Jakarta, Optimaise News – Latihan gabungan Ulchi Freedom Shield Amerika Serikat dan Korea Selatan dijadwalkan dimulai 17 Agustus 2026 selama 11 hari. Fokus utama bergeser ke perang drone, gangguan GPS, dan serangan siber menyusul penilaian bahwa pasukan Korea Utara membawa pelajaran tempur dari front Rusia-Ukraina.
Inti artikel
- Latihan gabungan Ulchi Freedom Shield Amerika Serikat dan Korea Selatan dijadwalkan dimulai 17 Agustus 2026 selama 11 hari
- Kolonel Ryan Donald, juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS-Korea Selatan, menegaskan jadwal itu
- Latihan melibatkan sekitar 18.000 personel Korea Selatan dan kontingen AS di semenanjung yang berjumlah 28.500 orang
Kolonel Ryan Donald, juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS-Korea Selatan, menegaskan jadwal itu. Latihan melibatkan sekitar 18.000 personel Korea Selatan dan kontingen AS di semenanjung yang berjumlah 28.500 orang. Dalam rangkuman Optimaise News, pergeseran prioritas ini membedakan edisi 2026 dari agenda musim panas rutin sebelumnya.
Jadwal dan skala latihan gabungan mulai 17 Agustus
Ulchi Freedom Shield berlangsung 11 hari mulai pertengahan Agustus. Donald menegaskan partisipasi pasukan Korsel dan kehadiran kontingen AS yang menetap di semenanjung.
Skala personel besar diarahkan pada skenario modern, bukan hanya manuver konvensional. Latihan rutin ini kini diposisikan sebagai jawaban atas ancaman hybrid yang dianggap berkembang cepat di kawasan.
Ancaman hybrid: drone, gangguan GPS, serta siber jadi prioritas baru

Perhatian utama tahun ini diarahkan pada perang drone, gangguan sistem GPS, dan serangan siber. Ketiga domain itu dinilai paling relevan setelah analisis taktik yang diamati di medan Ukraina.
Menurut Donald, pasukan Korea Utara telah mengambil pelajaran di medan Ukraina lalu membawanya kembali ke dalam negeri. Hal itu memaksa perencana latihan menaikkan porsi skenario hybrid, bukan hanya manuver darat klasik.
Pembaca di Asia tenggara, termasuk Indonesia, merasakan dampak tidak langsung lewat lonjakan pencarian topik keamanan semenanjung. Sintesis ancaman drone-GPS-siber membuat edisi latihan 2026 lebih berorientasi teknologi daripada sekadar gladi musiman.
Pengalaman tempur Korut di Ukraina dan dampaknya ke semenanjung
Sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, Korea Utara mempererat hubungan dengan Moskow. Analis menyebutkan Pyongyang mengirim pasukan dan amunisi dengan imbalan bantuan finansial, pangan, energi, dan teknologi militer.
Pada 2024 diperkirakan sekitar 14.000 tentara Korea Utara dikirim ke wilayah Kursk. Vladimir Putin dan Kim Jong Un menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada Juni 2024 di Pyongyang.
Pejabat intelijen militer Ukraina menyebut unit rudal Korea Utara dikerahkan ke Rusia barat, dengan kemungkinan 120 rudal balistik dan enam peluncur. Pengalaman itu dinilai berpotensi memengaruhi doktrin di semenanjung Korea.
Tawaran dialog Lee Jae Myung versus kecaman Pyongyang
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, yang menjabat sejak Juni 2025, menawarkan dialog tanpa prasyarat kepada Pyongyang. Pemerintah Korea Utara hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.
Di sisi lain Pyongyang, dikutip AFP, mengecam latihan sebagai gladi bersih untuk invasi. Kontras ini menonjol: kebijakan moderat Seoul membuka jalur dialog, sementara militer tetap melanjutkan latihan skala besar karena absennya respons Pyongyang.
Berdasarkan sumber yang dihimpun Optimaise News, absennya balasan atas tawaran Lee memperkuat alasan Seoul dan Washington mempertahankan kesiapan militer. Tanda-tanda simbolik seperti bendera Korea Utara tetap muncul di isu-isu publik, namun jalur politik tetap beku.
Angka pasukan dan proyeksi ancaman regional dari klaim Zelensky
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, lewat pesan media sosial pada hari Minggu, menyatakan keputusan menempatkan 30.000 hingga 50.000 warga Korea Utara di wilayah Rusia. Angka atasnya lebih tinggi dari perkiraan Juli sekitar 30 ribu.
Zelensky menilai pengalaman itu berpotensi menjadi ancaman bagi negara-negara kawasan Pasifik. Ia juga meminta Korea Selatan mendukung penguatan pertahanan udara Ukraina dan menyebut kesiapan kerja sama terkait drone.
Klaim itu melengkapi data personel latihan AS-Korsel dan menegaskan mengapa fokus hybrid 2026 digarisbawahi pejabat di Seoul dan Washington. Proyeksi regional membuat pembaca di luar semenanjung tetap relevan mengikuti eskalasi ini.







