Sulawesi Selatan, Optimaise News – Rangga, remaja 15 tahun asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, bertahan hingga babak Top 42 D’Academy 8. Baginya kompetisi dangdut ini menjadi jalan nyata mengangkat derajat orang tua, bukan sekadar unjuk bakat di layar Indosiar.
Inti artikel
- Rangga, remaja 15 tahun asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, bertahan hingga babak Top 42 D’Academy 8
- Baginya kompetisi dangdut ini menjadi jalan nyata mengangkat derajat orang tua, bukan sekadar unjuk bakat di layar Indosiar
- Target juara sudah ia bawa sejak awal
Target juara sudah ia bawa sejak awal. Awalnya aktif di genre pop, Rangga memilih meninggalkan zona nyaman demi misi keluarga. Optimaise News merangkum langkah disiplin sang finalis muda yang sudah berlatih dangdut sejak kelas dua SD.
Ambisi Juara yang Dilatari Harapan Orangtua
Rangga datang ke D’Academy 8 dengan satu tujuan jelas. Ia ingin juara agar orang tua bangga dan derajat keluarga terangkat. Ambisi itu bukan omongan kosong di panggung, melainkan beban moral yang ia rasakan setiap hari di karantina.
Usia belasan tahun tak membuatnya ragu. Ia mengaku yakin orang tua di Bantaeng selalu mengikuti penampilannya. Tekanan itu justru ia ubah menjadi bahan bakar untuk terus berlatih.
Bagi Rangga, kemenangan di kompetisi dangdut nasional berarti peluang mengubah nasib. Ia tak ingin hanya dikenal sebagai penyanyi remaja. Ia ingin jadi bukti bahwa anak daerah bisa membawa pulang kebanggaan besar.
Pemicu Afan dan Bekal Latihan Sejak Kelas Dua SD

Ketertarikan Rangga pada dangdut bermula dari layar kaca. Ia terpikat penampilan Afan, alumni D’Academy 5. Gaya vokal dan panggung Afan membuatnya berani beralih dari jalur pop yang semula digeluti.
Bekal itu tidak muncul tiba-tiba. Rangga sudah mulai berlatih menyanyi dangdut sejak duduk di kelas dua SD. Latihan rutin di kampung halaman membentuk fondasi nada dan pernapasan yang kini ia andalkan di studio Emtek Indosiar.
Peralihan genre terasa berat di awal. Namun tontonan Afan memberi gambaran konkret bahwa dangdut bisa digarap dengan karakter kuat. Rangga memutuskan totalitas, meninggalkan zona nyaman pop demi fokus penuh di D’Academy 8.
Disiplin Harian di Karantina demi Stabilitas Vokal

Di karantina, Rangga menerapkan disiplin ketat. Ia menjaga vokal dengan istirahat terukur dan pola makan yang dibatasi. Setiap menu dipilih agar tenaga stabil saat latihan dan penampilan live.
Rutinitas harian penuh latihan vokal, koreografi, dan evaluasi coach. Ia sadar satu kesalahan kecil bisa mengorbankan posisi di Top 42. Stabilitas nada menjadi prioritas utama di antara peserta lain yang juga ambisius.
Tekanan kompetisi membuatnya lebih waspada. Ia menghindari makanan berminyak dan menjaga hidrasi. Bagi remaja 15 tahun, disiplin semacam itu terasa berat, tapi ia terima sebagai harga yang harus dibayar demi target juara.
Syukur Tembus Babak Lanjutan dan Dukungan Coach
Rangga mengaku bersyukur berhasil lolos ke babak Top 42. Ia merasa orang tua di Bantaeng pasti bangga melihat progresnya. Rasa syukur itu ia sampaikan tanpa berlebihan, sambil tetap waspada terhadap babak berikutnya.
Dukungan coach di karantina menjadi penopang mental. Masukan teknis soal teknik vokal dan panggung membuat penampilannya lebih matang. Rangga menerima kritik sebagai bekal, bukan beban.
Posisi Top 42 belum jadi akhir. Ia sadar kompetisi semakin ketat. Namun rasa bangga orang tua yang ia bayangkan di rumah memberi tenaga ekstra setiap kali tampil di depan juri.
Fokus Kompetisi Usai Meninggalkan Zona Nyaman Pop
Keputusan meninggalkan pop bukan tanpa risiko. Rangga sempat ragu apakah karakter suaranya cocok total di dangdut. Namun latihan panjang sejak SD membuat transisi itu terasa lebih natural di atas panggung.
Kini seluruh fokusnya hanya pada D’Academy 8. Ia tidak lagi memikirkan genre lama. Target juara dan misi mengangkat derajat keluarga menjadi kompas tunggal di setiap penampilan.
Optimaise News mencatat bahwa Rangga mewakili wajah peserta muda daerah yang membawa beban keluarga ke kompetisi nasional. Perjalanan dari Bantaeng ke studio Indosiar sudah membuktikan keteguhan. Babak selanjutnya akan menguji apakah ambisi itu berbuah juara.
FAQ Seputar Rangga di D’Academy 8
Siapa Rangga di D’Academy 8?
Rangga adalah peserta berusia 15 tahun asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ia berhasil bertahan hingga babak Top 42 dan membawa target juara demi mengangkat derajat orang tua.
Mengapa Rangga beralih dari pop ke dangdut?
Ia tertarik dangdut setelah menonton penampilan Afan, alumni D’Academy 5. Bekal latihan dangdut yang sudah digeluti sejak kelas dua SD membuat keputusan beralih terasa lebih matang.
Bagaimana Rangga menjaga performa di karantina?
Ia menerapkan disiplin ketat pada vokal dan pola makan. Istirahat terukur serta menu yang dikontrol membantu menjaga stabilitas nada selama latihan dan penampilan di studio Emtek Indosiar.







