trilogy zine SkeNU menunjukkan konsistensi komunitas dalam mengemas nilai keagamaan lewat bahasa visual anak muda. Setiap edisi memilih titik masuk berbeda, dari doa personal, solidaritas, hingga bahasa tubuh salat.
Rukuk digambar sebagai ruang melenturkan ego

Salah satu potongan konten membahas rukuk. Gerakan menunduk digambarkan sebagai cara menurunkan diri dan melembutkan ego. Kutipan di zine menekankan bahwa dulu tunduk sering dipandang lemah, padahal orang paling kuat justru tahu kapan harus merendah.
Iqbal menilai kerangka semacam ini membantu pembaca melihat salat sebagai solusi emosi, bukan sekadar daftar gerakan. Ketika ego dilunakkan lewat rukuk, tekanan harian ikut diturunkan. Pendekatan visual membuat pesan tersebut lebih mudah diserap daripada teks formal semata.
Ilustrasi yang ia kerjakan dirancang agar pembaca muda merasakan jeda. Dari kesibukan, mereka diajak menyimak makna lebih dalam tanpa merasa digurui. Bahasa yang akrab dengan budaya skena menjadi jembatan utama.
Kenapa format zine cocok untuk anak muda urban
Zine memungkinkan cerita visual dan teks pendek berpadu. SkeNU memanfaatkan ruang itu agar makna salat tidak terasa jauh dari pengalaman emosional pembaca. Bahasa fikih yang kaku diganti uraian yang menyentuh persoalan sehari-hari.
Iqbal menekankan kebutuhan penyegaran. Ia melihat banyak orang muda menjalankan salat hanya karena kebiasaan. Ketika makna digali ulang, gerakan repetitif berubah menjadi tools mengelola perasaan dan melepaskan beban.
Adli menambahkan bahwa output zine ini lahir dari upaya mengartikulasikan salat agar lebih mudah dipahami. Teman-teman urban, katanya, membutuhkan pemaknaan itu. Kolaborasi dengan Iqbal memperkuat sisi visual yang dekat dengan selera skena.





