Andrea Pirlo mencapai kesepakatan verbal dengan FIGC untuk melatih Timnas Italia. Langkah ini lahir usai Italia gagal lolos Piala Dunia ketiga kali beruntun dan dua pelatih papan atas menolak tawaran.
Inti artikel
- Andrea Pirlo mencapai kesepakatan verbal dengan FIGC untuk melatih Timnas Italia
- Langkah ini lahir usai Italia gagal lolos Piala Dunia ketiga kali beruntun dan dua pelatih papan atas menolak tawaran
- Kontrak dilaporkan berlaku hingga pertengahan 2030 atau setelah Piala Dunia 2030
Kontrak dilaporkan berlaku hingga pertengahan 2030 atau setelah Piala Dunia 2030. Gaji Pirlo sekitar 1,5 juta euro per tahun, hanya 7,5 persen dari proyeksi 20 juta euro Guardiola. Pengesahan resmi diperkirakan Senin-Selasa 27-28 Juli 2026. Proyek fondasi ini menuntut sabar publik Italia selama 8-10 tahun.
Dari Gagal Rekrut Guardiola-Ancelotti ke Pilihan Pirlo
Gennaro Gattuso mundur April 2026 setelah skuad Azzurri kembali gagal lolos Piala Dunia. FIGC lalu mengincar Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti. Kedua nama menolak tawaran itu.
Guardiola memilih sabatikal sambil mempertimbangkan biaya tinggi. Ancelotti masih terikat kontrak dengan Brasil hingga 2030. Pirlo, yang saat ini melatih Dubai United, muncul sebagai pilihan realistis. Pelepasan kontraknya diyakini berjalan lancar.
Rantai peristiwa ini menandai pergeseran dari ambisi instan ke pendekatan jangka panjang. Optimaise News mencatat FIGC tak lagi memburu nama besar mahal setelah dua penolakan beruntun.
Gaji 1,5 Juta Euro: Realisme Finansial FIGC

Angka gaji Pirlo sebesar 1,5 juta euro per tahun jauh di bawah standar pelatih elite. Proyeksi gaji Guardiola mencapai 20 juta euro. Selisih itu menempatkan Pirlo di kisaran 7,5 persen saja.
Realisme finansial ini cocok dengan kondisi federasi pascakegagalan berulang. FIGC menghindari risiko boros sambil tetap mendapat pelatih berpengalaman. Perbandingan tajam ini menjelaskan mengapa proyek fondasi lebih masuk akal ketimbang taruhan mahal yang gagal.
Kontrak empat tahunan hingga 2030 memberi ruang untuk membangun tanpa tekanan hasil instan. Sumber-sumber di Italia dan laporan Romano serta Gazzetta sejalan soal kerangka ini.
Visi Maldini Bangun Identitas Teknik dan Akademi Muda
Paolo Maldini sebagai direktur teknik FIGC mengusulkan nama Pirlo. Usulan itu sejalan dengan visi membangun identitas teknik dan memperkuat akademi usia muda.
Kedekatan keduanya sejak era AC Milan memudahkan komunikasi. Maldini ingin Timnas kembali mengandalkan penguasaan bola dan regenerasi pemain lokal. Pirlo dipandang cocok sebagai peletak fondasi, bukan pencari gelar cepat.
Fokus pada pembibitan muda menjadi inti proyek. Skuad senior akan diperbarui secara bertahap sambil akademi menghasilkan talenta baru untuk Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.
Agenda Awal Nations League Menuju Piala Dunia 2030
Tugas pertama Pirlo adalah menjaga Italia kompetitif di UEFA Nations League. Debut resmi diperkirakan 26 September menghadapi Belgia. Targetnya meraih hasil solid agar momentum positif tercipta.
Setelah itu ia mulai merakit skuad menuju Euro 2028. Proses regenerasi berlanjut hingga kualifikasi Piala Dunia 2030. Agenda ini menuntut kesabaran karena fondasi dibangun dari nol.
Pelepasan dari Dubai United diyakini tidak memakan waktu lama. Pirlo bisa segera fokus pada sesi latihan dan evaluasi pemain potensial di liga domestik.
Mengapa Proyek Kebangkitan Butuh 8-10 Tahun
Italia baru saja mengalami kehancuran kualifikasi ketiga beruntun. Proyek kebangkitan tak mungkin selesai dalam satu atau dua musim. Narasi resmi FIGC menekankan sabar publik selama 8-10 tahun.
Pirlo berperan sebagai peletak fondasi, bukan penyihir hasil instan. Sintesis rantai peristiwa jelas: gagal tiga kali, ditolak dua pelatih top, lalu dipilih opsi murah realistis. Gaji 1,5 juta euro versus 20 juta euro menegaskan skala proyek fondasi ini.
Tanpa sabar, tekanan media dan fans bisa merusak proses. Optimaise News melihat pendekatan ini sebagai jawaban jujur atas krisis identitas Azzurri. Hasil baru akan terasa di Euro 2028 dan memuncak di Piala Dunia 2030.







