Jakarta, Optimaise News – Sri Mulyani dilantik sebagai Independent Co-Chair ke-22 Asosiasi Pengembangan Internasional (IDA) di Bank Dunia. Tugas utamanya adalah menggalang dana dari negara donor dan peminjam untuk program pendanaan bagi negara termiskin.
Inti artikel
- Sri Mulyani dilantik sebagai Independent Co-Chair ke-22 Asosiasi Pengembangan Internasional (IDA) di Bank Dunia
- Tugas utamanya adalah menggalang dana dari negara donor dan peminjam untuk program pendanaan bagi negara termiskin
- Penunjukan Sri Mulyani meningkatkan citra Indonesia di forum internasional
Penunjukan ini menandakan peran Indonesia yang semakin strategis dalam keuangan pembangunan global, meski Indonesia sudah masuk kategori negara berpenghasilan menengah dan tidak lagi target program IDA.
Dampak Global Reputasi Indonesia dari Penunjukan Sri Mulyani
Penunjukan Sri Mulyani meningkatkan citra Indonesia di forum internasional. Sebagai tokoh dengan pengalaman panjang di keuangan pembangunan multilateral, ia mewakili suara negara yang sudah lulus dari target kemiskinan ekstrem.
Optimaise News mencatat bahwa posisi ini memungkinkan Indonesia lebih terlihat sebagai mitra andal di bidang kebijakan pembangunan. Sri Mulyani yang kini bagian dari Blavatnik World Leaders Fellow 2025-2026 di Oxford University akan membawa perspektif dari pengalamannya sebagai Menteri Keuangan Indonesia pertama dan mantan Manajer Direktur Bank Dunia.
Peran Indonesia sebagai Donor IDA dengan Kontribusi 0.13 Persen
Indonesia menduduki peringkat 28 sebagai donor terbesar ke IDA dengan kontribusi hanya 30 juta dolar AS atau 0,13 persen dari total dana. Bank Dunia menjelaskan bahwa Indonesia bukan lagi target program IDA karena sudah lulus status negara miskin.
Menurut pantauan Optimaise News, kontribusi rendah ini menjadi catatan penting. Namun, pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan eksistensi Sri Mulyani dan tokoh-tokoh lain dengan pengaruh global sebagai duta besar Indonesia di forum multilateral.
Kandungan Potensial untuk Tingkatkan Pendanaan Internasional
IDA22 yang akan digelar pertemuan tinjauan tengah periode di Tashkent, Uzbekistan, Desember 2026 akan menentukan besaran pendanaan konsesional untuk 78 negara hingga 2031. Pertemuan final penyampaian komitmen pendanaan dijadwalkan Desember 2027.
Sri Mulyani akan memimpin proses penggalangan pendanaan bersama Paschal Donohoe. Dana ini akan dialokasikan untuk infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan di negara berpendapatan rendah.
Reaksi Ahli terhadap Rekomendasi Presiden sebagai Duta Besar
Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina menyarankan agar Indonesia tingkatkan donasi ke IDA agar meningkatkan peringkat secara internasional. Ia menekankan bahwa sosok seperti Sri Mulyani patut dijadikan duta besar untuk memperkuat citra positif Indonesia.
Presiden perlu langsung menyampaikan mandat sebagai envoy internasional kepada tokoh-tokoh seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Retno Marsudi, Gita Wirjawan, dan Sandiaga Uno. Esther Sri Astuti dari Indef menilai penunjukan Sri Mulyani memberikan dampak positif pada reputasi global dan kepercayaan investor.
Proses Seleksi Komite Donor dan Peminjam untuk IDA22
Penunjukan Sri Mulyani dilakukan setelah diseleksi komite yang terdiri dari perwakilan negara donor dan peminjam. Komite ini memilih dari daftar pendek kandidat dengan mempertimbangkan pengalaman dalam pembiayaan pembangunan internasional.
IDA dibentuk tahun 1960 dan telah salurkan lebih dari 632 miliar dolar AS sejak pendiriannya. Pertemuan IDA biasanya digelar setiap tiga tahun sekali untuk mengumpulkan dana baru dan mereview kebijakan.






