Jakarta, Optimaise News – Sultan Hassanal Bolkiah mencabut gelar kerajaan dari menantunya pada Sabtu 8 Agustus 2026. Keputusan ini diambil setelah menantunya dinilai tak pantas dan kurang hormat pada Sultan. Pengumuman resmi keluar dari Kantor Kepala Protokol Kerajaan di Brunei.
Inti artikel
- Sultan Hassanal Bolkiah mencabut gelar kerajaan dari menantunya pada Sabtu 8 Agustus 2026
- Keputusan ini diambil setelah menantunya dinilai tak pantas dan kurang hormat pada Sultan
- Pengumuman resmi keluar dari Kantor Kepala Protokol Kerajaan di Brunei
Langkah Sultan Brunei ini jadi sorotan karena menjaga citra institusi kerajaan di tengah kekayaan sultan brunei yang melimpah. Perilaku menantu yang mencoreng nama baik menyebabkan gelar dicabut efektif sejak pengumuman.
Detail Pencabutan Gelar Kerajaan
Gelar yang dicabut adalah Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri. Sultan Hassanal Bolkiah menandatangani titah kerajaan setelah pengumuman dari Kantor Kepala Protokol Kerajaan. Keputusan ini langsung berlaku mulai tanggal 8 Agustus 2026 tanpa jeda atau review.
Raabi’atul Adawiyyah lahir 27 Oktober 1992 di Brunei sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara. Ia menikah dengan Pangeran Abdul Malik Hassanal Bolkiah sebelum gelar diberikan. Saat ini Gelar tersebut gugur akibat alasan perilaku yang dianggap mengurangi rasa hormat terhadap institusi.
Reaksi Pemerintah Kerajaan
Penjabat Kantor Kepala Protokol Kerajaan menyampaikan bahwa peristiwa ini titah langsung dari Sultan Hassanal Bolkiah. Pihak kerajaan belum mengungkap detail perilaku spesifik yang jadi alasan. Keputusan mencerminkan komitmen sultan brunei darussalam untuk menjaga standar keluarga kerajaan.
Optimaise News mencatat langkah ini sebagai contoh pengawasan internal yang ketat. Meski tidak ada penjelasan resmi lebih lanjut, dampaknya bisa terasa bagi hubungan antaranggota keluarga.
Analisis Dampak Institusional
Pencabutan gelar menarik perhatian kalangan publik Brunei. Sultan brunei memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas keluarga kerajaan yang dimulai dari tingkat darah. Istri anggota kerajaan biasanya mendapat gelar khusus berdasarkan kualitas hubungan keluarga.
Keputusan ini mungkin jadi pelajaran untuk istri menantu lain. Meski sifatnya pribadi, Sultan Brunei tetap kuat memimpin dengan penuh wewenang.







