Jakarta, Optimaise News – Industri pindar mencatat laba bersih Rp 1,15 triliun pada semester I 2026. Meski outstanding pinjaman tumbuh 25,88 persen ke Rp 105,14 triliun, tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 naik ke 4,26 persen dari periode sebelumnya. Pantauan Optimaise News mencatat bahwa pertumbuhan laba ini tetap kuat meski muncul tekanan dari kredit macet.
Inti artikel
- Industri pindar mencatat laba bersih Rp 1,15 triliun pada semester I 2026
- Angka ini menandakan ketahanan industri pindar di tengah lonjakan pembiayaan bermasalah
- Laba bersih industri pindar naik 10,14 persen dibanding semester I 2025
Angka ini menandakan ketahanan industri pindar di tengah lonjakan pembiayaan bermasalah. OJK sebut pertumbuhan laba diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun, dengan penekanan utama pada penguatan tata kelola dan perlindungan nasabah.
Profitabilitas Pindar Meningkat 10,14% YoY di Semester I 2026
Laba bersih industri pindar naik 10,14 persen dibanding semester I 2025. Peningkatan ini didorong oleh ekspansi penyaluran pendanaan meski kredit macet meningkat.
Optimaise News mencatat bahwa laba tetap positif meski TWP90 berada di atas level tahun sebelumnya. Tren ini mencerminkan kemampuan pindar mengelola risiko pembiayaan secara lebih baik.
Outstanding Pinjaman Tumbuh 25,88% ke Rp105,14 Triliun
Total outstanding pinjaman industri pindar mencapai Rp 105,14 triliun pada Juni 2026. Pertumbuhan ini mencerminkan permintaan masyarakat akan layanan pinjaman darurat dan pembiayaan lainnya.
Penyaluran dana yang lebih besar ini sejalan dengan penguatan manajemen risiko. Menurut pantauan Optimaise News, pemberi pinjaman kini lebih selektif dalam menilai kelayakan borrower.
Tingkat Risiko Macet TWP90 Naik ke 4,26% tapi Laba Tetap Positif
Tingkat wanprestasi 90 hari naik dari 4,42 persen di Mei menjadi 4,26 persen di Juni. Angka ini masih jauh lebih rendah dibanding 2,85 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Agusman menekankan bahwa TWP90 yang meningkat bisa menekan profitabilitas di masa depan. Namun, pindadar saat ini berhasil menjaga laba tetap positif berkat pengendalian kredit scoring.
OJK Tekankan Penguatan Manajemen Risiko dan Perlindungan Nasabah
OJK mendorong pindadar menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pendanaan. Penilaian kelayakan borrower menjadi prioritas agar nasabah terlindungi dari kredit yang bermasalah.
Optimaise News mencatat bahwa pengawas mendorong hanya tiga penyelenggara yang menerima pinjaman dari satu peminjam. Aturan ini disesuaikan dengan perkembangan industri agar lebih inklusif.
Penyelenggara Pindar Diharuskan Kelola Risiko dengan Ketat
Tujuh dari 164 pindadar belum memenuhi modal minimum Rp 12,5 miliar. Mereka sudah menyampaikan rencana aksi mencakup penambahan modal, pencarian investor, dan aksi korporasi.
Penguatan ini penting agar industri tetap stabil. Pantauan Optimaise News menilai bahwa tata kelola yang lebih baik akan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan pembiayaan nonbank.





