Spanyol mengunci double Euro dan Piala Dunia lewat gol pemain pengganti di extra time. Mereka mematahkan ambisi Argentina juara berturut-turut dalam final yang didominasi satu arah.
Skor 1-0 final di Stadion MetLife, New Jersey, digapai Ferran Torres menit 106. Argentina gagal mempertahankan gelar 2022 dan keok dengan sepuluh pemain.
Pemain Cadangan Memutus Kebuntuan di Menit 106
Ferran Torres masuk dari bangku cadangan, bukan starter penuh 90 menit. Ia menyelesaikan final lewat sundulan dari umpan Nico Williams di menit 106. Gol itu jadi satu-satunya yang pecah sepanjang 120 menit plus injury time.
Spanyol menguasai tempo sejak peluit awal. Peluang demi peluang datang dari sayap kiri dan tengah. Torres tinggal menuntaskan kerja kolektif rekan-rekannya di babak tambahan.
Posisi cadangan justru mempertegas nilai gol tersebut. Pelatih Luis de la Fuente percaya stok bangku cadangan mampu memutus kebuntuan. Keputusan itu terbukti tepat di New Jersey.
Sepuluh Pemain Argentina Bertahan hingga Babak Tambahan

Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua di akhir babak kedua. Argentina terpaksa bertahan dengan sepuluh orang hingga perpanjangan waktu. Emiliano Martinez membuat serangkaian penyelamatan krusial untuk menahan laju Spanyol.
Dominasi teritorial La Roja hampir mutlak. Argentina baru melepaskan tembakan pertama di menit 126. Momen itu datang jauh setelah mereka kehilangan satu pemain dan tertinggal skor.
Kondisi sepuluh lawan satu arah memaksa Albiceleste bertahan total. Tembakan sporaadis mereka tidak mengancam gawang Unai Simon. Statistik laga memperlihatkan betapa ekstremnya tekanan Spanyol.
Benteng La Roja: Hampir Tanpa Celah Sepanjang Turnamen

Spanyol hanya kebobolan satu gol dari delapan laga di Piala Dunia 2026. Rekor tak terkalahkan mereka tetap utuh hingga final. Pertahanan solid jadi fondasi utama juara dunia kedua.
Blok belakang La Roja jarang memberi ruang tembak bersih. Martinez sempat diganggu berkali-kali di babak pertama dan kedua, namun bola tetap tidak masuk. Konsistensi ini membedakan skuad de la Fuente dari juara-juara sebelumnya.
Penguasaan bola dan tembakan akurat mendukung benteng tersebut. Spanyol jarang kehilangan kontrol di sepertiga tengah. Hasil final 1-0 hanya menegaskan pola yang sudah berjalan sejak fase grup.
Dari Johannesburg 2010 ke New Jersey 2026: Gelar Dunia Kedua
Gelar Piala Dunia kedua Spanyol tiba 16 tahun setelah kemenangan di Afrika Selatan. Saat itu mereka menang lewat gol Andres Iniesta di final. Kali ini Ferran Torres yang menulis sejarah serupa di Amerika Serikat.
Perjalanan panjang dari Johannesburg ke MetLife Stadium menunjukkan regenerasi sukses. Generasi baru La Roja tidak lagi bergantung pada nama-nama era tiki-taka. Mereka justru mengandalkan intensitas dan kedalaman skuad.
Argentina gagal menjadi juara berturut-turut seperti impian banyak pendukung. Kegagalan back-to-back ini menutup era dominasi singkat pasca 2022. Spanyol naik tahta dengan cara yang jauh lebih terkontrol.
Proyek de la Fuente Menyambung Mahkota Eropa ke Trofi Dunia
Double Euro 2024 plus Piala Dunia 2026 menjadi puncak proyek pelatih Luis de la Fuente. Ia membangun fondasi yang menyambungkan mahkota Eropa langsung ke trofi dunia. Bukan sekadar daftar gelar historis, melainkan hasil kerja sistematis tiga tahun.
Catatan menarik, skuad Spanyol di turnamen ini tanpa satu pun pemain Real Madrid. Pilihan de la Fuente memperlihatkan keberanian lepas dari raksasa liga domestik. Ia mengandalkan pemain-pemain yang cocok dengan skema, bukan sekadar label klub besar.
Liputan Optimaise News mencatat bagaimana proyek ini berjalan konsisten dari kualifikasi hingga final. Rotasi cerdas dan kepercayaan pada pemain cadangan seperti Torres menjadi ciri khas. Hasil 1-0 di New Jersey mengunci warisan de la Fuente di sejarah sepak bola Spanyol.
Generasi ini kini berdiri sejajar dengan juara 2010. Mereka membuktikan bahwa double kontinental dan dunia masih mungkin di era modern. Optimaise News melihat final ini sebagai penutup sempurna siklus panjang pembangunan skuad.






