Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (APKONIK) Deny Irawan mengungkapkan utilisasi industri elektronik nasional hanya 65 persen. Angka itu keluar dalam dialog Manufacture Check CNBC Indonesia tanggal 21 Juli 2026 dan dipublikasikan 26 Juli 2026.
Inti artikel
- Angka itu keluar dalam dialog Manufacture Check CNBC Indonesia tanggal 21 Juli 2026 dan dipublikasikan 26 Juli 2026
- Pelemahan daya beli masyarakat plus serbuan produk impor menjadi dua tekanan sekaligus
- Deny Irawan menekankan pelemahan daya beli masyarakat langsung menekan permintaan barang elektronik di dalam negeri
Pelemahan daya beli masyarakat plus serbuan produk impor menjadi dua tekanan sekaligus. Strategi survival yang ditawarkan jelas: genjot efisiensi biaya, jaga pasar domestik, lalu buka jalur ekspor baru agar pabrik tetap berputar.
Dua Tekanan Utama yang Bikin Utilisasi Elektronik Anjlok
Deny Irawan menekankan pelemahan daya beli masyarakat langsung menekan permintaan barang elektronik di dalam negeri. Konsumen menahan belanja, stok menumpuk, mesin pabrik idle.
Serbuan produk impor memperparah kondisi. Barang luar masuk dengan harga lebih murah, menggerus pangsa pasar produsen lokal. Gabungan dua faktor ini membuat tingkat utilisasi hanya 65 persen, jauh di bawah kapasitas ideal.
Bagi pelaku industri, angka tersebut berarti jam kerja berkurang dan risiko pemutusan kontrak temporary meningkat. Pekerja di lini produksi merasakan dampak paling cepat.
Jurus Efisiensi dan Jaga Pasar Domestik ala APKONIK

APKONIK mendorong seluruh anggotanya menjaga pasar existing dulu. Jangan lepas pelanggan lama di tengah kelesuan. Fokus pada penekanan biaya produksi tanpa korbankan kualitas.
Efisiensi dilakukan lewat optimalisasi rantai pasok dan pengurangan pemborosan energi. Deny Irawan menekankan langkah ini harus cepat agar cash flow perusahaan tetap sehat.
Dengan menekan biaya, industri lokal masih punya ruang bersaing di pasar domestik meski daya beli lemah. Langkah ini jadi fondasi sebelum melangkah ke ekspor.
Regulasi Pemerintah yang Diharapkan Pelaku Industri Lokal
Pelaku usaha meminta dukungan regulasi konkret dari pemerintah. Mereka ingin aturan yang melindungi pasar dalam negeri dari banjir impor sekaligus mempermudah akses bahan baku.
Deny Irawan menyatakan regulasi yang pro-industri lokal akan mempercepat pemulihan utilisasi. Tanpa payung kebijakan, efisiensi internal saja tidak cukup menahan serbuan produk luar.
Dukungan ini mencakup kemudahan perizinan dan insentif fiskal yang tepat sasaran. Tujuannya sederhana: industri elektronik nasional bisa tumbuh dan menyerap tenaga kerja lebih banyak.
Cara Tingkatkan Daya Saing: Kualitas, Inovasi, Kecepatan
Daya saing ditingkatkan lewat tiga pilar yang disebut Deny Irawan: kualitas produk, inovasi desain, dan kecepatan produksi. Kualitas menjaga kepercayaan konsumen lama.
Inovasi membuat produk lokal punya nilai beda dibanding barang impor. Kecepatan produksi memastikan pesanan terpenuhi tepat waktu, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Ketiga elemen ini dikemas sebagai paket. Industri yang hanya unggul di satu sisi akan kalah. Optimaise News mencatat bahwa pendekatan simultan ini jadi pembeda strategi APKONIK.
Perkuat Ekosistem Dalam Negeri Sambil Perluas Ekspor Global
Ekosistem industri elektronik dalam negeri harus dilengkapi dulu. Rantai pasok komponen, jasa pendukung, dan tenaga terampil harus saling terhubung agar kompetitif.
Baru setelah fondasi dalam negeri kuat, perluasan pasar ekspor global bisa digarap serius. Deny Irawan menegaskan ekspor bukan pelarian, melainkan kelanjutan logis dari efisiensi dan penguatan pasar domestik.
Dialog 21 Juli 2026 menunjukkan urgensi isu. Lima hari kemudian berita masih relevan karena utilisasi 65 persen belum berubah. Paket solusi efisiensi-regulasi-inovasi-ekspor ditawarkan sebagai satu kesatuan survival.
Bagi pekerja dan pelaku usaha, ini artinya ada jalan keluar yang jelas. Bukan cuma menunggu daya beli pulih, melainkan aktif mengendalikan biaya dan mencari pembeli baru di luar negeri.







