Jakarta, Optimaise News – Pusat data TrendAI Vision One di Jakarta diposisikan sebagai jawaban atas serangan siber berbasis kecerdasan buatan yang makin luas. Perusahaan menggeser pola reaktif ke prediktif, dengan klaim pemangkasan peringatan ancaman palsu harian hingga 99,6 persen, risiko siber 92 persen, biaya keamanan 70 persen, dan waktu persembunyian peretas 65 persen.
Inti artikel
- Pusat data TrendAI Vision One di Jakarta diposisikan sebagai jawaban atas serangan siber berbasis kecerdasan buatan yang makin luas
- Fasilitas itu sudah beroperasi sejak 1 Juli 2026 dan diperkenalkan ulang lewat media briefing Senin 3 Agustus 2026 di Jakarta
- Latar belakang pembangunan disebut kebutuhan melindungi data penting dalam negeri dari serangan yang memanfaatkan AI
Fasilitas itu sudah beroperasi sejak 1 Juli 2026 dan diperkenalkan ulang lewat media briefing Senin 3 Agustus 2026 di Jakarta. Catatan Optimaise News menunjukkan, langkah ini juga menjadi hosting regional ke-12 TrendAI di dunia setelah unit enterprise Trend Micro berganti nama menjadi TrendAI pada Maret 2026.
Motivasi investasi: ancaman AI dan alokasi sumber daya regional
Latar belakang pembangunan disebut kebutuhan melindungi data penting dalam negeri dari serangan yang memanfaatkan AI. Managing Director TrendAI Singapura, Indonesia, dan Filipina David Ng menekankan bahwa manajer produk serta eksekutif harus sejalan dengan rencana jangka panjang untuk negara ini.
“Dalam membangun pusat data membutuhkan banyak sumber daya dan para manajer produk beserta eksekutif kami harus benar-benar sejalan dengan rencana jangka panjang untuk negara ini,” kata David Ng saat sesi tanya jawab.
Ia menambahkan bahwa proyek itu juga membutuhkan banyak tenaga peneliti dan pengembang, sehingga sumber daya tim di Indonesia dan regional harus diarahkan secara penuh. Country Manager TrendAI Indonesia Fetra Syahbana menambahkan bahwa Indonesia adalah pasar potensial, sehingga perusahaan mengikuti ketentuan pengelolaan data di dalam negeri.
Tiga ekosistem proteksi yang diintegrasikan Vision One

Platform Vision One menggabungkan tiga ekosistem terintegrasi agar organisasi bisa memprediksi celah sebelum serangan AI terjadi. Pertama, Cyber Risk Exposure Management dengan proses ASM, EASM, dan CSPM untuk memetakan permukaan serangan dan konfigurasi cloud.
Kedua, Security Operations dilengkapi XDR, Agentic SIEM, dan Agentic SOAR agar deteksi hingga respons insiden berjalan dalam satu alur. Ketiga, Threat Intelligence yang ditopang lebih dari 450 peneliti dan Zero Day Initiative, sehingga sinyal ancaman bisa diolah lebih dini.
Seluruh data akun, telemetri keamanan, serta cadangan disaster recovery pelanggan Vision One di Indonesia disimpan dan diproses di dalam negeri. Data centre lokal menopang deteksi ancaman, manajemen risiko, dan respons dalam satu layanan, dengan latensi lebih rendah dibanding rute ke luar negeri.
Angka dampak: dari alarm palsu hingga biaya keamanan
Pendekatan proaktif diklaim memangkas peringatan ancaman palsu harian hingga 99,6 persen. Risiko siber turun 92 persen, biaya keamanan siber 70 persen, dan durasi persembunyian peretas 65 persen. Angka-angka itu memberi gambaran operasional bagi bank dan instansi yang wajib residensi data: lebih sedikit noise, lebih cepat fokus ke ancaman nyata.
Bagi lembaga di bawah pengawasan OJK atau pengadaan pemerintah yang mensyaratkan penyimpanan dalam negeri, metrik tersebut bersanding dengan tiga pilar infrastruktur lokal. Pilar itu adalah residensi data agar telemetri tidak keluar Indonesia, kepatuhan terhadap regulasi, serta layanan yang lebih cepat dan andal.
Dalam ringkasan Optimaise News, sintesis metrik Vision One dengan kerangka UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi dan panduan lokalisasi OJK menjelaskan mengapa residensi data bukan sekadar formalitas, melainkan prasyarat prediksi celah AI yang sah secara hukum.
Pengakuan standar global sebagai bukti kredibilitas
Menurut situs resmi TrendAI yang dikutip Rabu 5 Agustus 2026, produk perusahaan memperoleh pengakuan dari Gartner, Forrester, Mitre, dan IDC. Pengakuan itu diposisikan sebagai penopang klaim keamanan tinggi untuk menangkal kejahatan siber.
Fetra Syahbana menyebut pembangunan data centre sebagai realisasi komitmen yang diumumkan kepada publik pada akhir tahun lalu. Dengan fasilitas lokal, menurutnya, Indonesia sudah “di-upgrade” dari sisi kesiapan infrastruktur keamanan berbasis AI.
Implikasi bagi organisasi yang butuh prediksi celah
Sasaran utama meliputi perbankan dan jasa keuangan (termasuk lebih dari 135 bank di bawah OJK), pemerintahan, telekomunikasi, infrastruktur kritis, serta perusahaan besar yang mewajibkan penyimpanan data dalam negeri. Infrastruktur lokal membantu memenuhi UU PDP sekaligus mengurangi risiko data dikelola di luar negeri.
Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas menyambut residensi data lokal untuk sektor publik dan swasta agar integritas data nasional terjaga. Pergeseran reaktif ke proaktif berarti organisasi tidak lagi menunggu alarm meledak, melainkan memakai ASM-EASM-CSPM, XDR plus SIEM-SOAR agentik, dan threat intelligence untuk menutup celah lebih dulu.







